Market

Dampak Covid-19, Hafisz: “Gap” Kaya dan Miskin Makin Tinggi

Dampak Covid-19, Hafisz: "Gap" Kaya dan Miskin Makin Tinggi

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Dampak pandemi Covid-19 justru menimbulkan gap yang tinggi antara orang kaya dan miskin. Hal tersebut terkonfirmasi dari data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bappenas. Bahkan Kementerian PPN/Bappenas menyebutkan akibat Covid-19, ada sekitar 26% tulang punggung keluarga berhenti kerja. “Lalu 50% mengalami penurunan pendapatan,” kata Anggota Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Thohir di Jakarta, Senin (6/9/2021).

Lebih jauh kata Waketum PAN, data BPS menyebut jumlah penduduk miskin Indonesia naik 1,12 juta per Maret 2021 sehingga menjadi 27,54 juta. “Ini artinya ada 10,14% orang miskin di Indonesia. Terjadi penambahan ketimpangan antara si kaya dan si miskin (gini ratio) Maret 2021 sebesar 0,384 (naik dibanding Maret 2020 yaitu 0,381),” ujarnya.

Namun di sisi lain, kata Hafisz lagi, ternyata terjadi peningkatan pendapatan untuk golongan menengah atas (golongan mampu). “Ini menunjukkan bahwa sistem perekonomian yang sedang berjalan saat ini tidak pro poor. Karena terbukti golongan mampu malah bertambah jumlahnya sedangkan rakyat miskin malah semakin bertambah bukannya berkurang. Counter Cyclical yang dilakukan dalam APBN 2020 ternyata tidak seindah seperti yang disampaikan,” sindirnya.

Hafisz menambahkan, sejatinya model pembangunan yang dibuat harus mampu menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi semuanya. “Model pembangunan yang baik harus bisa menghilangkan derita bukan menciptakan derita baru (pengangguran, kemiskinan dan lainnya),” ujarnya.

Menurut Hafisz, tingkat kemiskinan, pengangguran terus tumbuh karena itu konsekuensi dari model ekonomi kapitalisme yang tengah dipraktekkan saat ini. Mitos kapitalisme itu kan pertumbuhan, imbas mitos itulah menganga penderitaan yang cukup memprihatinkan (kemiskinan naik, pengangguran bertambah). “Dimana ekonomi Pancasilanya kalau begitu. Sistem ekonomi kapitalis seperti ini mestinya menjadi prioritas untuk kita perbaiki bersama, karena sudah tidak sejiwa dengan ekonomi Pancasila yang selama ini telah kita miliki,” tegasnya.

Yang lebih menyedihkan lagi, sambung Wakil Ketua BKSAP DPR , saat masyarakat tertatih-tatih menghadapi kondisi ekonomi yang serba tidak pasti, kebisingan wacana amandemen Konstitusi terus berhembus di tengah gelombang kemiskinan yang makin tinggi. ***

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top