JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM–Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteran Sosial (DNIKS) dan Bappenas terus mematangkan pembentukan Gugus Tugas untuk membantu pemerintah dalam pembangunan kesejahteraan sosial nasional. Salah satu, tugas utamanya adalah merumuskan kebijakan dan sejumlah strategi yang tepat sasaran. “Saya dan Mbak Dian hari ini rapat bersama Bappenas mematangkan pembentukan skema gugus tugas,” kata Sekjen DNIKS Sudarto usai menghadiri pembukaan “Filantropi Festival 2025: Budaya dan Ekosistem Filantropi untuk Dampak yang Lebih Baik” dilakukan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof Dr Ir Rachmat Pambudy di Jakarta, Senin (4/8/2025).
Dalam acara tersebut, Sudarto mendampingi Ketua umum DNIKS A Effendy Choirie yang diundang Perhimpunan Filantropis Indonesia (PFI), dimana Fransiscus Welirang menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat PFI.
Selain itu hadir pula, para Waketum DNIKS, Rudi Andries dan Dian Novita Susanto.

Lebih jauh Sudarto mengapreasiasi kegiatan PFI yang mengambil tema “Budaya dan Ekosistem Filantropi untuk Dampak yang Lebih Baik: Membuka Potensi Filantropi untuk SDGs dan Agenda Iklim”, yang bertujuan untuk menekankan pentingnya memperkuat budaya dan ekosistem filantropi Indonesia agar lebih strategis dan kolaboratif dalam mendukung pencapaian SDGs dan agenda iklim secara berkelanjutan.
Ditempat yang sama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan potensi filantropi di Indonesia lebih dari Rp600 triliun.
Diakui Rachmat bahwa dirinya berkembang karena filantropis saat dulu menempuh pendidikan di Persatuan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD) yang dimiliki oleh filantropis. Sekolah lainnya seperti Al-Izhar hingga perguruan tinggi Prasetiya Mulya turut didirikan oleh para filantropis. “Sebenarnya filantropis Indonesia juga sudah membangun dirinya dan membangun untuk Indonesia. Kalau para filantropis bisa membangun negerinya, maka ini adalah langkah awal kita untuk membangun Indonesia yang lebih berkelanjutan,” ungkap Kepala Bappenas.
Konsolidasi para filantropis yang membangun kesadaran dan kekuatan dengan semangat keswadayaan untuk memberikan dampak positif lebih luas dianggap menjadi awal dari pembangunan nasional. “Jadi filantropis adalah bagaimana manusia mencintai sesamanya. Kalau manusia mencintai sesamanya berhimpun untuk mencintai sesamanya, maka ini adalah langkah awal yang baik untuk membangun sebuah kemanusiaan, membangun kemasyarakatan, dan juga membangun bangsa dan negara kita Indonesia,” pungkas Guru Besar IPB.***
Penulis : Eko Cahyono
Editor : Eko Cahyono








