Market

Paramadina Dorong Santri Jadi Wirausahawan Halal, Bukan Sekadar Konsumen

TANGERANG SELATAN, SUARAINVESTOR.COM – Generasi muda, khususnya kalangan santri, didorong untuk mengambil peran sebagai pelaku usaha yang mampu memanfaatkan besarnya potensi industri halal global. Perubahan pola pikir dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi produsen utama dalam ekosistem ekonomi syariah dunia.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar dan Workshop Santripreneur Global bertajuk “Inspirasi Bisnis Islam dan Halal Industry dari Turki bagi Generasi Muda” yang diselenggarakan mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina di YPI Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Tangerang Selatan, Minggu (26/7/2026).

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Paramadina, Hardiansyah, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan utama dalam industri halal. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila generasi muda memiliki keberanian membangun usaha yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.”Santri jangan hanya bercita-cita menjadi pencari kerja. Jadilah pencipta lapangan pekerjaan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Kewirausahaan bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi bagaimana menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” kata Hardiansyah.

Menurutnya, setiap usaha harus memiliki keunikan agar tidak terjebak dalam persaingan harga semata. Produk yang dihasilkan juga harus memenuhi prinsip halal secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga distribusi kepada konsumen.”Ide bisnis dapat muncul dari hobi, pengalaman, jejaring, maupun pengetahuan yang dimiliki. Namun, ide tersebut harus dikembangkan menjadi model bisnis yang memiliki nilai tambah sehingga mampu bersaing di pasar,” ujarnya.

Hardiansyah menambahkan, pembentukan karakter kewirausahaan sejak di lingkungan pesantren menjadi investasi penting dalam mencetak generasi muda yang mandiri secara ekonomi sekaligus memiliki integritas dalam menjalankan usaha.

Sementara itu, Wakil Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Türkiye, Mohamad Handi Khalifah, menjelaskan bahwa nilai industri halal global saat ini telah mencapai sekitar US$4,6 triliun, sehingga Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil bagian lebih signifikan dalam pasar tersebut.

Namun demikian, menurut Handi, besarnya jumlah penduduk muslim Indonesia belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai pemain utama industri halal apabila masyarakat masih lebih banyak berperan sebagai konsumen.”Jangan hanya menjadi konsumen. Jadilah produsen yang mampu menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan,” ujar Handi.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan industri halal tidak hanya ditentukan oleh sertifikasi produk, melainkan juga oleh terbentuknya ekosistem bisnis yang menjunjung tinggi etika, integritas, kualitas, dan inovasi.

Sebagai contoh, Handi mengangkat konsep Ahi, organisasi pedagang dan pengrajin di Turki yang telah berkembang sejak abad ke-13. Organisasi tersebut menerapkan sistem pengawasan kualitas serta perlindungan konsumen jauh sebelum konsep modern dikenal. “Pedagang yang menjual barang berkualitas buruk akan diberi tanda sehingga masyarakat mengetahui reputasinya. Mekanisme tersebut pada dasarnya mirip dengan sistem customer review yang kini digunakan berbagai platform digital,” katanya.

Handi juga memaparkan perkembangan ekonomi syariah di Turki melalui pengelolaan wakaf produktif, pembangunan kawasan industri berbasis klaster, hingga berkembangnya participation banking. Saat ini terdapat sekitar 11 bank partisipasi dengan lebih dari 1.500 kantor cabang yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.

Ia mencontohkan keberhasilan Modanisa, platform fesyen muslim asal Turki yang telah menjangkau lebih dari 140 negara dengan sekitar 20 juta kunjungan setiap bulan. “Pengalaman Turki menunjukkan bahwa produk halal memiliki daya saing tinggi apabila mampu menawarkan kualitas, inovasi, dan keunikan,” ujarnya.

Seminar yang diikuti hampir 100 santri tersebut kemudian dilanjutkan dengan workshop pembuatan Business Model Canvas (BMC), serta praktik handcraft yang dipandu mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina. Adapun mahasiswa hadir dalam kegiatan tersebut, Agus Eko Cahyono, Eska Maula Al Fauqi, Devi Rhaditya Maharani, Endahing N I Pustakasari, Ayu Utami Saraswati, Afif Assalafus Shalih, Evi Fadillawati dan Ahmad Latif Rosyidi.

Para peserta diajak menyusun ide bisnis halal mulai dari identifikasi peluang usaha, penyusunan model bisnis sederhana, hingga menghasilkan produk kerajinan sebagai bagian dari praktik kewirausahaan.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhwaniyah, Ustadz Nur Muhammad Rifqi, mengapresiasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Universitas Paramadina. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka wawasan para santri mengenai dunia kewirausahaan, ekonomi syariah, serta pentingnya membangun kemandirian ekonomi sejak dini.

Kegiatan Santripreneur Global ini turut didukung oleh Pegiat Pendidikan Ekonomi Kreatif (PPEKRAF), MR.DIY Indonesia, Edutolia Education, Riang Kala Luang, dan Haryo Mumtaz Global sebagai bentuk kolaborasi dalam mendorong lahirnya generasi muda yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di industri halal global.***

Penulis  :  Iwan Damiri

Editor    :  Kamsari

BERITA POPULER

To Top