*)Rudi Andries
Usulan Kebijakan DNIKS:
1. Menjadikan MBG sebagai Program Carbon Positive pertama di dunia.
2. Mengintegrasikan Social Circular Carbon Economy (SCCE) dalam seluruh rantai pasok MBG.
3. Mendorong penggunaan biochar, AWD, pertanian regeneratif, peternakan rendah emisi, dan perikanan berkelanjutan sebagai standar pemasok MBG.
4. Mengembangkan MRV karbon pertanian untuk memberikan nilai ekonomi tambahan kepada petani.
5. Menjadikan MBG sebagai platform peningkatan kesejahteraan petani, peternak, nelayan, sekaligus instrumen pencapaian target iklim Indonesia.
Pelantikan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto membuka harapan baru bagi penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini tidak hanya menjadi instrumen pemenuhan gizi bagi jutaan anak Indonesia, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang menjadi penggerak transformasi ekonomi desa, pertanian regeneratif, dan ekonomi karbon nasional.
Selama ini, ekonomi karbon sering dipersepsikan sebatas perdagangan kredit karbon. Padahal, Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun paradigma yang jauh lebih luas, yaitu Social Circular Carbon Economy (SCCE), sebuah sistem ekonomi yang menjadikan karbon sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam konsep SCCE, setiap rantai pasok pangan MBG dirancang menghasilkan manfaat ganda: meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperbaiki lingkungan dan membuka sumber pendapatan baru bagi petani, peternak, serta nelayan.
Produksi padi sebagai pemasok beras MBG, misalnya, dapat menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) yang dipadukan dengan penggunaan biochar. Pendekatan ini terbukti mampu menekan emisi metana, meningkatkan efisiensi penggunaan air, memperbaiki kesehatan tanah, dan mengurangi kebutuhan pupuk kimia. Budidaya sayuran, buah-buahan seperti pisang, pepaya, semangka, dan melon juga dapat memanfaatkan biochar untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki kualitas hasil panen.
Pada sektor peternakan, biochar dapat dicampurkan ke dalam pakan ayam maupun sapi sebagai feed additive. Berbagai penelitian menunjukkan pendekatan ini berpotensi memperbaiki kesehatan sistem pencernaan ternak, meningkatkan efisiensi pakan, sekaligus membantu menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan.
Sementara itu, sektor perikanan juga dapat memperoleh manfaat besar. Pengurangan limpasan nitrogen dan fosfat dari lahan pertanian Regeneratif akan menekan eutrofikasi di waduk, embung, dan danau. Kualitas air meningkat, oksigen terlarut menjadi lebih baik, risiko kematian ikan menurun, dan produktivitas budidaya ikan untuk kebutuhan MBG pun meningkat. Yang tidak kalah penting, limbah biomassa dari seluruh rantai pasok MBG—mulai dari sekam padi, tongkol jagung, limbah sayuran, hingga kotoran ternak—dapat diolah melalui proses pirolisis menjadi biochar yang kemudian dikembalikan ke lahan pertanian. Dengan demikian terbentuk siklus karbon yang utuh, di mana limbah berubah menjadi aset produktif.
Konsep inilah yang disebut Social Circular Carbon Economy: karbon tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai modal pembangunan yang menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis secara bersamaan. Apabila seluruh rantai pasok MBG dibangun berdasarkan prinsip tersebut, Indonesia berpeluang melahirkan sebuah model baru yang dapat disebut sebagai MBG Carbon Positive. Artinya, setiap porsi makanan bergizi yang diterima anak-anak Indonesia tidak hanya memenuhi kebutuhan kalori, protein, vitamin, mineral, dan probiotik, tetapi juga berasal dari sistem produksi pangan yang menyerap lebih banyak karbon daripada emisi yang dihasilkannya.
Inilah bentuk nyata pembangunan yang menghubungkan ketahanan pangan, ketahanan iklim, ketahanan ekonomi desa, dan kesejahteraan sosial dalam satu kebijakan nasional. Lebih jauh lagi, konsep ini akan membuka peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan tambahan melalui jasa lingkungan dan ekonomi karbon, sehingga kesejahteraan masyarakat desa meningkat tanpa harus bergantung semata-mata pada kenaikan harga hasil panen. Indonesia memiliki seluruh modal untuk mewujudkan gagasan tersebut: sumber daya biomassa yang melimpah, jutaan petani, potensi biochar terbesar di kawasan tropis, serta komitmen pemerintah dalam membangun ekonomi hijau.
Momentum kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Kepala BGN Sudaryono menjadi kesempatan strategis untuk menjadikan Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya sebagai program pemenuhan gizi nasional, melainkan sebagai fondasi lahirnya Regenerative Welfare State—sebuah negara kesejahteraan yang dibangun melalui pertanian regeneratif, ekonomi karbon sirkular, dan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Apabila langkah ini diwujudkan, Indonesia berpotensi menjadi negara pertama di dunia yang mengintegrasikan program gizi nasional dengan ekonomi karbon berbasis kesejahteraan sosial. Sebuah inovasi kebijakan yang tidak hanya memberi makan generasi masa depan, tetapi juga memulihkan tanah, air, iklim, dan sekaligus meningkatkan kemakmuran masyarakat desa.
“Setiap porsi Makan Bergizi Gratis bukan hanya menyehatkan anak Indonesia, tetapi juga dapat memberi kehidupan baru bagi tanah, air, petani, dan iklim Indonesia. Inilah makna sejati pembangunan yang tidak hanya mengonsumsi sumber daya, tetapi juga meregenerasinya demi kesejahteraan antargenerasi.
“Every Meal Restores the Nation.”***
*)Wakil Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Kesejahteraan Sosial (DNIKS)
