JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM–
Pengusaha muda Indonesia Zenzia Sianica Izha meraih penghargaan dari Kepala Perwakilan Luar Negeri untuk Reiwa 6 (paruh) pertama. Penghargaan diberikan langsung oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia H.E Masaki Yasushi.
Malam pemberian penghargaan dihadiri juga oleh sejumlah tokoh antara lain mantan Menteri Hukum dan HAM Prof. Yusril Ihza Mahendra, mantan Duber RI untuk Jepang Yusron Ihza Mahendera, serta sejumlah pejabat dari Kementerian Hukum dan HM.
Zenzia Sianica Ihza merupakan putra dari Yusron Ihza Mahendra, adik kandung Yusril
Ihza Mahendra. Yusron adalah putra Indonesia yang lama bermukim di Jepang. Lulus dari FISIP Universitas Indonesia pada 1986, Yusron hijrah ke Jepang untuk belajar di Universitas Tsubuka sampai meraih gelar Master dan akhirnya meraih gelar doktor politik ekonomi internasional di universitas yang tersebut.
Di Jepang, Yusron sempat menjadi pengamat ekonomi Asia Timur di televisi NHK, peneliti di Tsubuka Advanced Alliance, dan koresponden Harian Kompas. Mengikuti sang ayah, Zenzia juga tinggal di Jepang dan menuntaskan SD dan SMP. Seperti ayahnya, Zenzia banyak mendalami bahasa, budaya dan ekomoni Jepang. Zenzia sangat fasih bahasa Jepang.
Penghargaan diberikan Pemerintah Jepang karena Zenzia dinilai berjasa dalam memperat hubungan persahabatan dan saling pengertian antara Jepang dengan
Indonesia. Zensia yang lahir di Belitung, Provinsi Bangka Belitung, 7 Maret 1986 ini merupakan WNI termuda yang menerima penghargaan dari Pemerintah Jepang.
Zenzia merupakan penerjemah dalam Bahasa Indonesia-Jepang berdasarkan SK Kemenkum HAM yang dutetapkan pada 5 Oktober 2022. Selain itu, Zenzia juga merupakan presiden direktur PT Ihza Integreted Consulting (IIC), perusahaan yang
didirikannya pada 2015. PT IIC adalah perushaan yang bergerak di bidang konsultan dengan semua kliennya warga negara Jepang, baik individu maupun badan usaha.
Dalam melaksanakan pekerjaannya, Zenzia dan perusahaannya
menerjemahkan berbagai dokumen resmi penting dari Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia atau menerjemahkan dokumen -dokumen yang dikeluarkan Pemerintah Jepang.
Dokumen tersebut
dipergunakan di wilayah Negara Republik Indonesia maupun di Jepang. Poses
penerjemahan dilakukan dokumen dilakukan dengan menjaga keakuratan, kejelasan, dan kebenaran isi dokumen asli. Selain melakukun penerjamahan dokumen, Zenzia dan IIC juga melakukan interpreter kalangan bisnis dari Jepang yang datang ke Indonesia.
Zenzia menjelaskan, dokumen-dokumen yang diterjemahkan adalah dokumen bisnis seperti perjanjian perusahaan atau perjanjian yang bersifat perorangan, Akta
PKPS, TDP, SIUP, Akta Pendirian Perusahaan, Profil Perusahaan, dan Laporan Audit Perusahaan. Sedangkan dokumen non bisnis atau dokumen pribadi berupa paspor pribadi, akta kelahiran, ijzah, KTP, SIM, dan piagam penghargaan milik warga negara Jepang.
Menurut Zenzia, jumlah penerjemah tersumpah Bahasa Jepang di Indonesia belum bayak meskipun kebutuhan SDM untuk itu tergolong tinggi. Dan dalam menjalankan perusahaannya, Zenzia selaku penerjemah tersumpang didampingi
dua orang penerjemah tersumpah.
Dengan kapasitas sebagai penerjemah tersumpah, Zenzia merupakan “pintu
penting” bagi individu maupun perusahaan -perusahaan dari Jepang yang akan bekerja atau mendirikan usaha di Indonesia. Bukan hanya pada tahap awal, pada
tahap operasional pun, Zenzia dan IIC selalu menjadi pendamping dari individu dan perusahaan -perusahaan Jepang. “Bahkan untuk urusan rekrutmen pegawai atau
mencai mitra bisnis di Indonesia, mereka memerlukan rekomendasi kami,” ujar Zenzia.
Zenzia menambahkan, ia dan perusahaan yang dipimpinnya menjadi konsultan masalah hukum, perpajakan bagi para kliennya yang semuanya berasal dari Jepang. Zen bersyukur bisnisnya dapat berkembang dengan baik dan mendapat kepercayaan dari warga Jepang yang berbisnis di Indonesia.
Keberhasilannya itu ia
raih melalui perjalanan panjang dan ikhtiar untuk memahami semua hal terkait dengan masyarakat Jepang. Zenzia tidak mengklaim sebagai yang terbaik dalam memberikan pelayanan kepada para pebisnis dari negeri Sakura itu. Namun, ia selalu berusaha jujur dalam menghadapi dan memperlakukan para kilennya. “Satu
prinsip yang sangat saya pegang, saya tidak boleh bohong. Kalau ada kekurangan atau ketidaksempurnaan, saya sampaikan kepada klien,” imbuh Zenzia.
Selain di bidang bisnis, Zenzia juga aktif dalam urusan sosial masyarakat
Indonesia dan masyarakat Jepang di Indonesia melalui Yayasan Jabat Hati. Yayasan ini banyak melakukan kegiatan mempromosikan budaya Indonesia dan Jepang, pendidikan, dan sosial -keagamaan.
Zenzia berharap hubungan Indonesia dengan pemerintah Jepang di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto nanti akan lebih baik lagi, baik di bidang
ekonomi maupun di budang budaya. “Pertemuan Bapak Prabowo dengan Perdana
Menteri Jepang H.E. Fumio Kishidia di Tokyo beberapa waktu lalu menjadi tanda
awal adanya peningkatan Kerjasama kedua negara,” pungkas Zenzia.***
Penulis : Budiana
Editor : Budiana








