Nasional

Ekonomi Global Terancam, Konflik AS-Iran Semakin Tidak Bisa Diprediksi

Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono/Foto: Anjasmara

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM—Kondisi ekonomi dan geopolitik global masih sulit untuk diprediksi akibat perang Amerika Serikat dengan Iran semakin memanas.
Memanasnya hubungan kedua negara yang sudah berlangsung lebih dari empat bulan dipicu oleh perebutan kepentingan strategis di Selat Hormuz selain saling tuding pelanggaran kesepakatan damai.“Kondisi ini meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Baik Iran maupun Amerika Serikat sama-sama mempertahankan kepentingannya karena merasa memiliki kekuatan,” ujar Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Nasional (Unas), Hendra M. Saragih dalam forum Dialektika Demokrasi bertema “AS-Iran Kembali Memanas, Seberapa Besar Ancamannya Bagi Stabilitas Dunia?” di Kompleks Parlemen, Kamis (23/7/2026).

Hendra mengatakan, Iran selama ini menerapkan pendekatan realisme dalam politik luar negerinya, yakni mengutamakan kepentingan nasional dan kekuatan negara. Karena itu, Teheran dinilai akan tetap mempertahankan posisinya meski menghadapi tekanan dari AS. Menurutnya, ketegangan juga dipicu oleh langkah Iran yang ingin memperketat pengaturan di Selat Hormuz sebagai bentuk penegasan kedaulatan. Sedangkan AS tetap mengerahkan kekuatan militer dengan alasan menjaga kebebasan pelayaran internasional.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono menyatakan eskalasi konflik yang juga melibatkan Israel berpotensi meluas hingga menyeret negara-negara lain. Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga dapat berdampak pada keamanan dan perekonomian global. “Konflik antara AS, Iran, dan Israel tidak kunjung reda, bahkan eskalasinya terus meningkat. Ini menjadi keprihatinan yang luar biasa karena berpotensi meluas secara regional bahkan global,” ujar Dave.

Ia menegaskan, Indonesia sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif dan memiliki posisi non-blok harus terus mendorong seluruh pihak menahan diri. Siklus serangan dan aksi balasan, kata dia, harus segera dihentikan melalui jalur diplomasi.

Menurut Dave, penyelesaian konflik hanya dapat dicapai melalui dialog yang terbuka dengan tetap menghormati hukum internasional. Ia menilai penggunaan kekuatan militer hanya akan memperpanjang konflik tanpa memberikan solusi yang berkelanjutan.***

Penulis   :  John Andhi Oktaveri

Editor     :  John Andhi Oktaveri 

BERITA POPULER

To Top