Industri & Perdagangan

Terdampak Pandemi, Dipo: Perlu Model dan Pendekatan Baru Guna Bangun Pariwisata NTT

NGADA, SUARAINVESTOR.COM-Industri pariwisata merupakan sektor yang paling terpukul saat pandemi Covid-19. Tak hanya hotel dan restauran yang bangkrut, namun juga pelaku UMKM Pariwisata ikut terdampak.

“Karena itu perlu sinergisitas antara masyarakat, pelaku usaha, pemda dan pemerintah pusat untuk bergotong royong mencari solusi. Sebab, NTT mempunyai potensi pariwisata yang besar dimasa-masa yang akan datang,” kata Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB), NM. Dipo Nusantara Pua Upa, SH, M.Kn melakukan kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Hotel Bintang Wisata Bajawa, Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur, (18/2/2021).

Kegiatan Empat Pilar tersebut dihadiri sekitar 150 peserta yang terdiri dari unsur masyarakat pelaku sektor pariwisata, petani, nelayan, pedagang kecil, aparat desa, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat setempat.

Program kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bertujuan untuk membumikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa yang terkandung dalam Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.

Legislator dari Dapil NTT I ini mengajak pelaku usaha tetap semangat dan terus mencari terobosan bisnis, meskipun sektor pariwisata terkena resesi ekonomi akibat pandemi tersebut. “Tetap teguh dan konsisten dalam menjalankan dan mematuhi protokol kesehatan (Prokes). Kita optimis seluruh stake holder pariwisata, secara perlahan dapat pulih dan bangkit kembali,” ungkap lagi.

Politisi PKB ini menambahkan di sinilah dibutuhkan model dan pendekatan baru dalam pembangun sektor pariwisata ini, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur. “Model baru tersebut adalah pembangunan sektor pariwisata yang berkelanjutan, yakni yang mengedepankan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial budaya sebagai model dan acuan dalam pembangunan sektor pariwisata di wilayah Nusa Tenggara Timur,” terangnya lagi.

Terlebih lagi, lanjut Dipo, di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, kepercayaan wisasatawan dan masyarakat menjadi faktor kunci dalam menumbuhkan dan membangkitkan kembali sektor pariwisata. “Ini berarti, dalam membangun sektor pariwisata tidak hanya semata-mata mengedepankan aspek ekonomi belaka, tetapi aspek pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), ketahanan serta keutuhan sebuah masyarakat bangsa menjadi penting.”

Lebih jauh kata Dipo, ciri khas dari sektor pariwisata Nusa Tenggara Timur adalah adanya eksotisme berbalut budaya itulah kesan yang dirasakan jika berwisata ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).  “Tak hanya keindahan panorama alamnya yang menjadi daya pikat, tapi juga kekayaan budaya serta tradisi yang masih terjaga kuat oleh masyarakat adatnya. Pantai Nihiwatu di Sumba Barat adalah salah satunya,” paparnya.

Mantan Aktivis Gerakan Pemuda Ansor ini menjelaskan obyek favorit ini dikenal sebagai pantai yang indah dan surga bagi peselancar dunia. Perkampungan rumah adat dapat ditemukan di Wae Rebo, yang dikenal dengan rumah ikoniknya. Atau, arena menyelam di taman bawah laut di Pulau Alor.

Tak hanya laut, sambung Dipo, di dataran tingginya pun menyimpan keindahan seperti terlihat di kawah tiga warna Kelimutu. “Disinilah sekali lagi, keutuhan kita sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi modal dasar dalam menjaga, melesatarikan, dan mengembangkan warisan budaya bangsa yang mempunyai nilai ekonomis karena menjadi destinasi pariwisata baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara,” pungkas. ***

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top