Pertanian

Pulihkan Lingkungan, DNIKS: Olah Limbah dan Ranting Kayu Eks Bencana Banjir Jadi BIOCHAR

Pulihkan Lingkungan, DNIKS: Olah Limbah dan Ranting Kayu Eks Bencana Banjir Jadi BIOCHAR
Dari kanan ke kiri: Wakil Ketua DNIKS Rudi Andries (berbaju putih) bersama Ketua umum DNIKS Gus Choi mengenakan peci pada acara Pelatihan TIK di Cikarang, Bekasi/Foto: DNIKS

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Wakil Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Rudi Andries berharap pemerintah bijak dalam melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca banjir Sumatera. Dalam hal ini, upaya pemulihan sebaiknya ditempatkan sebagai operasi sosial – ekologis nasional, bukan mendahulukan proyek infrastruktur semata. “Salah satu peluang strategis yang kami soroti adalah pemanfaatan limbah kayu dan ranting yang terbawah banjir bandang menjadi BIOCHAR sebagai bagian dari solusi pemulihan lingkungan dan kesejahteraan sosial,” katanya dalam keterangan resmi, di Jakarta, Sabtu (20/12/2025).

Menurut Rudi, bahwa negara wajib hadir bukan hanya sekedar membangun kembali fisik yang runtuh, tetapi bagaimana strategi dan cara memperbaiki agar pembangunan sosial masyarakat korban bencana menjadi lebih sejahtera ke depan. “Ranting kayu eks bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara bisa jadi sangat bermanfaat. “Tentu harus diolah lewat proses pirolisis menjadi Biochar. Sehingga komoditas itu memiliki nilai ekonomi dan bisa meningkatkan kesejahteraan sosial bagi masyarakat,” ujarnya lagi.

Seperti diketahui bahwa,
Biochar adalah arang aktif yang dibuat dari limbah organik (seperti sekam padi, tempurung kelapa, atau kayu) melalui proses pembakaran suhu tinggi tanpa atau dengan sedikit oksigen (pirolisis). Fungsinya utama sebagai pembenah tanah, memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologis tanah. Meningkatkan kesuburan, kapasitas menahan air dan nutrisi lebih baik, serta menyimpan karbon jangka panjang untuk mitigasi perubahan iklim.

Di konteks bencana seperti kebakaran hutan, limbah kayu juga diubah jadi biochar untuk perbaikan tanah, yang bisa analog dengan sisa banjir.
Pirolisis adalah metode standar untuk membuat biochar dari biomassa limbah kayu, dan ranting kayu sisa banjir mirip dengan limbah kayu urban atau residu hutan yang sering dipakai.

Secara praktis, ini dilakukan dengan pirolisis lambat (slow pyrolysis) di suhu 400-800°C, yang bisa menghasilkan hingga 40% biochar dari biomassa input. “Nah, Pemerintah perlu menggiatkan langkah ini pada periode Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca-banjir, ini bisa memberi pekerjaan bagi warga lokal sambil membersihkan puing dan lumpur, plus Biocharnya yang mempunyai nilai ekonomi dan Lingkungan yang tinggi, bisa dipakai buat perbaikan tanah pertanian yang rusak akibat banjir dan menghasilkan karbon kredit,” pungkasnya.***

Penulis   :   Eko Cahyono

Editor     :    Eko Cahyono

BERITA POPULER

To Top