Nasional

Soal Belajar-Mengajar Virtual, LP Marif NU Beri 9 Saran Untuk Mendikbud

Soal Belajar-Mengajar Virtual, LP Marif NU Beri 9 Saran Untuk Mendikbud
Sekjen LP Maarif NU Harianto Ogie

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Sekretaris Jenderal Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU-PBNU Harianto Ogie mengungkapkan pandemi COVID-19 telah menimbulkan berbagai problem, termasuk pendidikan. Padahal sektor pendidikan merupakan hak dasar warga negara. “Kebijakan WFH (Work From Home) dan social distancing telah mengondisikan pendidikan dilakukan dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), alias belajar melalui online (virtual),” katanya dalam siaran persnya, Jakarta, Rabu (3/6/2020).

Lebih jauh kata Ogie-sapaan akrabnya menambahkan pembelajaran daring, kadang terhambat soal jaringan akses internet yang tidak stabil. Kemudian biaya sarana yang tidak memadai, dukungan infrastruktural dan finansial yang terbatas. Akibat keterbatasan itu, kata Ogie, tidak sedikit guru yang mendatangi rumah-rumah siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan mengontrol langsung anak didiknya satu persatu. “Kondisi ini menjadi beban berlebih bagi guru, sekaligus meningkatkan kerentanan guru dan siswa terpapar virus corona,” ujarnya.

Problem yang dialami siswa dan guru ini semakin terasa berat karena dukungan pemerintah dalam menyiapkan perangkat dan fasilitas yang memadai belum dirasakan merata dan berkeadilan bagi setiap satuan pendidikan di Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut LP Ma’arif NU PBNU mengusulkan beberapa pokok pikiran untuk dijadikan pertimbangan pemerintah dalam bidang pendidikan di tingkat nasional dan daerah:

1.Apabila tidak dimungkinkan adanya perubahan tahun ajaran atau masa mulainya pembelajaran, pemerintah cq. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Agama dapat membuka belajar siswa di tahun pelajaran 2020-2021 yang rencananya dimulai tanggal 13 Juli 2020 dengan tetap menerapkan Protokol Covid 19 secara ketat dan pengawasan secara simultan.

2.Pemerintah cq. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Agama hendaknya melakukan komunikasi dan koordinasi terlebih dahulu dengan Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) dalam mewujudkan rencana tersebut, sehingga kebijakan dan langkah Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sinkron.

3.Pembukaan belajar siswa baru tersebut hendaknya dilaksanakan dalam skala terbatas, yaitu hanya di daerah yang dinilai zona hijau (zona normal) secara normal dan zona biru (zona moderat) dengan sistem belajar siswa secara bergantian, sementara untuk daerah yang dinilai berada dalam zona hitam (zona kritis), zona merah (zona berat), dan zona kuning (zona cukup berat), maka sistem belajar harus tetap menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

4.Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah segera menyusun rencana baru dalam merealisasikan belajar siswa tahun pelajaran baru 2020-2021, terutama pada pengalihan anggaran (realokasi) APBN/APBD untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dan perangkat daring yang dibutuhkan seluruh satuan pendidikan, terutama sekolah dan madrasah swasta sebagai satuan pendidikan yang paling merasakan dampak pandemi.

5.Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mengalokasikan anggaran khusus untuk peningkatan kapasitas guru dalam merancang dan mendesain PJJ yang mudah dan sederhana namun efektif dan berkualitas, dengan memanfaatkan perangkat atau media daring yang tepat, sesuai dengan materi yang diajarkan serta berorientasi pada tercapaianya tujuan pendidikan nasional.

6.Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan fasilitas dan dukungan penuh kepada manajemen sekolah dan madrasah, baik satuan pendidikan negeri dan swasta yang memiliki rencana pembelajaran daring sebagai pemenuhan tanggungjawab negara khususnya kepada masyarakat di daerah pedesaan dan pedalaman.

7.Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam rencana pembukaan belajar siswa baru maupun pembelajaran jarak jauh hendaknya melibatkan LP Ma’arif NU PBNU dan penyelenggara pendidikan swasta lain di tingkat dasar dan menengah, yang satuan pendidikannya terbanyak tersebar di pedesaan di seluruh Indonesia.

8.Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memperhatikan dan memberikan insentif secara finansial bagi guru-guru yang terdampak Covid 19 terutama pada guru (tenaga pendidik) dan tenaga kependidikan dari satuan pendidikan dengan kondisi operasional sekolah dan madrasah yang mengandalkan dana partisipasidari orang tua yang juga terdampak Covid 19.

9.Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan dukungan penuh kepada manajemen sekolah dan madrasah, baik satuan pendidikan negeri dan swasta untuk pelaksanaan protocol kesehatan bagi sekolah dan madrasah yang memulai pembelajaran tatap muka sesuai keputusan pemerintah. Kehadiran negara sangat dibutuhkan dalam situasi sulit ini demi terpenuhinya hak dasar bangsa Indonesia di bidang pendidikan. Karena itu, LP Ma’arif NU PBNU akan tetap terus mendukung pemerintah dengan tetap menjalankan tanggung jawab sosialnya.

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top