Opini

Memaafkan Gus Yahya

Memaafkan Gus Yahya
Ketua umum DNIKS Effendy Choirie/Foto: DNIKS

*)Ahmad Effendy Choirie

Harlah 100 Tahun Nahdlatul Ulama dan Tantangan NU Memasuki Abad Kedua. Tentu seratus tahun Nahdlatul Ulama bukan sekadar perayaan usia. Ia adalah muhasabah sejarah, uji kedewasaan organisasi, dan penentuan arah masa depan. NU telah melewati zaman kolonial, revolusi, otoritarianisme, hingga demokrasi yang gaduh. Kini, NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang jauh lebih kompleks: fragmentasi internal, polarisasi politik, krisis kepercayaan publik, dan kemiskinan struktural umat.

Di tengah situasi itu, muncul satu isu yang menyita perhatian Nahdliyin: kontroversi kepemimpinan PBNU di bawah Gus Yahya Cholil Staquf.

Memaafkan Bukan Berarti Membenarkan

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, memaafkan (al-‘afwu) adalah akhlak luhur. Tetapi memaafkan tidak identik dengan meniadakan kritik. Kita bisa dan harus memaafkan Gus Yahya sebagai sesama kader NU, sebagai kiai, sebagai manusia yang bisa keliru. Namun NU sebagai jam’iyyah besar tidak boleh kehilangan daya kritis dan mekanisme koreksi.

NU bukan milik individu, bukan milik elite PBNU, apalagi milik kepentingan politik sesaat. NU adalah milik jam’iyyah dan jama’ah, milik warga desa, pesantren, majelis taklim, buruh, petani, nelayan, dan kaum mustadh’afin.

Memaafkan Gus Yahya adalah langkah etik.
Mengoreksi arah NU adalah kewajiban organisatoris dan ideologis.

Bahaya NU yang Terlalu Elitis dan Terlalu Dekat dengan Kekuasaan

Salah satu kritik paling serius di era kepemimpinan sekarang adalah kesan NU makin elitis dan menjauh dari problem riil rakyat. NU tampak sibuk dengan diplomasi global, forum -forum internasional, dan relasi kuasa, sementara:

● Kemiskinan Nahdliyin di desa-desa masih akut
● Akses pendidikan dan kesehatan belum adil
● Buruh migran, petani, dan nelayan NU masih terpinggirkan
● Pesantren kecil kesulitan bertahan secara ekonomi

NU lahir dari keprihatinan sosial, bukan dari ruang-ruang nyaman kekuasaan. Jika NU kehilangan kepekaan sosialnya, maka NU sedang kehilangan ruh pendiriannya.

Abad Kedua NU: Dari Simbol ke Substansi

Memasuki abad kedua, NU menghadapi pilihan sejarah:

1. Menjadi organisasi simbolik yang besar tapi kosong, atau
2. Menjadi kekuatan moral, sosial, dan ekonomi yang nyata bagi umat dan
bangsa

Tantangan NU ke depan bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi menghadirkan solusi
konkret:
● Kemandirian ekonomi warga NU
● Reforma agraria dan keadilan ekologis
● Pendidikan berkualitas berbasis pesantren dan rakyat
● Advokasi kebijakan publik yang berpihak pada wong cilik

NU tidak boleh hanya menjadi penonton kebijakan negara, tetapi harus kembali menjadi
penentu arah moral bangsa.

Rekonsiliasi Internal dan Kembali ke Khittah Sosial

Harlah 100 Tahun NU seharusnya menjadi momentum rekonsiliasi internal, bukan pembungkaman kritik. NU besar justru karena ikhtilaf yang dikelola dengan akhlak, bukan karena keseragaman yang dipaksakan.

Kepada Gus Yahya dan PBNU, kritik dari warga NU seharusnya dibaca sebagai alarm cinta, bukan ancaman. NU tidak akan runtuh karena kritik, tetapi bisa runtuh karena arogansi dan anti -koreksi.

Penutup
Kita maafkan Gus Yahya—demi ukhuwah dan adab. Namun kita tidak boleh memaafkan penyimpangan arah NU dari cita-cita sosial para
muassis.

Abad kedua NU menuntut kepemimpinan yang rendah hati, berani dikritik, dan setia pada penderitaan rakyat. Jika NU kembali berdiri tegak di barisan mustadh’afin, maka NU bukan hanya akan berusia panjang, tetapi bermakna bagi Indonesia dan peradaban dunia.

NU kuat bukan karena dekat dengan kekuasaan, tetapi karena dicintai rakyatnya.

*)Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)

 

BERITA POPULER

To Top