Opini

16 Juni 2026/1 Muharam 1448 H Tahun Baru Islam: Islam, Pancasila, dan Indonesia

16 Juni 2026/1 Muharam 1448 H Tahun Baru Islam: Islam, Pancasila, dan Indonesia
Ketua umum DNIKS Effendy Choirie/Foto: DNIKS

*) Dr. H. Ahmad Effendy Choirie, M.Ag., M.H.

Pendahuluan
Tanggal 16 Juni 2026 bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah, menandai pergantian Tahun Baru Islam. Bagi umat Islam, momentum ini bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan saat yang tepat untuk melakukan muhasabah (introspeksi), memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, dan menyusun langkah- langkah yang lebih baik untuk masa depan.

Tahun Baru Islam mengingatkan umat pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi transformasi peradaban. Dari masyarakat yang terpecah oleh konflik dan ketidakadilan menuju masyarakat yang berkeadaban, berkeadilan, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Dalam konteks Indonesia, semangat hijrah tersebut relevan untuk terus memperkuat hubungan antara Islam, Pancasila, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketiganya bukanlah entitas yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan bermartabat.

Islam dan Nilai-Nilai Kebangsaan
Islam hadir sebagai agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Misi utama Islam adalah menghadirkan kemaslahatan, menegakkan keadilan, melindungi harkat dan martabat manusia, serta menciptakan kesejahteraan bersama. Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90).
Keadilan merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa keadilan, pembangunan akan melahirkan kesenjangan. Tanpa keadilan, kekuasaan mudah berubah menjadi penindasan. Tanpa keadilan, hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Karena itu, nilai-nilai Islam sangat sejalan dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Pancasila dan Spirit Keislaman
Sejak awal berdirinya Republik Indonesia, para ulama dan tokoh bangsa telah menunjukkan kebijaksanaan luar biasa dalam merumuskan dasar negara. Pancasila bukan agama, tetapi juga bukan ideologi yang bertentangan dengan agama.

Pancasila merupakan titik temu (kalimatun sawa’) berbagai kelompok bangsa Indonesia yang beragam suku, budaya, dan agama. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, mencerminkan pengakuan bangsa Indonesia terhadap nilai-nilai ketuhanan. Sila kedua hingga kelima mengandung prinsip -prinsip yang juga diajarkan dalam Islam, yakni kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.

Karena itu, banyak ulama NU maupun Muhammadiyah berpendapat bahwa mengamalkan Pancasila pada hakikatnya juga merupakan bagian dari mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hubungan Islam dan Pancasila dapat diibaratkan seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Islam memberikan fondasi moral dan spiritual, sementara Pancasila menjadi landasan kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk.

Peran Ulama dan Santri dalam Mendirikan Indonesia
Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran ulama, pesantren, dan santri. Para pendiri bangsa dari kalangan ulama telah memberikan kontribusi besar dalam perjuangan melawan penjajah dan menjaga keutuhan bangsa. Resolusi Jihad yang dikumandangkan para ulama pada tahun 1945 menjadi salah satu tonggak penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, hubungan Islam dan Indonesia bukanlah hubungan yang baru lahir setelah kemerdekaan, melainkan hubungan historis yang telah terjalin sejak lama.

Para ulama mengajarkan bahwa mencintai tanah air merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh anak bangsa.

Tantangan Indonesia Hari Ini
Memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan besar.

Pertama, kesenjangan sosial dan ekonomi yang masih lebar. Di tengah kemajuan pembangunan, masih terdapat banyak rakyat yang hidup dalam kemiskinan, pengangguran, dan keterbatasan akses pendidikan maupun kesehatan.

Kedua, praktik korupsi yang belum sepenuhnya dapat diberantas. Korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merampas hak-hak rakyat kecil.

Ketiga, meningkatnya beban hidup masyarakat akibat berbagai pungutan dan kebijakan ekonomi yang dirasakan memberatkan sebagian rakyat.

Keempat, polarisasi politik yang kadang memecah persatuan bangsa.

Kelima, tantangan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan politik nasional. Semua tantangan tersebut membutuhkan kepemimpinan yang bijaksana, pemerintahan yang bersih, serta partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Hijrah Menuju Indonesia yang Lebih Sejahtera Semangat hijrah yang diwariskan Nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya perubahan ke arah yang lebih baik. Hijrah bangsa Indonesia hari ini adalah hijrah dari kemiskinan menuju kesejahteraan, dari korupsi menuju integritas, dari perpecahan menuju persatuan, dari ketidakadilan menuju keadilan sosial.

Pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, pesantren, tokoh agama, dan masyarakat sipil harus bergandengan tangan membangun Indonesia yang lebih maju dan berkeadilan. Pembangunan tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga harus memastikan pemerataan hasil pembangunan agar dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Islam, Pancasila, dan Masa Depan Indonesia
Pengalaman sejarah membuktikan bahwa ketika Islam dan Pancasila berjalan seiring, Indonesia mampu menjaga stabilitas, persatuan, dan kemajuan.

Sebaliknya, ketika agama dipertentangkan dengan negara atau ketika nilai-nilai agama diabaikan dalam kehidupan publik, maka muncul berbagai persoalan sosial dan politik. Karena itu, masa depan Indonesia memerlukan penguatan tiga pilar utama:
1. Keimanan dan akhlak yang kokoh.
2. Komitmen terhadap Pancasila dan konstitusi. 3. Keberpihakan pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Ketiga pilar tersebut merupakan fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045. Penutup Tahun Baru Islam 1448 Hijriah hendaknya menjadi momentum memperkuat komitmen kebangsaan dan keagamaan sekaligus. Islam mengajarkan nilai-nilai moral, keadilan, persaudaraan, dan kesejahteraan.

Pancasila menyediakan rumah bersama bagi seluruh warga negara Indonesia. Sementara Indonesia adalah wadah besar tempat seluruh elemen bangsa mengabdikan diri untuk kemajuan bersama.

Semangat hijrah harus diwujudkan dalam perubahan nyata: memperbaiki diri, memperbaiki masyarakat, dan memperbaiki bangsa.

Dengan menjadikan Islam sebagai sumber nilai, Pancasila sebagai dasar bernegara, dan Indonesia sebagai rumah bersama, insya Allah bangsa ini akan mampu menghadapi berbagai tantangan serta mewujudkan cita-cita kemerdekaan: masyarakat yang adil, makmur, bermartabat, dan sejahtera untuk semua.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, keberkahan, persatuan, dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.***

*)Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) Masa Bhakti 2024–2029 Anggota DPR/MPR RI 1999–2013

BERITA POPULER

To Top