*) Purwanto M Ali
Penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-35 menjadi momentum sejarah yang sangat krusial dan dinanti-nantikan oleh jutaan kader, warga, dan simpatisan NU di seluruh Indonesia maupun mancanegara. Agenda lima tahunan ini bukan sekadar rutinitas pergantian kepemimpinan organisasi, melainkan momen penentuan arah, jati diri, dan masa depan organisasi Islam terbesar di dunia ini.
Kebangkitan Kembali NU
Di tengah harapan besar umat, Muktamar kali ini berlangsung di bawah latar belakang situasi organisasi yang dianggap mengalami kemunduran signifikan dan keterpurukan mendalam selama periode kepemimpinan 2021–2026 di bawah kendali Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf.
Selama lima tahun terakhir, wajah NU banyak tercoreng oleh dinamika yang justru menjauhkan organisasi dari akar dan prinsip pendiriannya. Di bawah kepemimpinan ini, publik dan kader disuguhi realitas konflik internal yang berkepanjangan, tajam, dan menguras energi organisasi. Konflik tersebut bukan lagi berakar pada perbedaan pemahaman keagamaan atau perdebatan pemikiran keislaman yang konstruktif, melainkan terperosok jauh ke dalam persoalan-persoalan pragmatis, politis, dan ekonomis.
Pergulatan kekuasaan, pendekatan yang terlalu mendekatkan diri pada kepentingan politik praktis, serta pengelolaan sumber daya yang kerap dipertanyakan orientasinya, telah mengaburkan identitas asli NU sebagai Jam’iyah Ulama (Perhimpunan Ulama). NU yang seharusnya menjadi benteng penjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, kini lebih sering dibincangkan karena gesekan politik dan kepentingan materi, bukan karena pemikiran keislaman atau pelayanan umat yang mendasar.
Akibatnya, marwah dan kewibawaan ulama yang selama ini menjadi poros utama organisasi menjadi luntur. Otoritas Syuriyah sebagai lembaga tertinggi penentu kebijakan agama kerap kali tampak terpinggirkan oleh dominasi kekuasaan eksekutif. Banyak pihak menilai bahwa NU telah kehilangan arah, terjebak dalam pusaran kepentingan sesaat, dan meninggalkan tradisi intelektual keulamaan yang pernah membuatnya disegani dunia.
Keterpurukan ini menjadi titik balik yang menegaskan satu hal: NU sangat mendesak membutuhkan pemimpin baru yang mampu melakukan pemulihan besar-besaran, mengembalikan kejayaan, dan menempatkan kembali NU pada tempat yang semestinya, yakni sebagai pusat rujukan umat Islam dunia.
Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia yang berakidah Ahlussunnah wal Jama’ah, NU haruslah benar-benar tampil kembali sebagai organisasi keagamaan Islam yang diperhitungkan, bukan hanya dari sisi jumlah anggotanya, melainkan dari kualitas pemikiran dan peran strategisnya.
NU harus kembali berfungsi sebagai gudangnya para ulama, cendekiawan, dan pemikir Islam yang mumpuni. Umat Islam Indonesia maupun dunia sangat mendambakan hadirnya pemikiran-pemikiran baru, segar, namun tetap berpegang teguh pada tradisi keilmuan yang kaya, untuk menjawab tantangan zaman, isu-isu kemanusiaan, serta persoalan kebangsaan dan keberagamaan yang semakin kompleks.
Prof Nasarudin Umar Sebagai Kandidat Ideal
Dalam konteks pencarian sosok pemimpin yang mampu mengembalikan marwah dan kejayaan NU tersebut, nama Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar, MA, muncul dan menguat sebagai sosok yang paling tepat, ideal, dan memenuhi seluruh syarat utama untuk memimpin NU ke depan.
Beliau dianggap sebagai figur yang lengkap, langka, dan menyatukan berbagai keunggulan yang jarang dimiliki tokoh lain; menggabungkan kedalaman ilmu agama, kewibawaan keulamaan, pengalaman organisasi yang matang, rekam jejak birokrasi yang bersih, hingga wawasan internasional yang luas.
Lebih dari itu, kehadiran beliau membawa makna simbolis yang sangat besar bagi keutuhan organisasi dan persatuan bangsa. Sehingga memiliki kapasitas dan keistimewaan, bahkan layak memimpin PBNU periode mendatang:
Guru Besar Tafsir Al-Qur’an
Kapasitas keilmuan adalah syarat mutlak dan tidak dapat ditawar bagi pemimpin NU, mengingat NU adalah organisasi berbasis ilmu agama dan pemahaman teks suci. Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar dikenal luas sebagai akademisi ulung dan Guru Besar dalam bidang Ilmu Tafsir Al-Qur’an. Keahlian beliau dalam memahami, menafsirkan, dan mendalami ayat-ayat suci Al-Qur’an telah teruji melalui karya-karya tulis, penelitian ilmiah, dan pengajaran yang panjang dan konsisten.
Keilmuan beliau tidak hanya sekadar teoritis atau tekstual, namun mampu mengantarkan pemahaman agama yang moderat, mendalam, dan kontekstual sesuai tuntutan zaman. Sebagai pemimpin, kualifikasi ini menjamin bahwa arah kebijakan organisasi akan selalu bersumber dari nilai-nilai agama yang murni, terhindar dari penyimpangan pemahaman, dan mampu merumuskan solusi berbasis wahyu dan syariat. Kehadiran pemimpin yang juga pakar tafsir adalah jaminan utama bahwa NU akan kembali menjadi rumah bagi pengembangan pemikiran Islam yang mendalam, orisinal, dan menjadi rujukan dunia.
Katib Aam PBNU dan Rais Syuriyah PBNU
Rekam jejak organisasi KH. Nasarudin Umar di tubuh NU sangat istimewa dan menduduki puncak struktur kelembagaan keagamaan. Beliau telah menempati posisi strategis di Unsur Syuriyah, yakni lembaga tertinggi pemegang otoritas agama, hukum, dan fatwa dalam struktur NU. Beliau pernah menjabat sebagai Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, jabatan inti dalam kepengurusan Syuriyah yang bertugas membantu Rais Aam dalam mengelola administrasi keagamaan, merumuskan kebijakan dasar, serta menjaga kemurnian manhaj organisasi. Pengalaman ini diperkuat dengan amanah beliau sebagai Rais Syuriyah PBNU, posisi yang menempatkan beliau langsung sebagai bagian dari pemegang kekuasaan tertinggi dalam penentuan arah keagamaan organisasi.
Pengalaman panjang beliau yang murni berada di jantung kekuasaan ulama ini menjadikan pemahaman beliau terhadap hakikat NU sangat utuh dan mendalam. Beliau sangat paham bahwa landasan utama NU adalah kepemimpinan ulama, dan seluruh unsur organisasi termasuk eksekutif (Tanfidziyah) wajib berpedoman pada arahan Syuriyah. Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa jika beliau terpilih memimpin, beliau adalah sosok yang benar-benar lahir, besar, dan paham betul tentang kewibawaan ulama. Beliau tidak akan pernah membiarkan posisi Syuriyah terpinggirkan atau dikalahkan oleh kekuasaan administratif, karena beliau sendiri adalah bagian dari pilar utama kekuasaan keulamaan tersebut.
Ulama Luar Jawa: NU Milik Seluruh Ulama Nusantara
Satu hal yang sangat istimewa, strategis, dan bernilai sejarah dari sosok Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar adalah latar belakang kedaerahan beliau sebagai ulama besar yang lahir, tumbuh, dan berakar kuat di luar Pulau Jawa, tepatnya dari Sulawesi Selatan. Selama sejarah panjang NU, kepemimpinan pusat kerap kali didominasi oleh ulama-ulama besar dari tanah Jawa, sehingga menimbulkan persepsi di sebagian kalangan masyarakat maupun kader bahwa NU adalah organisasi yang identik dengan budaya dan ulama Jawa saja.
Hadirnya sosok Nasarudin Umar mematahkan pandangan sempit tersebut sekaligus menjadi simbolisasi nyata dan tegaskan bahwa NU bukan hanya milik ulama Jawa saja, melainkan milik seluruh ulama Nusantara. Beliau adalah representasi puncak dari kualitas keulamaan, kedalaman ilmu, dan kewibawaan yang tumbuh subur di luar Jawa, membuktikan bahwa kapasitas memimpin ulama di wilayah Indonesia Timur, Tengah, maupun Barat tidak kalah hebat dan mumpuni.
Memimpin NU dengan figur luar Jawa akan menjadi tonggak sejarah baru yang memperkuat persatuan bangsa, menegaskan prinsip bahwa NU adalah rumah besar bagi seluruh umat Islam di seluruh penjuru Indonesia, tanpa sekat wilayah atau pulau. Hal ini akan semakin memperkokoh akar organisasi hingga ke pelosok desa di luar Jawa, yang selama ini menjadi basis kekuatan terbesar NU namun kerap kurang mendapatkan perhatian dan proporsi kepemimpinan yang seimbang.
Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
Memimpin masjid terbesar di Indonesia dan salah satu pusat kegiatan Islam terpenting di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal, adalah bukti kepercayaan publik dan kemampuan luar biasa beliau dalam memimpin umat yang beragam. Sebagai Imam Besar, beliau tidak hanya bertugas memimpin ibadah ritual, tetapi juga menjadi rujukan masyarakat luas dalam hal pemahaman agama, dakwah, dan pembinaan karakter umat. Di bawah kepemimpinan beliau, Istiqlal dikenal sebagai simbol Islam yang ramah, terbuka, moderat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan serta kerukunan antarumat beragama.
Pengalaman ini membuktikan kemampuan beliau dalam merawat kerukunan, menyebarkan dakwah yang damai, serta menjadi pemimpin yang dekat dengan masyarakat, sekaligus tetap memegang wibawa keulamaan yang tinggi. Ini adalah model kepemimpinan dakwah yang sangat dibutuhkan NU untuk kembali merajut persatuan umat yang sempat retak akibat konflik internal, serta mengembalikan wajah NU sebagai organisasi penyejuk dan pemersatu bangsa.
Rektor Universitas PTIQ Jakarta
Dunia pendidikan dan keilmuan adalah darah daging dan identitas utama NU. KH. Nasarudin Umar memiliki dedikasi tinggi di bidang ini, terbukti dari amanah panjang beliau sebagai Rektor Universitas Pendidikan Islam dan Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. Di bawah kepemimpinan beliau, PTIQ berkembang menjadi pusat pendidikan yang melahirkan intelektual-intelektual Muslim yang unggul, yang menguasai ilmu agama secara mendalam sekaligus menguasai ilmu umum dan teknologi modern.
Pengalaman memimpin lembaga pendidikan tinggi ini menunjukkan kapasitas manajerial beliau dalam mengelola sumber daya manusia, pengembangan kurikulum, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat relevan dengan kebutuhan mendesak NU saat ini untuk kembali menjadi kekuatan intelektual, dengan melahirkan pemikiran-pemikiran Islam kontemporer yang mampu bersaing di kancah akademik nasional maupun internasional. Beliau paham betul bahwa kejayaan sebuah organisasi keagamaan sangat bergantung pada kualitas intelektualitas kader-kadernya.
Pengasuh Ponpes As’adiyah, Sulawesi Selatan
Sebagai organisasi yang lahir dari rahim pesantren, akar pesantren adalah identitas tak terpisahkan dari sejarah dan jiwa NU. KH. Nasarudin Umar adalah figur yang sangat kuat akarnya di tradisi ini. Beliau menjabat sebagai Pengasuh sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua, terbesar, dan paling berpengaruh di wilayah Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur. Pesantren As’adiyah dikenal ketat dalam menjaga tradisi keilmuan klasik (turats) namun juga dinamis dan maju dalam membangun kemajuan dan modernisasi tata kelola.
Posisi ini menempatkan beliau sebagai representasi nyata dari ulama pesantren yang memahami denyut nadi kultural umat, tradisi keilmuan warisan para pendahulu, serta permasalahan riil yang dihadapi masyarakat di daerah. Sosok yang berasal dari dan memimpin pesantren adalah jaminan mutlak bahwa jika beliau memimpin PBNU, pesantren akan kembali ditempatkan sebagai prioritas utama, dan budaya keulamaan serta tradisi keilmuan akan kembali dijunjung tinggi di setiap kebijakan organisasi.
Pengalaman Birokrasi Pemerintahan
Kapasitas kepemimpinan beliau tidak hanya terbatas di ranah organisasi keagamaan, namun juga teruji dan terbukti di ranah negara dan birokrasi tingkat tinggi. KH. Nasarudin Umar telah menapaki karir panjang, bersih, dan berintegritas di Kementerian Agama RI, mulai dari jabatan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Wakil Menteri Agama, hingga kini dipercaya oleh negara dan pemerintah sebagai Menteri Agama Republik Indonesia.
Pengalaman ini membuktikan kemampuan luar biasa beliau dalam manajemen pemerintahan, pengelolaan anggaran besar, perumusan kebijakan publik, serta pemahaman mendalam tentang regulasi negara dan hubungan harmonis antara agama dengan negara. Beliau adalah sosok yang mengerti betul bagaimana menjaga hubungan baik antara organisasi masyarakat sipil seperti NU dengan pemerintah, tanpa kehilangan prinsip, jati diri, dan kemandirian organisasi. Beliau mampu membawa NU berperan strategis dalam kebijakan kebangsaan, namun tetap tegas dalam menjaga kemurnian nilai organisasi dari kepentingan politik praktis yang merugikan.
Pengalaman Hubungan Internasional
Di era globalisasi, NU tidak bisa menutup diri, namun harus tampil menjadi kekuatan damai dunia dan pemimpin arus utama Islam moderat. Di sinilah keunggulan Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar sangat menonjol dan menjadi pembeda utama. Beliau dikenal memiliki jejaring dan hubungan internasional yang sangat luas, baik dengan sesama pemimpin agama maupun komunitas dunia. Salah satu pencapaian terbesar beliau adalah peran aktif dalam membangun jembatan dialog antaragama dan antarperadaban, termasuk hubungan yang sangat baik, harmonis, dan penuh penghargaan dengan pemimpin Gereja Katolik Roma di Vatikan.
Beliau adalah duta perdamaian sejati yang memahami betul pentingnya dialog, toleransi, dan kerja sama antarperadaban untuk mewujudkan kedamaian dunia. Pengalaman ini akan sangat berharga bagi NU untuk kembali menegaskan posisinya di kancah internasional sebagai organisasi Islam moderat, yang mampu menjadi penengah konflik, penyebar nilai toleransi, dan pemimpin arus utama Islam ramah di mata dunia. Beliau mampu membawa pemikiran Islam NU didengar, dihargai, dan menjadi rujukan bagi komunitas global.
Menyongsong Muktamar ke-35, harapan umat tertuju pada figur yang memiliki seluruh modalitas tersebut. Di tengah keterpurukan yang diakibatkan oleh orientasi pragmatis dan politisasi organisasi selama periode sebelumnya, Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar, MA hadir sebagai solusi lengkap, utuh, dan menyeluruh. Beliau adalah sosok ulama yang berilmu luas, organisator yang matang berakar dari struktur keulamaan, representasi nyata keberagaman Nusantara, birokrat yang berintegritas, intelektual yang produktif, dan negarawan yang berwawasan dunia.
Kepemimpinan beliau diyakini akan menjadi titik balik pemulihan besar NU. Di tangan beliau, NU diharapkan segera bangkit dari keterpurukan, meninggalkan konflik internal yang tidak produktif, dan kembali ke jalan asalnya: menjadi Jam’iyah Ulama yang gagah, berwibawa, dan disegani. NU harus kembali menjadi benteng Ahlussunnah wal Jama’ah, gudangnya ulama dan cendekiawan, serta laboratorium pemikiran Islam yang melahirkan solusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan dunia. Muktamar ke-35 adalah gerbangnya, dan sosok Nasarudin Umar adalah kuncinya.***
*)Aktifis NU, Ketua PP GP Ansor 2005 – 2011








