*) Rudi Andries
Pasar karbon global sedang terguncang, mengalami krisis kepercayaan (post corporate pullback, termasuk Microsoft). Standar lama seperti Verra & Gold Standard dinilai lemah dalam MRV (Measurement, Reporting, Verification), dan rentan terhadap over-crediting. Dunia kini nampak sedang mencari CDR yang measurable, high permanence, dan strong governance. Hal ini pernah diingatkan dalam sebuah artikel yang dirilis Boomitra (“Friend of the Earth” in Sanskrit) berjudul “Restoring trust in carbon markets-How quality, transparency and oversight can restore confidence and channel capital where it’s needed most”.
Tantangan buat Indonesia yang secara unik memiliki kekayaan biomassa melimpah (sawit, sekam, bambu, kayu cepat tumbuh), Iklim tropis yang memiliki siklus karbon cepat, dan struktur sosial desa yang sangat cocok untuk pola desentralisasi biochar CDR, dituntut segera menyusun standar khas yang investor grade & globally credible.
Hal ini sangat penting dalam menyongsong global CDR demand yang diproyeksikan sebesar >10 GtCO2/year by 2050. Intinya, kita perlu melakukan berbagai inovasi dengan mengadopsi beberapa terobosan baru seperti dari Isometric yang membuka pintu untuk: Desentralisasi carbon economy, kemudian Xilva MONITOR guna monitoring proyek nature-based & forest CDR untuk keperluan Investor-grade oversight, Governance & ESG, dan Project performance layer yang bermanfaat untuk CSR/TJSL scaling, blended finance, dan carbon credit pre-financing. Demikian juga dalam hal CDR accounting dari Carbonfuture MRV+ atau SGTM. Dan menelorkan sebuah Hybrid MRV yang kita sebut Nusantara Hybrid Carbon System disingkat NHCS.
Dalam penerapannya kita menggabungkan tiga lapis yang sebelumnya berdiri sendiri:
1. Lapis Produksi
→ Biochar CDR berbasis desa (co-pyrolysis + reheating)
→ Permanence karbon tinggi (100–1.000 tahun)
2. Monitoring & Governance Layer
→ Sensor lapangan (proses & karbon)
→ Satelit & AI monitoring (Xilva-style monitoring + MRV hybrid)
→ Digital registry (traceable carbon)
3. Finance & Market Layer
→ CSR/TJSL → scale-up cepat
→ Blended finance dari Multilateral Dev’t Bank (MDB) + ESG funds
→ Carbon credits pre-financing (beyond Verra / Gold Standard)
4. Pilar NHCS:
1. Biochar CDR berbasis desa (co-pyrolysis + reheating)
2. Hybrid MRV (ground + satellite + digital)
3. Investor-grade governance (Xilva-style)
4. Blended finance + CSR integration
5. Decentralized carbon economy
→ Decentralized Biochar CDR + Hybrid MRV + ESG Finance Stack.
Jika terlaksana, ini akan menjadikan bukan sekedar proyek karbon, tapi ecosystem ekonomi karbon desa, menjadi arsitektur nasional untuk monetisasi karbon berbasis desa. Berdampak sosial: Penciptaan jutaan lapangan kerja desa dan Transformasi desa menjadi produsen karbon global.***
*)Wakil Ketua Umum DNIKS, dan Anggota Pengawas Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII)








