JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Hilirisasi industri telah berjalan di berbagai sektor, termasuk pertambangan. Bahkan Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah sudah berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel ore menjadi stainless steel.
Harga nickel ore saat dijual mentah hanya sekitar USD40-60. Sedangkan ketika sudah menjadi stainless steel harganya bisa lebih dari USD2000. Karena itu, untuk meningkatkan nilai tambah, maka harus diimbangi dengan kualitas SDM yang mumpuni. “Kami menandatangani Pengembangan Program Pendidikan Setara Diploma Satu Vokasi Industri antara BPSDMI Kemenperin dengan Pemkab Morowali,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI)Kemenperin, Arus Gunawan di Jakarta, Senin (10/01/2022).
Menurut Arus, jumlah kebutuhan SDM industri per tahun telah menembus sekitar 682.000 orang, sedangkan jumlah rata-rata kebutuhan tenaga kerja di Kabupaten Morowali mencapai 40.000 orang per tahun.
Lebih jauh Arus menjelaskan Politeknik Industri Logam Morowali telah menghasilkan lulusan kompeten untuk pemenuhan SDM industri di Kabupaten Morowali. “Program Setara D1 ini melibatkan unit pendidikan di lingkungan Kemenperin, yakni Politeknik Industri Logam Morowali, salah satu yang akan dikerjasamakan dengan Pemkab Morowali,” ujarnya.
Berdasarkan catatan Kemenperin, nilai ekspor produk dari Kawasan Industri Morowali, sudah mampu menembus USD4 miliar, baik itu pengapalan produk hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerika Serikat dan China.
Kontribusi Kawasan Industri Morowali, juga diperlihatkan dari capaian investasi yang signfikan, lebih dari USD5 miliar dan jumlah penyerapan tenaga kerja melampaui 30 ribu orang.
Semetara itu, Bupati Morowali, Taslim mengatakan, kerja sama dengan Kemenperin ini ditujukan sebagai upaya untuk pengembangan potensi daerah Kabupaten Morowali secara menyeluruh, salah satunya adalah sektor pengolahan logam.
Pemkab Morowali berkeinginan pula untuk mengembangan Sentra IKM untuk tekstil dan pengolahan ikan roa.“Ke depan, kerja sama yang dilakukan tidak hanya untuk penyediaan industri logam saja, tetapi juga pengembangan sentra IKM di bidang garmen dan program-program pengembangan SDM industri lainnya,” ujar Taslim.
Kerja sama ini menjadi bukti nyata bahwa BPSDMI Kemenperin terus bersinergi dan berkomitmen dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah untuk mengembangkan pendidikan vokasi industri guna menghasilkan SDM industri kompeten sehingga dapat memenuhi kebutuhan SDM industri, serta terus mendorong potensi daerah guna meningkatkan daya saing SDM industri nasional. ***
Penulis : Iwan Damiri
Editor : Kamsari








