Pertanian

DNIKS: Kedelai Lokal Diabaikan, Saatnya Grobogan + Biochar Jadi Strategi Nasional

DNIKS: Kedelai Lokal Diabaikan, Saatnya Grobogan + Biochar Jadi Strategi Nasional
Wakil Ketua DNIKS Rudi Andries (kiri) bersama Ketua umum DNIKS Gus Choi/Foto: DNIKS

*)Rudi Andries

Kedelai itu bahan baku tempe & tahu (protein rakyat), konsumsi massal nasional. Ironisnya bahan bakunya impor. Selama puluhan tahun, Indonesia berjalan dalam paradoks: negara agraris dengan ketergantungan tinggi pada impor kedelai. Hingga kini, sekitar 80–90% kebutuhan nasional masih dipenuhi dari luar negeri. Narasi lama menyebut Indonesia tidak cocok menanam kedelai. Namun fakta di lapangan membantah asumsi tersebut.

Indonesia memiliki varietas unggul seperti Kedelai Grobogan—berbiji besar, produktivitas tinggi, dan sesuai untuk kebutuhan industri tempe dan tahu. Ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada faktor alam atau benih, melainkan pada ketiadaan desain kebijakan yang konsisten mendukung produksi lokal. Selama ini, pendekatan yang dilakukan regulator cenderung administratif: distribusi benih tanpa jaminan pasar, program tanam tanpa kepastian serapan, serta minimnya perlindungan harga bagi petani. Akibatnya, petani menanggung risiko, produksi tidak berkelanjutan, dan ketergantungan impor terus berulang.

Terkesan semacam ada modus, produksi lokal dilemahkan, impor distabilkan, pemain besar pegang distribusi. Di tengah stagnasi tersebut, muncul peluang terobosan melalui integrasi Kedelai Grobogan dengan Biochar. Kombinasi ini terbukti mampu meningkatkan retensi air, memperbaiki struktur tanah, mengurangi penggunaan pupuk hingga 20–40%, serta mendorong peningkatan produktivitas secara signifikan. Dampaknya tidak hanya pada hasil panen, tetapi juga pada efisiensi biaya dan keberlanjutan lahan.

Lebih dari itu, pendekatan ini membuka peluang ekonomi baru. Dengan meningkatnya produktivitas dan efisiensi, petani memperoleh margin lebih baik, kesejahteraannya meningkat, sementara negara dapat mengurangi impor dan memperkuat ketahanan pangan. Bahkan, integrasi biochar berpotensi menghadirkan nilai tambah melalui skema karbon, menjadikannya menarik dari sisi investasi. Dengan kebutuhan kedelai nasional yang sangat besar, substitusi impor bukan hanya agenda pangan, tetapi juga peluang pasar domestik bernilai tinggi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu memproduksi kedelai sendiri, tetapi apakah ada keberanian untuk mengubah arah kebijakan. Dengan varietas unggul yang tersedia dan teknologi yang mendukung, kedelai lokal dapat menjadi tulang punggung baru kedaulatan pangan nasional. Pasal kedelai ini adalah food sovereignty issue. Menyangkut kedaulatan pangan. Pemerintah Presiden Prabowo Subianto perlu melakukan dekolonisasi supply chain. Kedelai Grobogan + Biochar bukan sekadar solusi pertanian, melainkan strategi ekonomi nasional.***

*)Wakil Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Kesejahteraan Sosial (DNIKS), dan Anggota Pengawas Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII)

BERITA POPULER

To Top