Market

Indonesia Turun Kelas, Hafisz: Terlalu Nafsu Genjot Ekonomi, Tak Pedulikan Faktor Kesehatan

Indonesia Turun Kelas, Hafisz: Terlalu Nafsu Genjot Ekonomi, Tak Pedulikan Faktor Kesehatan

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Bank Dunia (World Bank) dalam kajian terbarunya mengumumkan bahwa status Indonesia masuk ke dalam kategori negara lower middle income, alias negara miskin. Jatuhnya status Indonesia ini, sebagai konsekuensi dan imbas pola kebijakan pemerintah dimasa pandemi ini yang tidak konsisten. “Dulu saya sudah protes keras dengan postur APBN yang masih mendahulukan pertumbuhan ekonomi diatas segalanya. Padahal kalau rakyat sakit mana mungkin ekonomi bisa bergerak,” kata Anggota Komisi XI DPR RI Achmad Hafisz Thohir dalam siaran persnya, Jakarta, Kamis (8/7/2021).

Menurut Hafisz lagi, hal ini gara-gara pemerintah terlalu nafsu kejar ekonomi tapi menafikan kesehatan sebagai hal yang utama harus ditangani dulu. Pemerintah galau antara dahulukan ekonomi atau kesehatan. Padahal sudah jelas kesehatan diatas segalanya. Kalau meminjam istilah Cicero filsuf Romawi kuno bahwa “Keselamatan (kesehatan jiwa) rakyat merupakan hukum tertinggi bagi suatu negara “Salus Populi Suprema Lex Esto,” ujar Politisi PAN.

Lebih jauh Hafis kembali mengingatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah tidak akan tercapai sepanjang kepentingan rakyat dalam hal ini kesehatan tidak ditangani dengan maksimal. “Hari ini kita lihat saja Covid-19 merajalela. Pertumbuhan ekonomi belum membaik. Sampai-sampai kita semua gak berani keluar rumah karena kasus Covid-19 naik tajam,” sesalnya.

Yang jelas, kata Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR, penanganan Covid-19 harus dilakukan secara extra ordinary ketimbang memikirkan pertumbuhan ekonomi, yang ujung-ujungnya juga tidak tercapai. “Situasi sekarang ini sudah tahap bahaya sekali, bahkan saat ini Indonesia sudah hampir sama dengan India,” ucapnya.

Berdasarkan data 7 Juli 2021, menunjukkan bahwa kasus terinfeksi ada di angka 34.379 dan angka kasus aktif 343.101. Indonesia juga saat ini statusnya telah masuk “alert” untuk kedatangan dibeberapa negara karena meningkatnya kasus Covid-19 sama seperti India dan Iran statusnya. “Inilah akibat pemerintah ambigu antara ekonomi dulu atau urus pandemi dulu. Karena mau ambil kedua-duanya, ekonomi tetap ingin tumbuh tinggi sambil juga ngurusin Covid-19. Ngurus Covid-19 gak bisa di “sambil-sambil”,” pungkasnya. ***

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top