Industri & Perdagangan

Jaga Stabilitas Harga, Parta: Beri Izin Bulog Impor Gula

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Anggota Komisi VI DPR I Nyoman Parta meminta pemerintah memberikan peran lebih lebih besar kepada Bulog terkait stabilisasi harga gula pasir. Karena kenyataannya harga gula pasir masih tinggi di pasaran.

Hal ini tentu sangat membebani dan memberatkan rakyat yang sedang susah dilanda Corona (Covid-19). “Kami setuju Perum Bulog diberikan peran untuk melakukan impor. Negara lewat Bulog harus mengatur supply dan demand,” katanya melalui siaran persnya di Jakarta, Sabtu (11/4/2020).

Lebih jauh kata Nyoman Parta, komoditas gula merupakan kebutuhan pokok (Sembako) yang cukup strategis. Sehingga tidak boleh sepenuh dilepas ke pihak swasta. “Jangan sepenuhnya di kendalikan dan diserahkan mekanisme pasar,” tambahnya.

Bagaimanapun juga, lanjut Legislator asal Pulau Dewata, negara melalui Perum Bulog harus menjaga dan mengatur komoditas tersebuut. “Kalau diserahlan semua kepada mekanisme pasar kejadiannya seperti sekarang. Ketika daya beli sedang menurun akibat Covid-19, harga gula malah naik menjulang karena permainan pengepul,” terangnya.

Kondisi sekarang ini, sambung Parta, karena gula yang merupakan hajat hidup orang banyak, diserahkan kepada mekanisme pasar yang liberal. “Yang terjadi, tanpa kontrol tanpa moral. Karena itu, negara harus mengurus dan mengatur secara baik,” imbuhnya.

Seperti diketahui
Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mengakui penyebab harga gula tinggi. Karena perusahaan pelat merah tersebut tak memperoleh izin impor gula kristal mentah atau raw sugar yang rencananya diolah oleh anak usaha Bulog yakni Pabrik Gula (PG) PT Gendhis Multi Manis (GMM) menjadi gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi.

Padahal sejak akhir 2019, kata Buwas, pihaknya sudah memprediksi kelangkaan stok gula berdasarkan analisis sejumlah lembaga seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), Badan Intelijen Negara (BIN), dan lainnya. Oleh sebab itu, pada November 2019, Bulog mengajukan impor raw sugar kepada pemerintah.

“Karena kami sudah memprediksi jauh hari, setiap tahun itu kita akan kekurangan bahan-bahan yaitu salah satunya gula. Pada saat itu pabrik GMM sudah selesai masa giling tebu, maka harus dipasok dengan raw sugar. Maka kami mengajukan impor raw sugar, sehingga kami bisa menyetok gula yang dibutuhkan karena tugas Bulog kesiapan untuk operasi pasar,” ungkap Buwas dalam rapat virtual dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (9/4/2020).

Namun, hingga memasuki tahun 2020, pemerintah tak kunjung menerbitkan izin impor gula kepada Bulog. Impor tersebut baru dikabulkan pada akhir Maret 2020 di mana lonjakan harga gula sudah terjadi di seluruh Indonesia.

“Namun ini juga baru bisa direalisasikan akhir Maret 2020. Karena begitu sulitnya birokrasi yang kami tempuh. Dan pada akhirnya kami tidak bisa menggiling gula untuk kebutuhan-kebutuhan tadi.” ujar Buwas. ***

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top