Opini

Mengenang Almarhum H. Muhammad Rodja:   Ideolog, Penggerak Kader dan Motivator Ulung PMII

Mengenang Almarhum H. Muhammad Rodja:   Ideolog, Penggerak Kader dan Motivator Ulung PMII
Dari kanan ke kiri, Ketua umum DNIKS Dr. H. Ahmad Effendy Choirie, M.Ag, Mantan Ketua Umum PMII DKI Jakarta, yakni Abdul Khalik Ahmad, Politisi Partai Golkar Mujib Rohmat, Wakil Menteri Sekneg, Dr Juri Ardiantoro dan Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mantan Ketua PMII Jember Purwanto M Ali/foto: DNIKS

*)Dr. H. Ahmad Effendy Choirie, M.Ag., M.H.

Suasana haru, khidmat, dan penuh kenangan menyelimuti Aula Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) di Jakarta Pusat ketika puluhan kader dan alumni PMII lintas generasi berkumpul untuk memperingati tujuh hari wafatnya H. Muhammad Rodja, SH, yang akrab dipanggil Kak Rodja.

Acara tersebut dimotori oleh dua mantan Ketua Umum PMII DKI Jakarta, yakni Abdul Khalik Ahmad dan Dr. H. Ahmad Effendy Choirie, M.Ag., M.H. Keduanya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengajak para kader dan alumni PMII mengenang jejak perjuangan salah satu tokoh penting PMII yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk kaderisasi, perjuangan sosial, dan pembelaan terhadap rakyat kecil.

Peringatan tujuh hari wafatnya Kak Rodja bukan sekadar ajang reuni para aktivis PMII. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang, meneladani, sekaligus mendoakan almarhum serta para pendahulu PMII yang telah lebih dahulu berpulang menghadap Allah SWT. Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tahlil, surat Yasin, dan doa bersama yang dipimpin secara khusyuk. Doa dipanjatkan untuk almarhum H. Muhammad Rodja, SH, serta seluruh pendahulu PMII yang telah mengabdikan hidupnya bagi organisasi, umat, bangsa, dan negara.

Dalam sambutannya, para penggagas acara menegaskan bahwa tradisi tahlil dan doa bukan hanya bentuk penghormatan kepada mereka yang telah wafat, tetapi juga menjadi sarana memperkuat ikatan batin antar-generasi kader PMII.”Kita ingin mengingat perjuangan para pendahulu. Jangan sampai sejarah mereka hilang. PMII hari ini berdiri di atas pengorbanan dan pengabdian para senior yang telah mendahului kita,” ujar Ahmad Effendy Choirie.

Setelah tahlil dan doa bersama, acara dilanjutkan dengan sesi testimoni yang menghadirkan berbagai kesaksian dari kader dan alumni PMII yang pernah berinteraksi langsung dengan Kak Rodja. Salah satu kesaksian yang menarik disampaikan oleh Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurutnya, Kak Rodja merupakan salah satu tokoh yang sangat berjasa dalam menggembleng kader-kader muda PMII pada era 1970-an dan 1980-an.

Prof. Masykuri mengenang bagaimana Kak Rodja tidak hanya memberikan arahan organisasi, tetapi juga sering membantu kader secara nyata.”Saya pernah mendapatkan bantuan dari Kak Rodja ketika mendapat undangan ke Amerika Serikat. Saat itu saya membutuhkan biaya dan beliau membantu saya. Sepulang dari Amerika, uang itu saya kembalikan. Tetapi yang paling berharga adalah perhatian dan kepercayaan yang beliau berikan kepada kader-kader muda,” kenangnya.

Kesaksian lain datang dari Mujib Rohmat, politisi Partai Golkar yang telah tiga periode menjadi anggota DPR RI.
Menurut Mujib, Kak Rodja merupakan sosok ideolog dan penggerak yang memiliki kemampuan luar biasa dalam membakar semangat kader.”Kak Rodja itu ideolog dan penggerak. Siapa pun yang mendengar ceramahnya pasti terpikat. Semangatnya menyala-nyala. Beliau selalu mendorong kader PMII agar berani maju, berani tampil, dan berani mengambil peran dalam kehidupan bangsa,” ujar Mujib.

Karena kemampuan tersebut, banyak kader menyebut Kak Rodja sebagai motivator ulung yang berhasil membangun rasa percaya diri para kader PMII.

Sementara itu, Juri Ardiantoro, yang kini menjabat Wakil Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia, mengenang sosok Kak Rodja sebagai senior yang selalu hadir membantu kegiatan kader.

Menurut Juri, hampir setiap kali PMII menyelenggarakan kegiatan, para kader tidak pernah sungkan mendatangi Kak Rodja.”Kalau PMII mau mengadakan acara, kami sering datang meminta bantuan kepada Kak Rodja. Beliau selalu membantu. Beliau memberikan memo atau surat pengantar kepada instansi pemerintah maupun BUMD DKI Jakarta. Karena beliau anggota DPRD DKI Jakarta yang sangat dihormati, memo tersebut selalu mendapat respons positif,” tuturnya.

Melalui cara itulah banyak kegiatan kader PMII dapat terlaksana dengan baik. Kesaksian yang tidak kalah menarik datang dari Jember Purwanto M. Ali.

Ia mengenang keberanian dan kepedulian Kak Rodja terhadap kader yang sedang menghadapi kesulitan.”Saya pernah dibantu Kak Rodja menagih hutang kepada seorang konglomerat. Alhamdulillah berhasil. Dari situ saya melihat bahwa beliau bukan hanya pandai berbicara, tetapi benar-benar turun tangan membantu kader yang membutuhkan pertolongan,” ujarnya.

Dari berbagai testimoni yang disampaikan, tampak jelas bahwa Kak Rodja bukan hanya seorang organisator. Ia adalah guru kader, pembangun jaringan, pemecah masalah, sekaligus sumber inspirasi bagi banyak generasi PMII.
Bagi mereka yang pernah digembleng langsung oleh Kak Rodja, ada satu kesimpulan yang hampir sama: Kak Rodja adalah ideolog yang kokoh, penggerak yang tidak pernah lelah, dan motivator ulung yang selalu menanamkan optimisme kepada kader-kader muda.

Ia selalu mengajarkan bahwa kader PMII harus berani bermimpi besar, memiliki keberanian moral, berpihak kepada rakyat kecil, serta terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu memimpin masyarakat dan bangsa.

Selain aktif di PMII, Kak Rodja juga dikenal sebagai aktivis buruh yang gigih memperjuangkan hak-hak pekerja. Dalam dunia politik, ia pernah berkiprah di PPP, menjadi anggota DPRD DKI Jakarta, dan menjabat Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta. Namun di tengah berbagai jabatan yang diembannya, perhatian terhadap kader PMII tidak pernah surut.

Bahkan hingga akhir hayatnya, nama Kak Rodja tetap dikenang oleh para kader sebagai sosok yang selalu membuka pintu rumahnya, membuka jaringan pergaulannya, dan membuka peluang bagi kader-kader muda untuk maju.
Karena itu, peringatan tujuh hari wafatnya Kak Rodja bukan sekadar mengenang seorang individu.

Acara tersebut sesungguhnya merupakan penghormatan terhadap tradisi pengabdian, kaderisasi, persahabatan, dan perjuangan yang telah diwariskannya kepada PMII. Kini sang penggerak telah berpulang. Namun gagasan, semangat, dan teladan perjuangannya akan terus hidup dalam ingatan para kader PMII lintas generasi.

Selamat jalan, Kak Rodja.

Kami bersaksi bahwa engkau telah mengabdikan hidupmu untuk perjuangan, kaderisasi, dan pembelaan terhadap rakyat kecil. Jejak pengabdianmu telah menjadi bagian dari sejarah PMII dan sejarah pergerakan Indonesia.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdianmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan alam kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya bersama para syuhada, shiddiqin, ulama, dan orang-orang saleh. Al-Fatihah.***

*) Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)/ Anggota DPR/MPR RI 1999–2013

BERITA POPULER

To Top