Market

Produk UMKM Perlu Didukung Branding dan Komunikasi

Produk UMKM Perlu Didukung Branding dan Komunikasi

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM- Untuk dapat terus bertumbuh pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Indonesia perlu membekali diri dengan kemampuan untuk melakukan branding dan mengkomunikasikan produk, sehingga dapat memanfaatkan medium-medium digital yang relatif terjangkau.

Penegasan disampaikan Communication Lead Briefer.id, Celixa Yovanka dalam Webinar bertajuk MerdekaBerkolaborasi “Branding & Komunikasi untuk Pelaku UMKM, Penting Gak sih?!” pada Minggu (22/8/2021).

Webinar juga menghadirkan pelaku UMKM Driana Rini dan Brand Strategist Purwanto Hasan.

Di era sekarang ini, Celixa berpandangan mengkomunikasikan produk UMKM dan usaha secara digital melalui sosial media jauh lebih optimal. Karena dapat menyasar khalayak yang ditarget dan dapat menumbuhkan skala bisnisnya secara bertahap, demikian hasil rangkuman dari webinar bertajuk #MerdekaBerkolaborasi.

Terkait itu, Briefer.id hadir untuk memudahkan para pelaku UMKM dalam memasarkan produknya. “Branding dan mengkomunikasikan produk merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) agar bisa menembus pasar dan tetap eksis sehingga dapat memperluas usahanya,” ujar Celixa.

Celixa berharap melalui seri webinar ini, dapat menjadi wadah bagi para pelaku UMKM untuk mengkomunikasikan tentang bagaimana produk dan mereknya serta berbagi inspirasi. “Bukan hanya kisah sukses, tetapi juga kisah kegagalan untuk mendapatkan ragam pengalaman langsung dari pakarnya,” tutur Celixa.

Lebih jauh, Celixa menekankan pelaku UMKM harus kreatif dan inovatif. Selain itu selalu berani mencoba hal-hal baru, sehingga konsumen akan selalu datang kembali mencoba produk dari si penjual tersebut.

“Menghadapi dinamika kenormalan baru, kolaborasi juga menjadi bagian yang penting dalam UMKM demi menciptakan pertalian kuat dalam kreativitas sehingga bersama-sama dapat menggerakan produktivitas perekonomian,” tegas Celixa.

Pembicara lainnya, Brand Strategist Purwanto Hasan mengatakan meski banyak produk yang sama di pasaran, namun tetap ada bedanya. “Yang membedakan adalah apa tujuan dari pembuatan produknya atau bagaimana kisah di balik produk tersebut. Hal itu tentunya penting untuk dikomunikasikan melalui branding yang baik kepada konsumen agar tetap loyal,” ujarnya.

Artinya, dalam hal ini branding bukan sekadar masalah merek atau visualisasi yang bagus dari sebuah produk. Lebih dalam dari itu, branding terkait nilai-nilai yang ingin disampaikan seperti awal sebuah produk terbentuk, hingga citra yang ingin dicapai.

“Contohnya Wakai, dia mengincar orang–orang yang suka produk look-alike Jepang dengan harga yang lebih murah. Makanya dia membuat produk sepatu Jepang sehingga orang-orang berprasangka bahwa itu adalah produk Jepang padahal produk lokal,” ujar Purwanto.

Dengan menguatkan komunikasi melalui branding yang baik, konsumen dapat membedakan produk yang satu dengan produk yang lain meski tampak sama. Harapannya konsumen lebih menyukai dan mengkonsumsi produk tersebut.

Menurut Purwanto, kisah yang tepat dari sebuah produk akan juga membuat konsumen tersentuh dan tertarik untuk mencoba dan membeli produk tersebut. Karena itu dalam membuat kisah sebuah produk, pelaku UMKM harus mencari keunikan di balik produk tersebut.

Kisah atau cerita di balik sebuah brand pun menurutnya harus konsisten. Pelaku usaha harus menjauhi kisah negatif yang membuat konsumen enggan mencoba produk tersebut.

“Pertama cari insights dulu, apa yang orang-orang mau. Tapi mulailah dari produk yang diketahui dan disukai oleh diri sendiri. Story – story (negatif) tersebut menurut saya gak akan terjual, mungkin sekali, tetapi habis itu orang akan merasa bahwa you’re just making it up biar orang mau beli,” ujarnya.

Pendapat Purwanto diamini Pemilik usaha kuliner Sei Sapi dengan merek “Frozen Food by @venustweets” yang juga pegiat media sosial Driana Rini. Berdasar pengalaman pribadinya, Driana mengungkapkan cara berjualan paling enak adalah dengan bercerita atau story telling.

Pasalnya, hal tersebut bisa menyentuh hati para konsumen. Selain itu, kata dia, penjual juga harus memastikan produknya bagus, cita rasa makanan enak, dan tonjolkan keunikannya.

“Lebih baik juga untuk menjual sesuatu yang kita tahu dan suka. Semua makanan yang saya jual itu tadinya yang saya suka beli, seperti empek-empek, sei sapi, bakso. Itu sebenarnya jualan dari produksi temen – temen yang tadinya saya beli ke mereka. Jadi pastikan kita suka dulu sama produknya, produknya enak dan bagus,” ujar Driana.(dito)

BERITA POPULER

To Top