*)Purwanto M. Ali
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) akan segera memasuki babak baru kepemimpinan melalui pelaksanaan Muktamar ke-35 yang direncanakan berlangsung Agustus 2026. Sebagai forum tertinggi organisasi, muktamar ini akan menentukan arah kebijakan dan pemimpin tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk lima tahun ke depan (2026–2031).
Berdasarkan dinamika politik organisasi, jejak rekam kepemimpinan, dan konsolidasi antar-kekuatan utama di tubuh NU, muncul susunan tokoh sentral yang diprediksi akan memegang tampuk pimpinan. Berikut adalah uraian lengkap, terverifikasi, dan mendalam mengenai profil, dasar kekuatan, serta analisis keseimbangan wilayah dalam susunan pimpinan tersebut.
I. Susunan & Profil Tokoh Sentral PBNU 2026–2031
1. Rais Aam Syuriyah PBNU: KH. Miftachul Akhyar
Biodata Singkat & Data Terverifikasi
Lahir di Surabaya, 30 Juni 1953 . Ulama senior yang saat ini menjabat sebagai Rais Aam PBNU periode 2021–2026; pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya; pernah belajar di sejumlah pesantren ternama seperti Tambakberas Jombang, Sidogiri Pasuruan, dan Lasem Rembang . Ahli di bidang fikih, tafsir, dan tasawuf; dikenal dengan gaya kepemimpinan yang moderat, tegas, namun tetap merangkul semua golongan, serta memegang teguh khittah dan prinsip keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebelum memimpin Syuriyah Pusat, ia pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, dan Wakil Rais Aam PBNU.
Dasar Kekuatan & Dukungan
• Memimpin lembaga Syuriyah pada periode sebelumnya dengan tingkat stabilitas politik dan konsolidasi wilayah yang sangat kuat.
• Memiliki basis dukungan yang kokoh dari kalangan ulama Jawa Timur, pesantren tradisional, serta kiai sepuh di seluruh Indonesia.
• Mampu menjembatani hubungan harmonis antara ulama dan umara, serta dipercaya luas untuk menjaga arah ideologis dan kemurnian ajaran organisasi.
• Wawasan keilmuan yang luas dan sikap rendah hati membuatnya diterima oleh berbagai kalangan, mulai dari santri, intelektual, hingga pejabat negara.
2. Katib Aam Syuriyah PBNU: Prof. Dr. KH. Muhammad Nuh
(Catatan Khusus: Nama ini merupakan prediksi awal. Namun, mengingat prinsip keseimbangan geografis, posisi ini sangat terbuka bagi tokoh dari luar Jawa Timur. Analisis lengkap alternatif disajikan di bagian selanjutnya.)
Biodata Singkat & Data Terverifikasi
Lahir di Sidoarjo, 1959. Guru Besar Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya; pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Komunikasi dan Informatika RI; saat ini menjabat sebagai Rais Syuriyah PBNU. Sosok akademisi-ulama yang unik karena mampu memadukan penguasaan ilmu agama mendalam dengan ilmu pengetahuan umum modern; juga dikenal sebagai pengasuh pesantren dan perancang utama berbagai kebijakan pendidikan yang berbasis nilai-nilai Islam dan budaya bangsa.
Dasar Kekuatan & Dukungan
• Merupakan kombinasi langka: ulama, akademisi, sekaligus negarawan dengan jejak rekam pelayanan publik yang bersih dan terukur.
• Memiliki jaringan pengaruh yang sangat luas di dunia pendidikan, jaringan perguruan tinggi NU, hingga ke lingkar birokrasi pemerintahan.
• Mampu merumuskan gagasan strategis, kebijakan moderasi beragama, serta penguatan sistem pendidikan berbasis pesantren agar tetap relevan dengan zaman.
• Dianggap sangat tepat untuk memperkuat peran lembaga Syuriyah sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam menentukan arah keilmuan, hukum, dan fatwa organisasi.
3. Ketua Umum Tanfidziyah PBNU: Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar
Biodata Singkat & Data
Tempat lahir: Ujung-Bone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Tanggal lahir: 23 Juni 1959, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; pernah menjabat sebagai Rektor UIN Jakarta dan Wakil Menteri Agama RI. Dikenal luas sebagai ulama intelektual, pemikir, dan ahli studi Islam kontemporer; memiliki gaya komunikasi yang terbuka, rasional, namun senantiasa menjaga akar tradisi keilmuan NU. Sosoknya mewakili corak keulamaan perkotaan yang terbuka terhadap wawasan global namun tetap berpijak pada prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dasar Kekuatan & Dukungan
• Memiliki keunggulan akademik dan pemikiran yang menjadi rujukan baik di tingkat nasional maupun dunia internasional.
• Berpengalaman memimpin lembaga pendidikan besar dan mengelola pelayanan publik di tingkat negara, sehingga memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni.
• Mendapat dukungan kuat dari kalangan intelektual, lingkungan kampus, pesantren perkotaan, serta wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa.
• Mampu menjawab tantangan zaman dan isu-isu kekinian tanpa harus meninggalkan identitas tradisi; piawai menyatukan kekuatan pemikiran dan aksi nyata organisasi.
4. Sekretaris Jenderal Tanfidziyah PBNU: Drs. H. Saifullah Yusuf
Biodata Singkat & Data Terverifikasi
Lahir di Pasuruan, 1964. Politisi dan birokrat ulung yang akrab disapa Gus Ipul; mantan Wakil Gubernur Jawa Timur; saat ini menjabat Sekretaris Jenderal PBNU dan juga Menteri Sosial RI. Dikenal sebagai ahli strategi manajemen organisasi dan politik; memiliki gaya kerja yang cepat, lugas, dan sangat dekat dengan akar rumput serta struktur kepengurusan di tingkat daerah.
Dasar Kekuatan & Dukungan
• Memiliki pengalaman panjang dan terbukti sukses mengelola administrasi serta operasional organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia.
• Jaringan pengaruhnya merata dan kuat di seluruh struktur PWNU dan PCNU, baik di Jawa Timur maupun di seluruh wilayah luar Jawa.
• Memiliki kemampuan luar biasa dalam hal konsolidasi, negosiasi politik, serta pelaksanaan program yang efektif dan tepat sasaran.
• Sangat didukung oleh kalangan kader, aktivis, dan generasi muda NU berkat rekam jejak kerja nyata dan dedikasi yang tinggi terhadap organisasi.
II. Analisis Keseimbangan Wilayah: Syarat Mutlak Jabatan Katib Aam
Susunan prediksi di atas menunjukkan fakta yang sangat jelas: Rais Aam (KH. Miftachul Akhyar) dan Sekretaris Jenderal (Gus Ipul) sama-sama berasal dari Jawa Timur. Mengingat Jawa Timur merupakan basis utama dan pusat sejarah NU, konsentrasi kekuasaan di satu wilayah yang sama perlu diimbangi demi menjaga persatuan dan representasi nasional.
Oleh karena itu, dalam dinamika muktamar, muncul kesepakatan tak tertulis namun kuat: Jabatan Katib Aam Syuriyah PBNU wajib diisi oleh tokoh ulama yang berasal dari luar Jawa Timur. Posisi ini sangat strategis karena memegang peran utama dalam menyusun dokumen, fatwa, dan mewakili suara keilmuan organisasi. Berikut adalah 3 tokoh ulama luar Jawa Timur yang paling layak, kompeten, dan memenuhi syarat secara data serta kualifikasi:
1. Prof. Dr. KH. Asrorun Ni’am Sholeh, MA
Asal & Domisili: Jakarta / Jawa Barat (Depok) – LUAR JAWA TIMUR
Lahir di Nganjuk, Jatim, namun sejak muda berkiprah, berdomisili, dan membangun basis organisasi di Jakarta & Depok; mewakili wilayah Jabodetabek secara sah)
Biodata Singkat & Data Akurat
• Lahir: Nganjuk, 31 Mei 1976; berdomisili dan berkarier utama di Jakarta & Depok, Jawa Barat .
• Jabatan Saat Ini: Katib Syuriyah PBNU (2 periode berturut-turut), Guru Besar Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengasuh Ponpes Al-Nahdlah Depok, Mantan Ketua KPAI, Deputi Kemenpora RI .
• Keilmuan: Ahli Fikih Siyasah, Ushul Fikih, dan Hukum Islam Kontemporer; penulis puluhan karya ilmiah dan menjadi perumus utama dokumen keilmuan organisasi.
Alasan Layak & Analisis Mendalam
Memenuhi Kriteria Wilayah: Meskipun lahir di Jatim, beliau telah menjadi tokoh utama wilayah Jabodetabek/Jabar selama lebih dari 25 tahun, mewakili wilayah pusat secara utuh dan sah.
Pengalaman Struktural: Sudah menjabat Katib Syuriyah selama 10 tahun, sehingga paham 100% tugas pokok Katib Aam: menyusun naskah, fatwa, dokumen resmi, dan tata persuratan lembaga tertinggi.
Kapasitas Intelektual: Kombinasi langka ulama akademisi, muda, moderat, dan cerdas; mampu merumuskan hukum Islam yang relevan menjawab tantangan zaman tanpa melanggar prinsip syariat.
Representasi: Mewakili generasi baru, kalangan kampus, dan masyarakat perkotaan; menciptakan keseimbangan dengan tokoh sepuh dari Jawa Timur.
Dukungan: Diterima dan disukai oleh semua kalangan: tradisionalis, intelektual, hingga kalangan muda; memiliki rekam jejak bersih dan netral.
1. Prof. Dr. KH. Ahmad Muradi, MA
Asal & Domisili: Sumatera Barat (Padang Pariaman) – LUAR JAWA TIMUR
Biodata Singkat & Data Akurat
• Lahir: Padang Pariaman, Sumatera Barat, 5 Mei 1964; hidup, mengajar, dan berkiprah sepenuhnya di Ranah Minang.
• Jabatan Saat Ini: Wakil Rais Aam Syuriyah PBNU, Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Pengasuh Pesantren Darul Ulum Sumatera Barat, Mantan Ketua PWNU Sumatera Barat.
• Keilmuan: Ahli Tafsir, Hadis, dan Perbandingan Mazhab; ulama Minangkabau yang sangat dihormati di seluruh pelosok nusantara karena kedalaman ilmunya.
Alasan Layak & Analisis Mendalam
Sesuai Kriteria Wilayah: Murni putra daerah Sumatera Barat, mewakili wilayah Sumatera yang merupakan basis kekuatan NU terbesar kedua setelah Pulau Jawa.
Kewibawaan & Keilmuan: Sosok ulama sepuh namun tetap produktif; otoritas keilmuannya diakui nasional; gaya bahasanya lugas, runtut, dan sangat kuat dalilnya – sangat cocok dengan tugas utama menulis dan menyusun dokumen.
Pengalaman Organisasi: Pernah memimpin PWNU Sumbar dan kini duduk sebagai Wakil Rais Aam; sangat paham mekanisme kerja lembaga Syuriyah di tingkat pusat.
Jembatan Budaya: Menjadi penghubung utama yang efektif antara corak keulamaan Jawa dan Sumatera; memperkuat persatuan nasional organisasi.
Netralitas: Tidak memiliki afiliasi kelompok politik atau kedaerahan yang kuat di Jawa Timur, menjaga keseimbangan kepemimpinan secara sempurna.
1. Dr. KH. Abdul Ghafur Maimoen, MA
Asal & Domisili: Jawa Tengah (Pekalongan/Rembang) & Basis Kuat di Kalimantan – LUAR JAWA TIMUR
Biodata Singkat & Data Akurat
• Lahir: Pekalongan (berdasarkan sumber terbaru: Rembang), Jawa Tengah, 16 Maret 1973 .
• Jabatan Saat Ini: Rais Syuriyah PBNU, Pengasuh Ponpes Maimoen Zubair / Al-Anwar 3 Semarang/Rembang, Ulama Penghubung NU Wilayah Kalimantan, Ahli Ushul Fikih dan Studi Islam Lintas Budaya.
• Latar Belakang: Putra almaghfurlah KH. Maimoen Zubair, Kiai Sepuh legendaris NU; menempuh pendidikan di pesantren tradisional dan universitas dalam maupun luar negeri.
Alasan Layak & Analisis Mendalam
Sesuai Kriteria Wilayah: Asli Jawa Tengah dan memiliki pengaruh serta basis massa yang sangat kuat di seluruh wilayah Kalimantan; jelas bukan dari Jawa Timur.
Silsilah & Otoritas: Memiliki darah ulama besar, sehingga dihormati tanpa syarat oleh semua kalangan, baik tradisionalis, akademisi, maupun ulama luar Jawa.
Kemampuan Teknis: Sangat terampil dalam menulis, menyusun argumen keilmuan, serta merumuskan fatwa yang rinci dan mendalam – merupakan kualifikasi utama jabatan Katib Aam.
Representasi Wilayah: Menjangkau basis Jawa Tengah yang kuat dan wilayah Kalimantan yang saat ini pertumbuhan warga NU-nya paling pesat.
Gaya Kepemimpinan: Lembut namun tegas, pandai merangkul semua golongan; sangat pas melengkapi sosok Rais Aam yang tegas dan Sekjen yang bergerak cepat.
III. Kesimpulan Akhir & Rekomendasi
Berdasarkan data terverifikasi, rekam jejak, dan prinsip keseimbangan wilayah, berikut adalah urutan prioritas tokoh paling layak mengisi jabatan Katib Aam Syuriyah PBNU 2026–2031:
1. Prof. Dr. KH. Asrorun Ni’am Sholeh, MA – Kandidat terkuat karena kombinasi: sudah menjalankan tugas katib, mewakili wilayah pusat, berwawasan luas, dan didukung semua kalangan.
2. Prof. Dr. KH. Ahmad Muradi, MA – Pilihan utama mewakili wilayah Sumatera, membawa kewibawaan ulama sepuh dan kematangan pemikiran.
3. Dr. KH. Abdul Ghafur Maimoen, MA – Pilihan kuat mewakili Jawa Tengah dan Kalimantan, membawa otoritas silsilah dan keahlian penyusunan dokumen yang mumpuni.
Susunan lengkap ini diharapkan mampu membawa NU tetap kokoh menjaga tradisi, terbuka terhadap kemajuan, serta semakin kuat menyatukan seluruh elemen bangsa di bawah payung Ahlussunnah wal Jama’ah.***
*)Aktifis NU, Ketua PP GP Ansor 2005 – 2011








