Opini

Isra’ Mikraj dalam Perspektif Keimanan, Mukjizat, Sejarah, Syariah, dan Sains

Isra’ Mikraj dalam Perspektif Keimanan, Mukjizat, Sejarah, Syariah, dan Sains
Ketua umum DNIKS Effendy Choirie/Foto: DNIKS

*) A. Effendy Choirie

Pendahuluan
Peristiwa Isra’ dan Mikraj merupakan salah satu tonggak paling fundamental dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW, melainkan ujian keimanan, manifestasi mukjizat, fakta sejarah kenabian, fondasi syariah, serta tantangan intelektual bagi sains modern.

Isra’ Mikraj tidak berdiri sendiri sebagai cerita spiritual, tetapi menjadi poros yang menghubungkan langit dan bumi, wahyu dan akal, ibadah dan kehidupan sosial. Karena itu, memahami Isra’ Mikraj secara komprehensif akan memperkaya makna Islam sebagai agama rahmat dan peradaban.

Isra’ Mikraj dalam Perspektif Keimanan
Dalam perspektif keimanan, Isra’ Mikraj adalah ujian iman paling berat bagi umat Islam awal. Ketika Nabi SAW menyampaikan peristiwa tersebut, sebagian orang yang sebelumnya mengaku beriman justru ragu dan murtad.

Al-Qur’an membuka kisah ini dengan penegasan keagungan Allah: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…” (QS. Al-Isra’: 1)

Keimanan menuntut sikap taslim (berserah diri), bukan sekadar logika. Abu Bakar Ash-Shiddiq disebut Ash-Shiddiqjustru karena berkata: “Jika Muhammad yang mengatakan, maka itu pasti benar.” Isra’ Mikraj mengajarkan bahwa iman sejati melampaui keterbatasan nalar, tanpa menafikan akal itu sendiri.

Isra’ Mikraj sebagai Mukjizat Kenabian

Isra’ Mikraj adalah mukjizat luar biasa, karena melibatkan perjalanan lintas ruang dan dimensi dalam waktu yang sangat singkat.

Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan:
● Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’)
● Lalu naik ke Sidratul Muntaha (Mikraj) Mukjizat ini berbeda dari mukjizat para nabi sebelumnya, karena:

1. Terjadi secara sadar dan jasmani–ruhani 2. Menjadi pengantar turunnya perintah shalat 3. Mempertegas posisi Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi Mukjizat bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk meneguhkan risalah dan memperkuat umat dalam menghadapi tantangan zaman.

Isra’ Mikraj dalam Perspektif Sejarah

Secara historis, Isra’ Mikraj terjadi pada masa yang sangat berat dalam kehidupan Nabi SAW, dikenal sebagai ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan):
● Wafatnya Khadijah RA ● Wafatnya Abu Thalib
● Penolakan dakwah di Thaif Dalam konteks ini, Isra’ Mikraj dapat dipahami sebagai:
● Penguatan psikologis dan spiritual bagi Nabi
● Isyarat bahwa perjuangan Islam tidak berhenti di Makkah
● Penghubung simbolik antara Makkah–Madinah–Baitul Maqdis Masjidil Aqsha menjadi saksi bahwa Islam sejak awal adalah agama lintas bangsa dan peradaban, bukan agama etnis atau wilayah tertentu.

Isra’ Mikraj dalam Perspektif Syariah

Dari Isra’ Mikraj lahir kewajiban shalat lima waktu, yang menjadi:
● Rukun Islam kedua
● Tiang agama
● Ukuran kualitas keimanan seseorang Shalat bukan sekadar ritual individual, tetapi memiliki implikasi sosial yang kuat: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Dalam perspektif syariah sosial:
● Shalat membentuk disiplin waktu
● Menanamkan kesetaraan sosial (semua berdiri sejajar)
● Menumbuhkan kepekaan moral dan sosial Tanpa shalat yang benar, sulit membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.

Isra’ Mikraj dalam Perspektif Sains
Sains modern memang tidak dirancang untuk membuktikan mukjizat, tetapi perkembangan ilmu pengetahuan justru membuka ruang pemahaman baru.

Konsep-konsep seperti:

● Relativitas waktu (time dilation)
● Dimensi ruang-waktu
● Kecepatan cahaya
● Teori multiverse menunjukkan bahwa perjalanan luar biasa dalam waktu singkat bukanlah sesuatu yang mustahil secara teoritis.

Namun perlu ditegaskan:

● Isra’ Mikraj bukan eksperimen ilmiah
● Sains tidak menjadi hakim atas wahyu
● Wahyu justru sering mendahului sains Sains membantu manusia merendah, bahwa alam semesta jauh lebih luas dari kemampuan indera dan logika.

Penutup:
Makna Sosial Isra’ Mikraj Isra’ Mikraj bukan hanya peristiwa langit, tetapi pesan bumi. Shalat yang lahir dari Mikraj seharusnya melahirkan:

● Kepedulian terhadap fakir miskin
● Perlawanan terhadap ketidakadilan
● Komitmen pada kesejahteraan sosial Tanpa dimensi sosial, Isra’ Mikraj hanya akan menjadi ritual tahunan, bukan sumber transformasi.

Sebagai Ketua Umum DNIKS, saya memandang Isra’ Mikraj sebagai fondasi spiritual bagi perjuangan kesejahteraan sosial. Iman yang naik ke langit harus kembali ke bumi untuk membela manusia.***

*)Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)

BERITA POPULER

To Top