JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM–Dewan Nasional Indonesia Kesejahteraan Sosial (DNIKS) menilai pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Kuala sudah tepat. Apalagi fokus Satgas ini menormalisasi alur sungai di wilayah terdampak akibat bencana Sumatera, berupa pengerukan kuala (muara dan pertemuan sungai) sekaligus membuat sumur-sumur air bersih. “Usulan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin untuk mengeruk kuala-kuala yang terhubung ke daerah bencana di Sumatera guna memudahkan tranportasi air bagi logistik, barang kontruksi dan alat-alat berat ke lokasi bencana adalah ide brilian,” kata Wakil Ketua Umum DNIKS, Rudi Andries dalam keterangan resminya, di Jakarta, Sabtu (3/1/2026).
Rudi mengapresiasi kebijakan pembentukan Satgas Kuala yang langsung direspon Presiden Prabowo Subianto dengan menyediakan anggaran Rp60 Triliun. Bahkan Satgas Kuala akan lebih signifikan kontribusinya manakala bersinergi dengan inovasi pembuatan BIOCHAR (arang bio) dari kayu-kayu yang memenuhi alur kuala dan sekitarnya. “Dalam konteks bencana dan pemulihan pascabanjir seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menjadikan tumpukan limbah kayu bukan sekadar sisa bencana, melainkan sumber daya yang jika dikelola dengan tepat dapat mempercepat pemulihan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat terdampak,” ujarnya lagi.
Produk Biochar sebagai salah satu solusi berbasis lapangan, dimana pengolahan biomassa kayu pascabanjir bisa dilakukan secara lokal, yakni melalui teknologi pirolisis. Hal ini sangat membantu mengatasi kerusakan lingkungan sekaligus menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat di lokasi bencana.
Selain itu, BIOCHAR bisa mencegah masalah sekunder. Pasalnya, tanpa pengelolaan yang terencana, maka limbah kayu pascabanjir berpotensi memicu persoalan baru, mulai dari pembakaran terbuka hingga gangguan kesehatan, yang justru memperpanjang dampak bencana. “Ada nilai sosial serta membuka lapangan kerja dengan pendekatan berbasis jasa lingkungan. Juga membuka peluang kerja bagi warga terdampak bencana, sekaligus memastikan nilai ekonomi tetap berputar di komunitas yang paling membutuhkan,” paparnya.
Dengan BIOCHAR, sambung Rudi, bisa menciptakan lingkungan dan ketahanan lanskap. Karena mengolah limbah kayu menjadi biochar membantu memulihkan kualitas tanah, mengurangi emisi karbon, dan memperkuat ketahanan lanskap pascabanjir secara berkelanjutan.
Perspektif Sistem Pemulihan pascabencana tidak cukup berhenti pada pembersihan, tetapi harus dirancang sebagai sistem yang mampu mengubah sisa bencana menjadi fondasi ketahanan lingkungan jangka panjang. “Dengan kerangka kebijakan yang tepat, pengelolaan limbah kayu pascabanjir dapat menjadi bagian dari strategi pemulihan nasional yang adil, efektif, dan berpihak pada masyarakat terdampak,” pungkas Rudi.***
Penulis : Eko Cahyono
Editor : Eko Cahyono








