YOGYAKARTA, SUARAINVESTOR.COM— Kegiatan Srawung Pring menghadirkan pendekatan pembelajaran budaya di Pasar Papringan, Dusun Ngadiprono, Temanggung, Minggu (28/12/2025) lalu. Program ini dirancang untuk memperkenalkan bambu secara lebih mendalam sebagai bagian dari kehidupan sosial, lingkungan, dan tradisi masyarakat desa.
Srawung Pring dihadirkan sebagai respon atas kecenderungan pengunjung yang memandang bambu di Pasar Papringan sebatas elemen visual. Melalui kegiatan ini, bambu diposisikan sebagai pengetahuan hidup yang menyimpan nilai budaya, sejarah, serta praktik keseharian warga Ngadiprono.
Program ini terlaksana melalui kolaborasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Spedagi Movement dengan melibatkan pelaku lokal sebagai sumber utama pembelajaran. Peserta berasal dari beragam latar belakang dan mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang secara partisipatif. Rangkaian acara diawali dengan penelusuran kawasan pasar melalui kegiatan walking naratif yang disertai materi visual edukatif.
Peserta diperkenalkan pada sejarah bambu, jenis-jenis bambu lokal, serta peran bambu dalam membentuk lanskap dan pola hidup masyarakat setempat. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi dialog dan praktik bersama pengrajin bambu Pasar Papringan. Dalam sesi ini, peserta mempelajari proses pengolahan bambu, mulai dari pemilihan bahan, teknik dasar pengerjaan, hingga pemahaman waktu panen yang berpengaruh pada kualitas hasil kerajinan.
Workshop pembuatan kerajinan bambu menjadi salah satu bagian utama kegiatan. Melalui praktik langsung, peserta memahami karakter bambu sebagai material alami yang berkelanjutan sekaligus menyadari keterampilan dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi oleh para pengrajin desa.
Selain praktik kerajinan, peserta juga dikenalkan pada Wedang Pring, minuman khas Pasar Papringan berbahan daun bambu muda dan rempah, sebagai bagian dari identitas kuliner yang berkembang bersama budaya bambu di wilayah tersebut.
Melalui Srawung Pring, Pasar Papringan diposisikan sebagai ruang belajar budaya yang menghubungkan pengetahuan lokal, pelestarian lingkungan, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis desa. Program ini diharapkan dapat memperluas pemahaman publik mengenai bambu serta mendorong keberlanjutan pengetahuan dan budaya masyarakat Dusun Ngadiprono.***
Penulis : A Rohman
Editor : Budiana








