JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM--Menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80, perempuan yang tergabung dalam berbagai organisasi menyambut dengan menggunakan Busana Kebaya.
Apalagi pakaian kebaya telah diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO, karena itu semakin kuat posisinya sebagai bagian dari kebanggaan nasional dan identitas budaya. “Sehingga wajar menjadi kebanggaan perempuan Indonesia. Karena Kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, tetapi juga simbol warisan budaya, identitas perempuan, serta mencerminkan nilai-nilai luhur seperti keanggunan dan kearifan lokal,” kata Ketua umum Pegiat Pendidikan Ekonomi Kreatif (PP EKRAF), Tengku Nurliyana Habsjah Sapuan disela-sela persiapan PPEKRAF menyambut perayaan Kemerdekaan RI di Jakarta, Kamis (14/8/2025).

Ketua umum PPEKRAF Nurliyana Habsjah Sapuan bersama Putri Presiden RI ke 4, KH Abdurahman Wahid, Yenny Wahid/Foto: Istimewa
Menggunakan kebaya, kata Kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta, adalah menghormati jasa para pahlawan wanita. Pasalnya, Busana Kebaya juga dikenakan oleh para pejuang perempuan Indonesia saat merebut kemerdekaan, misalnya Dewi Sartika, HR Rasuna Said, Inggit Garnasih hingga Fatmawati. “Kebaya juga menjadi simbol perjuangan dan pergerakan perempuan, terutama pada masa lalu di mana perempuan mulai mengisi berbagai ruang sosial,” ujarnya lagi.
Liya-sapaan akrabnya menjelaskan bahwa perempuan berkebaya sesungguhnya merupakan penghormatan kepada para pendahulu bangsa yang mempertahankan identitasnya dalam arus modernisasi, sekaligus berjuang untuk kesetaraan berdasarkan rasa cinta tanah air. “Sejak awal abad XX, kebaya menjadi simbol persatuan dan pergerakan perempuan. Kebaya kemudian ditetapkan kembali menjadi pakaian nasional bagi perempuan pada awal Pemerintahan Soekarno,” terang Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS).

Lebih jauh Istri Bupati Muko-Muko Periode 2021-2025 itu menambahkan Kebaya merupakan pakaian tradisional yang telah diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Indonesia. “Kebaya dikenal dengan desainnya yang anggun dan feminin, mencerminkan kehalusan dan kelembutan perempuan.”
Dikatakannya, bahwa Kebaya juga menjadi wadah bagi perempuan untuk mengekspresikan diri dan mendefinisikan kecantikan serta keberdayaan mereka sendiri. Pada masa kolonial Belanda, tambah dia, mempertahankan dan memelihara identitas etnis merupakan bagian integral dari perjuangan dan keberlanjutan keunikan budaya.
Menurut Liya, Kebaya bisa menjadi daya tarik luar biasa untuk berbagai festival, pameran internasional, atau acara budaya besar. Wisatawan pasti akan jatuh cinta dengan keindahan dan ceritanya. Oleh karena itu, penting sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri pariwisata dalam memanfaatkan momentum ini. “Artinya, perlu mengintegrasikan kebaya dalam berbagai aspek pariwisata, seperti festival budaya, pameran internasional, dan promosi destinasi, untuk menarik wisatawan dan memperkenalkan warisan budaya kita,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Liya, mengajak generasi muda untuk menjadikan kebaya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Ayo kita bangga pakai kebaya, kita tunjukkan ke dunia kalau ini bagian dari gaya hidup kita. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?” pungkasnya.***
Penulis : Iwan Damiri
Editor : Kamsari








