Opini

Dewan Pakar BPIP: Kunjungan Menlu Iran ke China Bisa Redakan Ketegangan AS-Iran

Dewan Pakar BPIP: Kunjungan Menlu Iran ke China Bisa Redakan Ketegangan AS-Iran

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Kunjungan Menlu Iran Abbas Araghchi ke Beijing memberikan harapan adanya potensi peredaan ketegangan di Selat Hormuz antara AS dan Iran. China punya modalitas politik, militer dan ekonomi untuk berperan sebagai pihak yang menengahi konflik AS-Iran.

Pada 6 Mei 2026 Menlu Iran memulai langkah diplomatik pertama ke China sejak perang antara AS-Iran meletus pada 28 Februari 2026. Menlu Araghchi bertemu dengan Menlu China Wang Yi membahas hubungan bilateral serta perkembangan regional dan internasional, termasuk situasi Timur Tengah yang tegang. AS mendesak Beijing memanfaatkan pengaruhnya terhadap Iran agar membuka kembali Selat Hormuz.

Menurut Darmansjah Djumala, Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, serangan udara AS-Israel terhadap target militer dan pemerintahan Iran – yang kemudian direspons Iran dengan serangan rudal, drone, serta penutupan Selat Hormuz – telah mengganggu perdagangan global.

Dia menjelaskan, China sebagai importir minyak utama Iran dan sekutu dekat memiliki daya tekan politik, militer dan ekonomi terhadap Iran. China bisa memainkan pengaruhnya untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.

Djumala, yang pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Austria dan PBB, menengarai Iran sedang memperkuat posisinya melalui aliansi dengan China untuk menghadapi tekanan unilateral AS di bawah Presiden Trump.

Ketika Iran menutup Selat Hormuz, AS meresponnya dengan melakukan blokade laut di Teluk Oman untuk memutus akses kapal-kapal internasional ke pelabuhan-pelabuhan di pantai Selatan Iran.

Dubes Djumala mengingatkan penutupan Selat Hormuz dan blokade laut akan berdampak signifikan terhadar alur perdagangan dan ekspor energi dari negara-negar Teluk ke berbagai belahan dunia.

Tindakan ini pada gilirannya tentu akan mengganggu stabilitas ekonomi dunia akibat meningkatnya harga minyak dunia. Oleh karena itu ia berharap pertemuan Menlu Iran dan Menlu China dapat menghasilkan pemahaman yang sama bahwa tindakan menutup saluran energi dunia di Selat Hormuz dan blokade laut tidak hanya merugikan Iran dan AS, tetapi juga akan berdampak buruk terhadap ekonomi dunia secara keseluruhan.

“Dalam konteks itu saya melihat China berpotensi berperan sebagai mediator, sebab China pernah menghimbau agar Iran mendengarkan suara internasional soal Selat Hormuz. Apalagi memang ada rencana Presiden Trump berkunjung ke China pertengahan Mei ini. Dunia berharap pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi Jinping nanti memberikan secercah harapan bagi peredaan ketegangan antara AS dan Iran di Timur Tengah, khusunya di Selat Hormuz,” kata Dubes Djumala. *

Editor: Hery Lazuardi

 

BERITA POPULER

To Top