JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Lagi, pemerintah menjual Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) alias Sukuk Negara. Adapun Seri sukuk yang dilelang adalah 1 seri SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara – Syariah) dan 5 seri PBS (Project Based Sukuk). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), Kementerian Keuangan, pemerintah berhasil menyerap Rp 9,5 triliun dari lelang sukuk hari ini. “Total penawaran yang masuk sebesar Rp41.606.300.000.000,00 (empat puluh satu triliun enam ratus enam miliar tiga ratus juta rupiah). ”
Demikian siaran pers Kementerian Keuangan, Rabu (7/7/2020). Sebelumnya Pemerintah hanya menargetkan mendapatkan minimal Rp 7 triliun dari lelang sukuk tersebut. Sementara itu, tanggal jatuh temponya yakni 8 Januari 2021 hingga yang paling lama pada 15 Oktober 2046. Imbalan yang ditawarkan dari lelang sukuk ini yakni diskonto hingga 8,62 persen.
Lelang sukuk dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia sebagai Agen Lelang SBSN. Lelang bersifat terbuka dan menggunakan metode harga beragam (multiple price).
Pada prinsipnya, semua pihak, baik investor individu maupun institusi, dapat menyampaikan penawaran pembelian (bids) dalam lelang. Namun dalam pelaksanaannya, penyampaian penawaran pembelian harus melalui Peserta Lelang yang telah mendapat persetujuan dari Kementerian Keuangan.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengaku telah berbincang secara virtualnya dengan Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa.
Dalam komunikasi tersebut, Luhut sempat membahas soal utang Indonesia. Bahkan Bank Dunia justru mengapresiasi pengelolaan utang Indonesia. “Jadi kalau ada yang berpikir soal utang kita berlebihan, mereka Bank (Dunia) mengapresiasi (pengelolaan utang Indonesia). Kita masih sangat prudent dan hati hati,” katanya ketika ditemui di Kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Jumat (19/6/2020).
Bank Dunia, kata Luhut, juga memuji Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang dinilai berhasil menjaga level utang Indonesia tetap tak berlebihan. “Jadi, dianggap Ibu Ani Menteri Keuangan melakukan perhitungan sangat cermat,” ujarnya.
Tak hanya itu, Luhut juga menyebut Bank Dunia juga memuji kinerja pemerintah dalam menjalankan program selama menghadapi situasi pandemi virus corona (Covid-19). “Kita dengan Ibu Victoria kita jelaskan perkembangan di sini dan dia didampingi sama Wakil World Bank di Jakarta. Dia mengatakan melihat kita sangat leading, program kita disebut sangat komprehensif and we love it,” kata dia.
Dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, lanjut Luhut, Indonesia termasuk negara yang paling baik menurut kacamata Bank Dunia. Mantan Komandan Khusus Satgas Tempur Kopassus ini mengatakan, Bank Dunia tidak memberikan usulan apapun kepada Pemerintah Indonesia meski ada di tengah resesi ekonomi. ***








