Opini

Metode AHWA Bisa Hindari Perpecahan PBNU?

Metode AHWA Bisa Hindari Perpecahan PBNU?
Ilustrasi Muktmar NU/foto: Istimewa

*) Uchok Sky Khadafi

Potensi kemenangan Gus Yahya alias Yahya Staquf untuk merebut ketua Umum PBNU di muktamar NU Lampung sangat besar sekali.

Salah satu faktor kemenangan Gus Yahya adalah dukungan Wakil Ketua DPR, Muhaimin Iskandar, alias Cak Imin kepada Gus Yahya.

Ada kemungkinan nanti dalam pemilihan Ketua Umum PBNU tersebut, gelagat metode pemilihan dengan cara menggiring suara cabang-cabang NU ke arah aklamasi, atau voting, yakni satu suara- satu cabang, tetap saja yang akan menang diprediksi adalah Gus Yahya.

Namun demikian, kemenangan Gus Yahya sebagai Ketua umum PBNU, diprediksi tidak akan diterima, alias ditolak kubu Prof. DR. KH Said Aqil Siradj, MA.

Penolakan itu, kemungkinan dilemparkan dengan berbagai macam alasan, misalnya saja adanya kecurangan dalam pemilihan. Bisa juga, dugaan adanya intervensi pemerintah melalui kementerian Agama kepada cabang cabang NU agar tidak memilih kembali KH Said Aqil Siradj sebagai ketua umum PBNU.

Dengan adanya penolakan terhadap Gus Yahya sebagai Ketua umum PBNU oleh kubu KH Said Aqil Siradj, maka muktamar NU akan melahirkan dua atau tiga PBNU. Pertama, PBNU versi Gus Yahya dan kedua, PBNU versi KH Said Aqil Siradj, dan ketiga, PBNU versi Indonesia Timur.

Untuk menghindari PBNU terbelah menjadi tiga (pasca muktamar NU Lampung), maka persoalan pemilihan ketua Umum sebaiknya jangan diserahkan kepada PCNU dan PWNU secara langsung ataupun melalui voting. Lebih baik, dan lebih maslahah melalui metode pemilihan dengan cara AHWA atau PCNU dan PWNU memilih para kyai sepuh untuk menjadi anggota ahlul halli wal aqdi (AHWA).

Para kyai sepuh inilah yang akan memilih Ketua umum PBNU. Sehingga hal ini bisa menghindari politik uang, pengaruh politisi busuk, dan mengindari PBNU terbelah berkeping-keping.

Yang harus ingat juga, soal komposisi anggota AHWA tidak boleh memasukkan Kyai Ma’ruf Amin sebagai apapun dalam AHWA. Kalau Kyai Ma’ruf Amin ikut sebagai AHWA, ini sama saja, pemerintah ikut campur dalam urusan internal NU.

Dan terakhir, para kyai sepuh akan rapat untuk milih ketua umum PBNU dengan kriteria calon sebagai berikut: pertama tokoh nasional, kedua, memiliki jaringan luas baik secara nasional maupun internasional, dan ketiga, dihormati dan disegani oleh para kyai dan tokoh tokoh NU.

Bila mengacu kepada kriteria AHWA seperti diatas, maka tokoh yang sedang layak saat ini, salah satunya adalah Kyai As’ad Said Ali. Dimana kemunculan Kyai As’ad Said Ali bisa menyatukan kembali warga NU, yang saat ini sedang menuju perpecahan, bukan perpecahaan karena perbedaan wacana, tapi perpecahan konflik fisik yang sangat membahayakan pemerintahan Jokowi. ***

*)Pengamat Kebijakan Publik dan Politik Anggaran

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top