Infrastruktur

Kritisi PLN, Faisol Riza Soroti Oversupply, EBT dan Kinerja Keuangan

Kritisi PLN, Faisol Riza Soroti Oversupply, EBT dan Kinerja Keuangan
Ketua Komisi VI DPR Faisol Riza Saat Memimpin Rapat Dengar Pendapat Dengan Dirut PLN, Senin (28/3/2022)/Foto: Anjasmara

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Kalangan DPR mengungkapkan masih ada beberapa kinerja PLN yang harus didiskusikan, seperti kondisi kelebihan pasokan listrik PLN atau oversupply, di mana peningkatan pasokan listrik tidak diimbangi dengan permintaan. “Kapasitas pembangkit di Jawa Bali diperkirakan akan mencapai 61 persen dari kebutuhan dengan penambahan daya 13 GW hingga 2026. Peningkatan cadangan listrik itu disebut sebagai akibat dari banyaknya pembangkit skala besar yang akan dibangun,” kata Ketua Komisi VI Faisol Rizasaat membuka rapat dengar pendepat dengan Dirut PLN, Darmawan Prasodjo di Jakarta, Senin (28/3/2022).

Selain itu, kata Politisi PKB, permasalahan yang harus dibahas terkait kesiapan infrastruktur dan non fisik untuk mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025, yang harus dikondisikan dengan pasokan yang sudah ada dari energi fosil. “Di samping itu, kondisi keuangan PLN perlu terobosan untuk memperbaiki utang, mengubah pembangkit jadi EBT butuh dana yang sangat besar,” tambahnya.

Selanjutnya, kata Faisol, mengenai kinerja keuangan PLN sesuai laporan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) tahun 2021, di mana terjadi perbedaan signifikan antara subsidi dan realisasi rencana usaha penyediaan tenaga listrik sehingga biaya produksi melebihi kebutuhan. “Permasalahan dalam mengelola transmisi dan distribusi PLN belum melakukan evaluasi menyeluruh dan kurang mempertimbangkan biaya pokok penyediaan, dan masalah pengelolaan penjualan dan belum menetapkan tarif beban abodemen,” tutur Faisol.

Ditempat yang sama, Dirut PLN, Darmawan Prasodjo mengakui pasokan listrik mulai surplus pada 2020 lalu. Dengan demikian, PLN mengangkat Bob Saril sebagai Direktur Niaga dan Manajemen dua tahun lalu.”Tapi 2020 PLN oversupply, untuk itu dengan terpaksa ada direktur niaga,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan PLN mampu mengurangi susut jaringan listrik atau electricity losses sejak 2017 hingga 2021. Rinciannya, 9,72 persen pada 2017, 9,51 persen pada 2018, 9,32 persen pada 2019, 9,15 persen pada 2020, dan 8,59 persen pada 2021. “Durasi gangguan sebelumnya 1.000 menit per pelanggan, kami berhasil turunkan menjadi hanya 600 menit per pelanggan,” tuturnya lagi.

Kemudian, PLN mencatat total penjualan listrik sebesar 243 terawatt jam (TWh) pada 2020. Angka itu naik dari target awal yang sebesar 238 TWh hingga 239 TWh. Lalu, total penjualan listrik PLN naik menjadi 257 TWh pada 2021. Realisasi itu juga lebih tinggi dari target awal yang sebesar 249 TWh. ***

Penulis    :    Iwan Damiri
Editor      :    Kamsari

 

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top