Market

Dampak Pandemi Covid-19, RUU Pendidikan Kedokteran Jangan Persulit Pengabdian Tenaga Dokter

Dampak Pandemi Covid-19, RUU Pendidikan Kedokteran Jangan Persulit Pengabdian Tenaga Dokter
MPR Menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan Ikatan Dokter Indonesia terkait pembahasan RUU Pendidikan Kedokteran, Kiri Wakil Ketua Baleg Will Adity dan Kanan, Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat/Foto: Anjasmara

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Masyarakat mendesak Revisi Undang-Undang Pendidikan Kedokteran bisa selesai pada akhir 2021. Hal ini karena situasi pandemi Covid-19 “memaksa” keterlibatan para tenaga medis, termasuk dokter untuk mengabdikan diri pada rakyat. “Kita berharap sekali secepatnya selesai, namun lagi-lagi tergantung pada Baleg DPR,” kata Wakil Ketua MPR RI Dr. Lestari Moerdijat, S.S,M.M. dicegat wartawan usai Focus Group Discussion (FGD) dengan Ikatan Dokter Indonesia terkait pembahasan RUU Pendidikan Kedokteran, Rabu (17/11/2021).

Lebih jauh kata Ririe, pihaknya memang berharap Baleg DPR segera membahas RUU Pendidikan Kedokteran tersebut.

Disinggung soal dugaan adanya mafia kedokteran sehingga memberatkan biaya pengobatan, Ririe mengaku tidak tahu. Namun dirinya tidak membantah adanya dugaan praktek mafia tersebut. “Makanya, kita berupaya membangkitkan kembali nilai dan sisi-sisi kemanusian terhadap para dokter,” paparnya.

Alumnus FIB Universitas Indonesia ini menceritakan bagaimana sang ayah yang menjadi dokter ahli kandungan di RS Purwokerto mengabdi untuk masyarakat. “Bagi kami, liburan itu menjadi barang mewah. Karena sulitnya meminta liburan bagi dokter. Apalagi tenaga dokter sangat dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Legislasi DPR, Willy Aditya mengkritik RUU Pendidikan Kedokteran ini mempersulit pengabdian para dokter-dokter muda yang baru lulu. “Coba bayangkan, selama mereka menjalani Koas sekitar dua tahun, harus tetap membayar uang kuliah,” ujarnya.

Diakui Politisi Nasdem ini bahwa program profesi dokter ini sebenarnya bagus. Namun, para sarjana baru bidang medis ini menjadi tidak fokus dalam menjalani profesi Koas selama 2 tahun. “Banyak yang mengaku tidak fokus, dan kalau tidak lulus, mereka harus mengulang,” ungkapnya.

Willy kecewa sikap feodalisme yang masih tersimpan dalam RUU Pendidikan Kedokteran. “Padahal kita tahu, masuk fakultas kedokteran sulitnya minta ampun, lalu uang kuliahnya mahal, ditambah lagi mau praktek jadi dokter juga sulit,” pungkasnya. ***

Penulis   :  A Rohman
Editor     :  Chandra

BERITA POPULER

To Top