*)Dr A Effendy Choirie
Pendahuluan
● Peristiwa Isra’ dan Mikraj Nabi Besar Muhammad S.A.W. merupakan salah satu momentum paling agung dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar perjalanan fisik, Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha, tetapi juga perjalanan spiritual, moral, dan sosial umat manusia.
● Puncak dari peristiwa Isra’ Mikraj adalah perintah shalat, yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad S.A.W. tanpa perantara. Ini menegaskan bahwa shalat bukan sekadar ritual ibadah individual, melainkan fondasi pembentukan manusia beriman, berakhlak, dan berkeadilan sosial.
● Dalam konteks keindonesiaan hari ini ketika kemiskinan, ketimpangan sosial, krisis moral, dan melemahnya solidaritas masih menjadi persoalan pesan shalat dalam Isra’ Mikraj menemukan relevansi yang sangat kuat.
Shalat sebagai Fondasi Spiritualitas.
Secara spiritual, shalat adalah mi’raj-nya orang beriman. Ia menjadi sarana komunikasi langsung antara manusia dan Allah SWT. Dalam shalat, manusia diajak untuk:
1. Menyadari keterbatasan diri, bahwa kekuasaan mutlak hanya milik Allah.
2. Menata hati dan niat, agar hidup tidak dikuasai keserakahan dan egoisme.
3. Menumbuhkan kesabaran dan ketundukan, nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Allah SWT menegaskan: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Artinya, shalat yang benar akan melahirkan manusia yang bersih secara batin dan lurus secara moral.
Dimensi Sosial Shalat
Shalat tidak berhenti pada kesalehan personal. Ia memiliki implikasi sosial yang sangat kuat.
Gerakan shalat mengajarkan kesetaraan—semua berdiri sejajar tanpa membedakan status
sosial, jabatan, kekayaan, atau kekuasaan. Shalat berjamaah menanamkan nilai:
● Disiplin kolektif
● Kepemimpinan yang bertanggung jawab
● Kebersamaan dan persatuan
Lebih dari itu, shalat seharusnya melahirkan kepekaan sosial. Orang yang rajin shalat tetapi abai terhadap kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan sesama, sesungguhnya telah kehilangan ruh shalat itu sendiri. Al-Qur’an bahkan memberi peringatan keras:“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah ritual harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial.
Isra’ Mikraj dan Tanggung Jawab Sosial Bangsa
Dalam perspektif kebangsaan, pesan Isra’ Mikraj dan shalat sangat relevan dengan cita-cita. Indonesia yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Shalat mengajarkan bahwa:
● Kekuasaan adalah amanah, bukan alat penindasan.
● Kekayaan adalah titipan, bukan untuk ditumpuk secara serakah.
● Negara dan masyarakat memiliki kewajiban moral untuk melindungi fakir miskin, anak terlantar, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya. Di sinilah peran organisasi sosial seperti DNIKS menjadi penting, sebagai jembatan antara nilai-nilai spiritual agama dan praktik nyata kesejahteraan sosial.
Penutup
Peringatan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad S.A.W. seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan ritual tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi dan transformasi, baik secara pribadi maupun sosial. Shalat yang lahir dari peristiwa Isra’ Mikraj adalah panggilan untuk:
● Memperkuat iman,
● Memperbaiki akhlak,
● Membangun keadilan sosial,
● Dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Jika shalat benar-benar hidup dalam diri umat dan para pemimpin bangsa, maka Indonesia yang adil, sejahtera, dan bermartabat bukanlah utopia, melainkan keniscayaan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
*)Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)








