Nasional

Marullah Ngotot Ikut Konferwil PWNU Jakarta, Bakal Terganjal MKNU?

Mantan Walikota Jaksel Marullah Matali/Tribunews.com

JAKARTA, SUARAiNVESTOR.COM–Gerilya para kandidat yang bakal maju dalam Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama (Konferwil NU) Jakarta makin masif. Bukan hanya dari kalangan politisi saja yang intens menggalang dukungan. Pun begitu kalangan birokrat juga masif dan ngotot mendekati PCNU-PCNU se Jakarta.

Dari 8 kandidat yang beredar di kalangan Nahdliyin, salah satu calon yang diduga intens melakukan lobi-lobi “senyap” dan “mengumpulkan” PCNU-PCNU, yakni Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Marullah Matali.

Sayangnya, saat wartawan mengkonfirmasi kepada Marullah, dia tidak memberikan balasan dan jawaban terkait masalah tersebut. Padahal Marullah beberapa kali dikontak melalui telepon selulernya dan pesan WhatApp (WA).

Padahal salah satu syarat yang harus dipenuhi menjadi kandidat PWNU adalah lulus Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU).

Bahkan informasi dari internal, menyebutkan Marullah terus mendekati sejumlah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) untuk mencari dukungan. “Semua calon yang mengundang kami, tentu kami menghargai. Bukan hanya Pak Marullah yang mengundang tapi Pak Jazilul juga mengundang,” kata Ketua PCNU Jakarta Pusat, Gus Syaifuddin di Jakarta, Kamis (4/3/2021).

Diakui Gus Syaifuddin, undangan tersebut sebagai bentuk silaturahmi. Karena para kandidat ingin mendengar langsung situasi yang terjadi pada umat, khususnya arus bawah. “Jadi apa yang diinginkan arus bawah (umat) itu, harus cepat ditangkap oleh kandidat. Dengan cara ini, maka menjadi modal dasar para kandidat untuk menentukan dan mapping masalah,” terang Alumnus S2 Universitas Indonesia.

Ketua PCNU Jakpus

Ketua PCNU Jakpus

Menurut Gus Syaifuddin, jangan sampai para kandidat ini menyusun banyak visi misi tapi tidak pernah mengumpulkan masalah. Oleh karena itu, arus bawah harus menjadi perhatian. “Sehingga nantinya sinkron, apa yang diputuskan PWNU akan diikuti pula oleh PCNU-PCNU. Makanya, permasalahan yang ada di MWC dan Ranting perlu didengar,” tambahnya.

Lebih lanjut Gus Syaifuddin menjelaskan pihaknya akan menggelar Rapim dan Musyawarah Alim Ulama NU pada 19 Maret 2021 untuk mendengar dan pandangan-pandangan ulama. “Sekaligus menentukan kriteria Ketua Tanfidziyah PWNU Jakarta. Jadi kita undang semua calon,” imbuhnya.

Saat ditanyakan soal salah satu persyarataran yang harus dipenuhi calon, adalah harus lulus pendidikan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU). Sementara Marullah diduga belum memiliki syarat tersebut. “Soal persyaratan, itu bukan kewenangan PCNU. Jadi silahkan tanya kepada Panitia Konferwil saja,” tuturnya.

Yang jelas, kata Gus Syaifuddin, pihaknya melibatkan MWC-MWC NU dan ranting dalam memutuskan sebuah kebijakan. “Jadi ibaratnya, suara PCNU adalah suara arus bawah.”

Gus Syaifuddin tak membantah PCNU Jakarta Pusat menjadi barometer dari PCNU-PCNU lainnya. Karena memang dalam setahun ini, pihaknya membangun sistem demokrasi yang baik.

Ketua PCNU Jakbar

Ketua PCNU Jakbar

Ditempat terpisah, Ketua PCNU Jakarta Barat Agus Salim yang dikonfirmasi wartawan mengakui ikut menghadiri undangan dari Sekda DKI Marullah Matali bersama pengurus PCNU lainnya. Adapun pertemuan itu hanya sebatas silaturahmi dan diskusi santai.  “Ya hanya ngobrol-ngobrol santai, sesama warga Betawi saja. Tak ada janji apa-apa,” kata Ketua PCNU Jakarta Barat Agus Salim yang dikonfirmasi wartawan, Jakarta Kamis (4/3/2021).

Menurut Agus, hal yang terpenting adalah semua kandidat harus mendapat restu dari Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dan berniat mengabdi untuk NU dan umat. “Kalau ada yang coba-coba memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi dan politik pasti akan kuwalat dunia akhirat,” ujarnya.

Sejauh ini Agus mengaku belum tahu mana kandidat yang terbaik, baik itu yang berasal dari kader NU, politisi, birokrat dan lain-lain. Karena, siapapun yang akan menjadi Ketua NU Jakarta harus bisa menjalankan program NU. “Intinya, orang yang bersangkutan harus memiliki komitmen pada NU dan warga NU.”

Saat ditanya, bukankah birokrat dan politisi selama ini justru sibuk dan berat dengan tugasnya, menurut Agus Salim hal itu tergantung pada masing-masing individu. “Gak boleh menyebut orang tak mampu, itu mendahului takdir Allah SWT,” tambahnya.

Yang pasti PC NU Jakarta Barat belum ada pilihan, dan tak akan memilih mereka yang main-main dengan NU, apalagi main uang. “Tapi, saat ini saya lagi bingung ini,” pungkasnya. ***

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top