TANGERANG, SUARAINVESTOR.COM–Maraknya kasus korupsi di Indonesia, tidak hanya menjadi perhatian publik saja tapi juga institusi pendidikan di Indonesia. Karena itu, mahasiswa diharapkan bisa menghentikan sikap keserakahan yang mengakibatkan korupsi, dan berdampak baik juga pada ekonomi berkelanjutan di Indonesia.
Korupsi merupakan tindakan dan penyalah gunaan kekuasaan atau jabatan untuk keuntungan pribadi atau kelompok yang merugikan masyarakat dan negara. “Pembahasan ini menjadi penting karena banyaknya kasus korupsi di Indonesia dan kerugiannya sangat amat besar. Sudah banyak contohnya dan kerugiannya mencapai ratusan triliun, dan dari data yang ada di Asia, Indonesia memasuki negara kelima paling tinggi korupsi,” kata Kepala Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Dr. Ignatius Haryanto Djoewanto, S.Sos, M.Hum dalam talkshow “From Corruption to Integrity Young Leader’s Role in Breaking the Poverty Cycle”, kegiatan Pekantara UMN bersama Desa Pekijing, Minggu (14/12/2025).
Lebih jauh Ignatius menjelaskan korupsi dilandasi atas dasar sikap tamak atau serakah, kebiasaan lingkungan, dan bahkan pemberantasannya menjadi permainan. “Kelihatannya, semua bidang kehidupan kita sudah tercemar dengan korupsi, jika kita melihat secara detail dampaknya pun bisa kita rasakan. Mulai dari pelayanan publik yang tidak prima, pendapatan negara terganggu, kemiskinan rakyat, pembayaran lebih padahal bisa saja gratis, sampai yang paling menyedihkan korbannya manusia sendiri yang meninggal sia-sia”, ucap Ignatius.
Melihat situasi dan dampak dari korupsi, Ignatius meninggalkan pesan kecil kepada mahasiswa untuk bisa terus diingat sampai kapanpun. Pesan Ignatius kepada mahasiswa agar bisa berjanji bahwa mereka akan jujur, menghidupi kehidupan sederhana, tidak tergoda dengan jalan pintas, dan tidak terbawa arus media sosial yang penuh dengan pencitraan atau flexing.
Bangun Sistem kejujuran dari Desa Pekijing
Untuk memperkaya talkshow ini, Bayu dan Edi yang telah tinggal dan mengembangkan Desa Pekijing membagikan bagaimana mereka terus menjaga sistem yang jujur, berdampak, dan anti-korupsi kepada masyarakat. Desa Pekijing menjadi bukti bahwa membangun sistem yang jujur dan anti-korupsi bisa memberikan kehidupan masyarakat yang makmur. “Dulunya, Ketua RT (Rukun Tetangga) kami tidak pernah diganti, dan sudah terlihat secara sedikit-sedikit masyarakat memberontak secara halus. Ini menjadi inisiasi kami untuk memperbaiki desa dan berbenah diri untuk tempat tinggal kami sendiri”, ucap Bayu.
Menurut Bayu, cara yang paling efektif adalah memberikan contoh dan pengertian kepada masyarakat, yang dimulai dari keluarga. “Setelah kita membuktikannya dari lingkungan paling kecil keluarga, baru kita buktikan di Desa Pekijing, awalnya tidak mudah tapi setelah kita reformasi pengurusannya banyak masyarakat yang menerima. Mungkin kalau tidak di rombak, Desa Pekijing tidak
Edi memberikan salah satu program yang menarik dan bisa menjadi contoh untuk meningkatkan literasi di Indonesia yakni lapak lansia. Pada program ini, bukan orang yang lebih tua memberikan literasi pada anak-anak namun sebaliknya, program ini juga dinilai memberikan dampak baik serta membangun paguyuban yang baik.“Sistem kami juga merotasi kepemimpinan secara berkala yakni tiga tahun sekali, sehingga semua masyarakat dapat berdiskusi, gotong royong, membangun karakter kepemimpinan di masyarakat,” imbuhnya.
Bagi Edi, Desa Pekijing memiliki satu visi yang sama yakni kesejahteraan dan kebersamaan, hal ini juga sudah tertanam pada masyarakat. Dengan penanaman nilai-nilai dan meyakini juga akan otomatis terimplementasi di masyarakat dan terhindar dari
korupsi.








