JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM- Tantangan pendanaan untuk perusahaan rintisan atau startup diprediksi masih cukup berat pada 2024. Pasalnya investor asing masih menunggu situasi, karena itu startup masih akan menghadapi tantangan dari sisi cost of money atau cost invesment. “Biasanya dilihat dari suku bunga The Fed, karena kalau pendanaan itu kita hanya 10-15 persen dari lokal,” kata Director of Digital Economy Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda di Jakarta, Sabtu (9/12/2023).
Lebih jauh Nailul menjelaskan bila bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga, maka dapat dipastikan pendanaan bagi startup akan sangat minim mengalir ke Indonesia. “Jadi ketika The Fed menaikkan suku bunga pada 2022, pendanaan yang disalurkan untuk startup langsung anjlok,” ujarnya lagi.
Dikatakan Nailul, bahwa pendanaan untuk startup digital Indonesia masih rendah. Dengan proyeksi tersebut, perusahaan modal ventura lokal diharapkan dapat menyalurkan pendanaan lebih besar untuk startup lokal.
Harapannya, porsi pendanaan lokal yang semula 10 persen bisa naik ke 20-25 persen. Pendanaan tersebut harapannya hadir dari Merah Putih Fund dan Investment National Authority (INA).”Karena (pendanaan) itu bagaikan air di tengah padang pasir,” imbuh dia.
Menurut Nailul, pada dasarnya perusahaan modal ventura saat ini berharap startup dapat menghasilkan laba lebih cepat atau pada kisaran 5 tahun. Pasalnya saat ini startup masih dilingkupi kondisi tren rugi selama bertahun-tahun. Pada awal tren startup, perusahaan dapat menanggung rugi hingga 10-15 tahun.
Lebih lanjut kata Nailul, salah satu sektor yang dapat menghasilkan untung dengan cepat bagi startup adalah sektor riil, agriculture, dan aquaculture. “Tapi kalau e-commerce saya ragu bisa menghasilkan keuntungan yang cepat. Fintech juga dengan adanya pengaturan suku bunga, semakin lama mereka mendapatkan keuntungan,” ungkap dia.
Nailul mengibaratkan pendanaan adalah darah bagi perusahaan startup yang membuat perusahaan bisa hidup dan bergerak. “Impact-nya adalah mereka akan melakukan efisiensi termasuk mem-PHK karyawan, saya tidak berharap, kalau pendanaan masih seret, saya rasa banyak perusahaan digital yang tutup atau efisiensi,” tutup dia.***
Penulis : Iwan Damiri
Editor : Kamsari