JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM– PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) membagikan dividen tunai sebesar Rp 2,08 triliun atau Rp 25,6 per saham kepada para pemegang saham. Nilai tersebut setara 98 persen dari laba bersih tahun buku 2025, mencerminkan komitmen perseroan dalam memberikan imbal hasil kepada investor di tengah tetap berjalannya agenda ekspansi bisnis. “Kinerja tahun 2025 mencerminkan kekuatan fundamental bisnis Mitratel sekaligus menjadi landasan bagi fase pertumbuhan berikutnya,” kata Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Lebih jauh Theodorus Ardi Hartoko mengatakan, kebijakan dividen tersebut diambil seiring dengan kinerja perusahaan yang tetap solid sepanjang 2025. “Kami terus menjaga keseimbangan antara penciptaan nilai bagi pemegang saham melalui dividen yang konsisten, investasi pada peluang pertumbuhan baru, dan transformasi menuju Next-Generation Tower Company,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Mitratel Ian Sigit Kurniawan menjelaskan, pembagian dividen sebesar 98 persen terdiri dari kebijakan dividen reguler sebesar 70 persen sesuai komitmen sejak penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2021, ditambah dividen spesial sebesar 28 persen. “Keputusan RUPS adalah membagikan dividen sebesar 98 persen. Komponennya terdiri dari komitmen sejak IPO 2021 untuk membagikan dividen sebesar 70 persen sesuai prospektus, kemudian ditambah dividen spesial sebesar 28 persen sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham,” ujar Ian. “Ini merupakan komitmen kami untuk menjaga kepastian pengembalian investasi bagi para pemegang saham,” lanjut Ian.
Meski membagikan hampir seluruh laba bersih, Mitratel memastikan rencana ekspansi pada 2026 tetap berjalan. Perseroan telah mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 2,9 triliun yang akan dibiayai melalui kombinasi kas internal dan pinjaman. “Untuk pendanaan capex sebesar Rp 2,9 triliun, kami akan menggunakan kombinasi kas internal dan pinjaman. Posisi kas kami kuat dan leverage masih rendah,” ujarnya. “Jika kami mendapatkan pinjaman dengan bunga yang kompetitif, tentu akan dimanfaatkan karena terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan laba bersih. Oleh karena itu kami terbuka menggunakan dana internal maupun pinjaman, tergantung mana yang paling efisien,” lanjutnya.
Ian juga menilai konsolidasi industri telekomunikasi tidak mengurangi peluang pertumbuhan Mitratel. Meski jumlah operator seluler menyusut dari lima menjadi tiga, perseroan masih mampu mempertahankan pertumbuhan penyewaan menara. “Terkait konsolidasi operator, memang dari lima operator menjadi empat, kemudian menjadi tiga operator. Hal tersebut pasti memengaruhi potensi rollout karena operator akan lebih efisien,” kata dia. “Namun Mitratel memiliki keunggulan karena distribusi tower yang dominan berada di luar Jawa yang justru menjadi pusat pertumbuhan operator. Selain itu kami memiliki tools marketing analytics yang semakin presisi untuk merekomendasikan lokasi potensial kepada operator,” jelas Ian.
Menurutnya, strategi tersebut membuat Mitratel tetap mampu meningkatkan rasio penyewaan menara (tenancy ratio) di tengah konsolidasi industri. “Dalam konsolidasi Excel dan Smart misalnya, kami justru mendapatkan potensi yang besar. Tenancy ratio kami tetap bertumbuh, sementara di beberapa perusahaan lain justru menurun,” kata dia. “Ruang pertumbuhan lainnya berasal dari kemampuan kami menangkap kebutuhan operator, seperti bisnis fiber dan power yang menjadi sumber pertumbuhan berikutnya,” tambahnya.
Sebagai informasi, Mitratel membukukan laba bersih sebesar Rp 2,12 triliun pada 2025, ditopang pendapatan Rp 9,53 triliun yang tumbuh 2,4 persen secara tahunan dan EBITDA sebesar Rp 7,83 triliun. Perseroan juga mencatat kenaikan tenancy ratio menjadi 1,57 kali serta memperluas jaringan fiber optik sepanjang 6.160 kilometer sebagai bagian dari penguatan bisnis infrastruktur digital.***
Penulis : Eko Cahyono
Editor : Eko Cahyono








