*) Dr. H. Ahmad Effendy Choirie, M.Ag., M.H.
Nahdlatul Ulama (NU) telah memasuki usia satu abad lebih. Dalam rentang sejarah yang panjang itu, NU tidak hanya menjadi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi juga salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Berangkat dari rahim pesantren, NU tumbuh menjadi kekuatan sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan yang memiliki pengaruh besar terhadap arah perjalanan bangsa Indonesia.
Berbagai survei menunjukkan besarnya basis sosial NU. Salah satu survei yang banyak dikutip adalah survei yang dirilis oleh lembaga yang dipimpin oleh Denny JA, yang menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen umat Islam Indonesia mengaku memiliki afiliasi kultural maupun organisatoris dengan NU. Terlepas dari perbedaan metodologi dan angka antar survei, tidak dapat dipungkiri bahwa NU merupakan representasi terbesar umat Islam Indonesia dan memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap masa depan bangsa.
Memasuki abad kedua, NU menghadapi tiga tantangan besar sekaligus, yaitu menjaga tradisi keagamaan yang telah diwariskan para ulama pendiri, membangun relasi yang sehat dengan kekuasaan, dan menghadapi perubahan geopolitik global yang semakin kompleks.
Memelihara Tradisi Sebagai Pilar Peradaban
Kekuatan utama NU terletak pada tradisi. Tradisi NU bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sistem nilai yang membentuk karakter umat. Tradisi tahlil, istighatsah, maulid, manaqib, ziarah kubur, pengajian kitab kuning, penghormatan kepada guru, sanad keilmuan, dan kehidupan pesantren telah terbukti menjadi benteng moral masyarakat Indonesia selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Tradisi itulah yang menjaga umat dari sikap ekstrem, radikal, dan intoleran. Tradisi NU mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan alam semesta.
Namun tradisi tidak boleh berhenti menjadi romantisme masa lalu. Tradisi harus menjadi energi transformasi sosial. Pesantren tidak cukup hanya mencetak ahli agama, tetapi juga harus melahirkan pemimpin, intelektual, teknokrat, pengusaha, dan aktivis sosial yang mampu menjawab tantangan zaman. Tradisi harus menjadi fondasi kemajuan, bukan alasan untuk tertinggal.
Relasi Kekuasaan yang Semakin Terjal
Sejarah menunjukkan bahwa NU tidak pernah jauh dari urusan negara. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, mempertahankan NKRI, menghadapi pemberontakan, hingga mengawal reformasi, NU selalu hadir di garis depan menjaga bangsa.
Namun hubungan antara NU dan kekuasaan selalu menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Kekuasaan ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi dapat digunakan untuk memperjuangkan kemaslahatan rakyat, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan konflik kepentingan, pragmatisme politik, dan pergeseran orientasi perjuangan.
Dalam konteks Indonesia hari ini, NU menghadapi kenyataan bahwa banyak kebijakan publik yang menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat. Berbagai bentuk pungutan dan kenaikan pajak dirasakan semakin membebani rakyat kecil dan kelas menengah. Pada saat yang sama, biaya hidup meningkat, lapangan kerja belum sepenuhnya tersedia sesuai kebutuhan, dan daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan.
Lebih memprihatinkan lagi, praktik korupsi masih terus terjadi. Hampir setiap waktu masyarakat disuguhi berita tentang penangkapan pejabat, penyalahgunaan anggaran, suap, gratifikasi, hingga berbagai bentuk penyimpangan kekuasaan lainnya. Korupsi yang terjadi secara berulang bukan hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merusak kepercayaan rakyat terhadap pemerintah dan lembaga-lembaga publik.
Dalam situasi seperti ini, NU memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kritik yang konstruktif kepada pemerintah. Kritik bukan berarti permusuhan. Kritik adalah bentuk kecintaan kepada bangsa dan negara. NU harus tetap menjadi mitra strategis pemerintah, tetapi sekaligus menjadi suara nurani rakyat.
NU harus berani mengingatkan bahwa tujuan bernegara sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Karena itu setiap kebijakan negara semestinya diukur berdasarkan keberpihakannya kepada rakyat, terutama kelompok miskin, lemah, dan rentan.
NU juga harus menjadi pelopor gerakan moral untuk melawan korupsi. Sebab korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah rakyat dan nilai-nilai agama.
Tantangan Geopolitik Global yang Semakin Kompleks
Selain tantangan domestik, NU juga menghadapi perubahan geopolitik dunia yang sangat dinamis. Konflik yang berkepanjangan di Palestina, perang di berbagai kawasan, rivalitas kekuatan besar dunia, krisis energi, krisis pangan, perubahan iklim, serta ketidakpastian ekonomi global memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap Indonesia.
Dunia saat ini sedang mengalami pergeseran kekuatan global. Persaingan ekonomi dan politik antarnegara besar semakin tajam. Dalam situasi demikian, negara-negara berkembang sering kali menjadi arena perebutan pengaruh.
Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia tidak boleh hanya menjadi penonton.
Indonesia harus tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan memperjuangkan perdamaian dunia. Di sinilah NU memiliki peran yang sangat strategis. Dengan jaringan ulama, pesantren, organisasi masyarakat, dan hubungan internasional yang luas, NU dapat menjadi jembatan dialog antarbangsa dan antarperadaban.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa konflik politik sering kali dapat diredakan melalui jalur dialog. Ketika diplomasi politik mengalami kebuntuan, diplomasi kebudayaan dan diplomasi keagamaan sering kali mampu membuka jalan menuju perdamaian. Karena itu, para agamawan dunia memiliki tanggung jawab besar untuk memperkuat dialog lintas agama, lintas budaya, dan lintas peradaban. Ulama Islam, pemimpin Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, dan tokoh-tokoh agama lainnya harus terus membangun ruang perjumpaan dan komunikasi yang konstruktif.
Dialog antarpemuka agama tidak hanya penting untuk meredakan konflik keagamaan, tetapi juga dapat membantu menurunkan ketegangan politik dan ekonomi global. Ketika para pemimpin agama berbicara tentang perdamaian, keadilan, kemanusiaan, dan persaudaraan universal, mereka sedang membangun fondasi moral yang dibutuhkan dunia modern.
NU memiliki modal yang sangat kuat untuk memainkan peran tersebut. Tradisi moderasi, toleransi, keseimbangan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan yang selama ini menjadi ciri khas NU dapat menjadi kontribusi nyata bagi perdamaian dunia.
Penutup
Memasuki abad kedua, NU tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi. NU harus mampu menjadikan tradisi sebagai kekuatan transformasi sosial. NU juga harus mampu menjaga relasi yang sehat dengan kekuasaan: dekat untuk memperjuangkan kemaslahatan rakyat, tetapi tetap kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat dan terhadap praktik korupsi yang merusak bangsa.
Pada saat yang sama, NU harus mengambil peran lebih besar dalam percaturan geopolitik global dengan mengedepankan diplomasi moral, dialog antaragama, dan kerja sama kemanusiaan internasional.
Jika tradisi tetap terpelihara, relasi kekuasaan tetap dijaga dalam koridor moral, dan diplomasi kemanusiaan global terus diperkuat, maka NU tidak hanya akan menjadi pilar utama Islam Indonesia, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan moral dunia yang ikut mewujudkan cita-cita perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.
NU yang kuat bukanlah NU yang dekat dengan kekuasaan semata, melainkan NU yang tetap setia kepada umat, rakyat, bangsa, dan nilai-nilai kemanusiaan universal.***
*)Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)/Anggota DPR/MPR RI 1999–2013








