*) Rudi Andries
Di tengah meningkatnya degradasi tanah, biaya pupuk yang tinggi, dan ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim, para petani Indonesia mulai mencari pendekatan yang lebih sehat dan berkelanjutan untuk merawat lahannya. Dua metode yang kini banyak diperbincangkan adalah cover crop (tanaman penutup) dan Biochar.
Sayangnya, keduanya sering diposisikan seolah harus dipilih salah satu. Padahal, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa cover crop dan Biochar justru dapat saling melengkapi. Cover crop atau tanaman penutup tanah memiliki manfaat penting untuk menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, menambah biomassa organik, dan mendukung kehidupan mikroorganisme tanah.

Tanaman seperti mucuna, crotalaria, dan lamtoro terbukti membantu memperbaiki kondisi tanah pada banyak sistem pertanian konservasi.
Namun dalam konteks pertanian pangan utama Indonesia seperti padi dan jagung, penerapan cover crop juga menghadapi tantangan. Tidak semua petani memiliki waktu, air, tenaga kerja, atau ruang tanam tambahan untuk menanam tanaman penutup secara rutin di sela musim tanam utama.
Di sinilah Biochar menawarkan solusi yang lebih praktis dan tahan lama. Biochar merupakan arang hayati dari biomassa pertanian seperti sekam padi, tongkol jagung, ranting, atau tempurung yang diproses melalui pirolisis sederhana. Berbeda dengan bahan organik biasa yang cepat terurai, karbon pada Biochar dapat bertahan sangat lama di dalam tanah.
Manfaatnya cukup besar:
memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, menahan unsur hara agar tidak mudah hanyut, menyediakan habitat mikroba, sekaligus membantu penyimpanan karbon jangka panjang.
Banyak petani mulai merasakan bahwa Biochar mampu membuat tanah lebih gembur, lebih tahan kering, dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Pendekatan terbaik sesungguhnya bukan mempertentangkan keduanya, melainkan mengkombinasikan kekuatan masing-masing. Secara sederhana: cover crop membantu “memberi makan” kehidupan tanah, sementara Biochar membantu “membangun rumah” bagi kehidupan tanah tersebut.
Pada lahan kritis dan miskin karbon, Biochar dapat menjadi fondasi pemulihan jangka panjang. Sementara cover crop membantu mempercepat siklus biologis dan perlindungan permukaan tanah.
Model seperti inilah yang mulai didorong berbagai komunitas pertanian dan lingkungan di Indonesia, termasuk sinergi antara Gerakan Nasional Biochar (GNB), DNIKS, dan Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII).
Fokusnya bukan semata karbon kredit, melainkan membangun pertanian yang: produktif, hemat biaya, ramah lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Di masa depan, pertanian Indonesia membutuhkan pendekatan yang tidak ideologis, tetapi solutif dan adaptif terhadap kondisi nyata petani. Karena tanah sehat bukan hanya soal panen hari ini, melainkan investasi untuk Generasi Emas 2045 yang makmur sejahtera sebagaimana visi Presiden Prabowo.***
*)Waketum DNIKS dan Pengawas Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII)








