Market

BPS Yakin Tekanan Inflasi Normal Lagi Pada April 2026

BPS Yakin Tekanan Inflasi Normal Lagi Pada April 2026
Kantor BPS/Sumber Foto: dok BPS

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COMBadan Pusat Statistik (BPS) memprediksi tekanan inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) kembali normal pada April 2026 setelah efek basis rendah (low base effect) berakhir. Adapun efek itu memicu lonjakan tingkat inflasi tahunan pada Januari-Februari 2026 dan diprediksi akan berakhir pada Maret 2026. “Low base effect masih akan tetap mempengaruhi inflasi tahunan di Maret, namun dimungkinkan berakhir pada Maret juga, sehingga pada April 2026 nanti angka inflasinya relatif stabil kembali, tidak ada low base effect-nya,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono di Jakarta, Senin, (2/3/2026).

Lebih jauh Ateng menyampaikan, fenomena low base effect tersebut terjadi karena kebijakan insentif pemerintah yang diberikan pada tahun sebelumnya. Pada Januari-Februari 2025, pemerintah memberikan diskon tarif listrik sebesar 50 persen bagi pelanggan rumah tangga secara luas. Diskon masif tersebut menekan angka indeks harga konsumen (IHK) secara signifikan, sehingga mendorong perekonomian nasional pada saat itu mengalami deflasi. Posisi IHK yang rendah tersebut kemudian menjadi titik perbandingan untuk menghitung inflasi tahun ini.”Penurunan IHK tersebut menyebabkan level harga pada Januari dan Februari di tahun 2025 berada di bawah pola tren normalnya,” ujar Ateng.

Dikatakan Ateng, dampak dari tingkat inflasi yang terlampau rendah pada awal 2025, bahkan hingga terjadi deflasi, akibat kebijakan diskon tarif listrik tersebut sangat terasa ketika dilakukan perbandingan IHK secara tahunan di bulan yang sama pada awal 2026. Akibat basis indeks pembanding tahun sebelumnya terlalu kecil dan sedang tidak dalam tren normalnya, maka kenaikan persentase nilai inflasi tahunan pada tahun ini otomatis meningkat signifikan.

Hal tersebut menyebabkan inflasi pada Januari dan Februari 2026, yang masing-masing tercatat 3,55 persen yoy dan 4,76 persen yoy, terlihat sangat tinggi. “Meskipun demikian, (dinamika) harga relatif sejalan dengan tren fundamentalnya. Artinya, bulan-bulan kedepannya, nanti pada April dan selanjutnya di 2026 kembali pada tren normal,” ucap Ateng.***

Penulis  : Eko Cahyono
Editor    : Eko Cahyono

BERITA POPULER

To Top