JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM—Pengusaha Ritel Indonesia mengungkapkan bisnis ritel pada kuartal III tahun 2023 diharapkan mampu berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 3,4 sampai 3,5 persen. Pantaun lapangan, Kamis (26/10/2023) nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah sebesar 0,23 persen atau 37 poin menjadi Rp15.907 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.870 per dolar AS. “Kami (memproyeksikan) ada di angka sekitar 3,4 sampai 3,5 persen, jadi kalau kuartal IV bisa naik 15 persen, maka bisa 3,6 hingga 3,7 persen terkontribusi untuk PDB kita,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mande di Jakarta, Kamis, (26/10/2023).
Lebih jauh Roy memprediksi bahwa memasuki tahun politik, pertumbuhan bisnis ritel mampu mengalami peningkatan sekitar 10-15 persen. Hal ini berkaca pada gelaran pesta demokrasi pada 2019 lalu yang mengalami peningkatan dengan besaran yang sama. “Di setiap pesta demokrasi. Jadi di kuartal IV sebesar 10-15 persen, maka kita punya pertumbuhan angka ritel sebesar 3,8 persen bahkan sampai 4 persen. Karena setiap pemilu pasti akan ada peningkatan konsumsi,” ujarnya pula.
Lebih lanjut, jelang penyelenggaraan pesta demokrasi pada Februari 2024 mendatang, Roy juga berharap agar pemerintah memberikan regulasi yang relevan dan adaptif sehingga mampu menjaga nilai tukar rupiah stabil dan tidak semakin terpuruk.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memprediksi kinerja penjualan eceran secara tahunan diprakirakan tetap kuat pada September 2023. Hal tersebut tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) September sebesar 200,2, atau tumbuh sebesar 1,0% (yoy). Tetap kuatnya kinerja penjualan eceran tersebut didorong oleh Subkelompok Sandang serta Kelompok Suku Cadang dan Aksesori yang tumbuh positif. Secara bulanan, pertumbuhan penjualan eceran diprakirakan mengalami kontraksi sebesar 1,9% (mtm).
Kinerja penjualan eceran pada mayoritas kelompok tercatat menurun, sementara Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi tercatat membaik meski masih terkontraksi. Pada Agustus 2023, IPR tercatat sebesar 204,1 atau secara tahunan tumbuh sebesar 1,1% (yoy).
Perkembangan ini didukung oleh Subkelompok Sandang dan Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang tercatat meningkat, serta Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang tetap tumbuh positif. Secara bulanan, penjualan eceran tumbuh positif sebesar 0,4% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 8,8%.
Peningkatan tersebut terutama berasal dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Kelompok Suku Cadang dan Aksesori dan Subkelompok Sandang sejalan dengan masih terjaganya permintaan domestik saat event Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, didukung kelancaran distribusi dan kondisi cuaca.
Dari sisi harga, tekanan inflasi pada November 2023 diprakirakan meningkat, namun diprakirakan akan menurun pada Februari 2024. Hal ini diindikasikan oleh Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) November 2023 sebesar 119,9, lebih tinggi dari periode sebelumnya sebesar 118,7. Sementara IEH Februari 2024 tercatat sebesar 129,7, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 134,0.***
Penulis : Iwan Damiri
Editor : Kamsari








