Market

Serangan Covid-19 Melonjak, Najib: Perketat Efisiensi Anggaran, Lakukan Skala Prioritas

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Serangan Covid-19 gelombang kedua ternyata membuat APBN 2021 semakin terkuras. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi nasional akan makin berat dan bahkan target pertumbuhan hingga 5% pada 2022 teracam gagal. “Kunci pemulihan ekonomi itu dimulai dari kemampuan pemerintah mengendalilan wabah, bilamana itu tidak bisa dilakukan, maka target pertumbuhan tidak akan tercapai,” kata Anggota Komisi XI DPR Ahmad Najib Qodratullah kepada wartawan, Selasa (6/7/2021).

Saat ditanya soal penerapan PPKM Darurat selama dua minggu yang diperkirakan berefek negatif pada sejumlah perusahaan dan kemungkinan besar banyak perusahaan yang bangkrut, Politisi PAN ini tak membantahnya. “Itulah yang saya selalu khawatirkan. Kalau boleh flashback dan kalau saja dulu kita berani melakukan lockdown, maka dampaknya tidak akan seperti sekarang,” ujarnya.

Alasannya, kata Legislator dari Dapil Jabar II, kemampuan APBN saat itu dinilai masih cukup kuat. “Saat itu kita masih memiliki cadangan yang cukup, bahkan dukungan politik yang luar biasa,” tegasnya.

Namun sebagai anak bangsa, lanjut Najib, pihaknya tentu masih harus menggelorakan semangat optimisme, dengan cara mendesak pemerintah secara lugas dan tegas melakukan pembenahan-pembenahan. “Misalnya, dimulai dengan segera mengendalikan pandemi agar tidak terus mendatangkan malapetaka dan terus menerus bagi rakyat kita,” paparnya lagi.

Terkait kemungkinan pemerintah berutang lagi, sambung Najib, DPR berharap opsi utang itu adalah langkah terakhir. Jangan justeru sebaliknya, malah menggenjot utang. “Bahkan seharusnya melakukan pergeseran anggaran dengan mengedepankan prioritas dan melakukan efisiensi secara ketat,” imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memprediksi akibat PPKM Darurat, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 tumbuh hanya di level 4% year on year (yoy). Prediksi ini lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelum diberlakukannya PPKM Darurat, yakni sebesar 6,5% yoy.

Mantan Direktur Bank Duni menambahkan pertumbuhan ekonomi di level 4% yoy tersebut terjadi dengan skenario cukup moderat, yakni apabila Juli 2021 kasus Covid-19 sudah bisa dikendalikan. Kemudian, Agustus 2021 aktivitas masyarakat bisa berjalan normal.

Namun, jika pengendalian pandemi berlangsung lebih lama, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat terus melandai, Menkeu memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa turun di bawah 4% yoy. “Jadi ini tergantung dari periode berlangsungnya (PPKM Darurat), yang perlu kita waspadai, keketatan imunitas, melalui vaksinasi menjadi sangat penting, protokol kesehatan dari Covid masih perlu dikendalikan,” ujar Menkeu Sri Mulyani saat Konferensi Pers Hasil Sidang Rapat Paripurna, Senin (5/7). ***

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top