Perbankan

Semester II 2024, Penerbitan Obligasi Korporasi Diprediksi Rp90 triliun

Semester II 2024, Penerbitan Obligasi Korporasi Diprediksi Rp90 triliun
Suasana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (6/1/2017)/Sumber Foto: Kompas.com

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COMPT.Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan bahwa penerbitan surat utang (obligasi) korporasi mencapai sekitar Rp80 triliun sampai Rp90 triliun pada semester II-2024. Hal ini seiring dengan nilai jatuh tempo yang berada di kisaran Rp85 triliun pada periode ini. “Kami optimis ada di kisaran Rp80 triliun sampai Rp90 triliun,” kata Kepala Divisi Riset Pefindo Suhindarto di Jakarta, Selasa, (9/7/2024).

Lebih jauh Suhindarto menjelaskan, bahwa penerbitan obligasi korporasi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai jatuh tempo, yang mana nilai jatuh tempo pada semester II-2024 lebih tinggi dibandingkan pada semester II-2023. “Kami memperkirakan bahwa penerbitan di semester II-2024 ini akan lebih tinggi dibandingkan semester II tahun lalu,” ujarnya lagi.

Terkait nilai jatuh tempo obligasi korporasi pada semester II-2024, ia menjelaskan bahwa akan terdapat senilai Rp42,50 triliun pada kuartal III-2024 dan senilai Rp42,51 triliun pada kuartal IV-2024. “Secara total untuk semester II-2024 ada di angka Rp85,01 triliun, ini lebih tinggi dibandingkan dengan semester I-2024 kemarin yang ada di angka Rp65 triliun,” paparnya.

Sepanjang 2024, Pefindo mencatat nilai jatuh tempo obligasi korporasi total mencapai Rp150,5 triliun, yang didominasi oleh sektor multifinance senilai Rp26,3 triliun dan diikuti oleh sektor perbankan senilai Rp24,7 triliun. Lalu, nilai jatuh tempo dari sektor telekomunikasi senilai Rp15,6 triliun, diikuti oleh sektor lembaga keuangan khusus senilai Rp14,4 triliun, dan pembiayaan non multifinance senilai Rp12,1 triliun.

Kemudian, nilai jatuh tempo dari sektor pulp and paper senilai Rp85 triliun, diikuti oleh sektor pertambangan senilai Rp8,3 triliun, sektor konstruksi senilai Rp5,4 triliun, sektor properti senilai Rp4,5 triliun, sektor perkebunan senilai Rp4,4 triliun, serta sektor lainnya senilai Rp26,4 triliun.***

Penulis : Chandra
Editor   : Chandra

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top