JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Masalah kesejahteraan sosial bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah semata, namun semua pihak. Karena itulah dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan bisa menjadi stimulan bagi UMKM untuk memberdayakan para pekerja ekonomi kreatif. “Ya, saya kira dengan bekerja sama dengan perajin dan usaha ekonomi kreatif, maka CSR akan menjadi tepat sasaran,” kata Ketua umum Pegiat Pendidikan Ekonomi Kreatif (PPEKRAF), Tgk Nurliyana Habsjah Sapuan disela-sela Konferensi Nasional DNIKS berthema “Kesejahteraan Sosial: Tujuan Nasional, Kenyataan, Tantangan dan Harapan” di Jakarta, Kamis (19/6/2025).

Ketua Badan Pengarah Franky Welirang bersama Ketua Yayasan Cahaya Insani Muda Sehati(CIMS), Kevin Sanie Syahputra/Foto; DNIKS
Hadir pula dalam Direktur eksekutif Great Institute Syahganda Nainggolan, Ketua Badan Pengarah DNIKS Fransiscus Welirang, Anggota Badan Pengarah Hatta Taliwang, Ketua BPA DNIKS Siswadi Abdul Rochim, Ketua umum DNIKS A Effendy Choirie, Waketum DNIKS Zarman Syah, Dian Novita Susanto, Ketua DNIK Rudi Andries, Ali Nurdin Abdul Gani, Thamrin Ferly, Ihsanudin, A Eko Cahyono, Sudarman, Wakil Sekjen Sentot Janinto Mojo, Tetrie, Bendahara DNIKS Henny, Anggota Dewan Pakar DNIKS Dewanto Indra Krisnadi, dan Ketua Yayasan Cahaya Insani Muda Sehati (CIMS), Kevin Sanie Syahputra serta Ketua Harian CIMS, Giovane Fazli Syahputra. “Paparan Pak Franky terkait Dana CSR membuka wawasan kita, begitu besar manfaat yang bisa diperoleh,” ujarnya lagi.
Lebih jauh Liya-sapaan akrabnya mendorong agar DNIKS segera membuat MoU dengan PT Indofood untuk merealisasikan berbagai pelatihan-pelatihan UMKM dan ekonomi kreatif agar meningkatkan pendapatan keluarga usaha mikro. “Pelatihan-pelatihan itu merupakan salah satu pemberdayaan masyarakat, agar para usaha memili pengetahuan yang luas dan peningkatan skill,” paparnya.
Dikatakan Liya, PPEKRAF tentu siap dan akan aktif bersama DNIKS untuk menggandeng perusahaan-perusahaan yang terlibat peningkatan skill dan keahlian untuk UMKM. “Produk-produk ekonomi kreatif memerlukan pengembangan dan jaringan pasar yang luas,” imbuhnya.
Ditempat yang sama, Ketua Umum DNIKS A Effendy Choirie mengajak semua lembaga kesejahteraan sosial untuk bersatu padu membantu dan menyukseskan program kesejahteraan sosial. “Presiden Prabowo serius dalam meningkatkan pendapatan kesejahteraan masyarakat serta pemberantasan kemiskinan,” jelasnya.
Gus Choi-sapaan akrabnya mendorong agar DNIKS bisa berkolaborasi terkait dana CSR untuk program kesejahteran sosial tersebut. “Kita mengajak berbagai perusahaan bekerja sama memaksimalkan CSR nya melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat,” terangnya.
Ketua Badan Pengarah Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) Fransiscus Welirang mengungkapkan bahwa penyaluran dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan belum tepat sasaran, sehingga belum memiliki dampak signifikan pada kesejahteraan sosial masyarakat. “Dana CSR harusnya digunakan untuk pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan, artinya daerah dimana perusahaan tersebut beroperasi, bukan disalurkan untuk daerah lain,” katanya. “Potensi kemitraan CSR dalam mendukung pembangunan kesejahteraan sosial nasional cukup besar,” ujarnya.
Saat ini, kata Petinggi Indofood, masih ada kesalahpahaman tentang CSR, seolah-olah bahwa CSR itu sekedar publikasi sumbangan perusahaan. Padahal bukan itu. “CSR juga bukan merupakan uang sedekah atau uang sokongan,” terangnya.
Bukan hanya itu, lanjut Franky sapaan akrabnya, posisi CSR juga bukan sebagai public relation dan bukan sekedar memenuhi ketentuan pemerintah dan Undang-Undang (UU).***
Penulis : Eko Cahyono
Editor : Eko Cahyono








