Nasional

Dewan Pakar BPIP: Metadiplomasi dalam Diplomasi Pancasila Saripati Pidato Bung Karno di PBB 1960

Dewan Pakar BPIP: Metadiplomasi dalam Diplomasi Pancasila Saripati Pidato Bung Karno di PBB 1960

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COMInstitut Pemeritahan Dalam Negeri (IPDN) bekerja sama dengan Group of Research on Identities and Cultures (GRIC), Fakultas Hubungan Internasional, Universitas Le Harve, Normandy, Prancis, menyelenggarakan rangkaian konferensi akademik internasional di Bandung pada 28-29 Oktober 2025. Konferensi dalam rangka memperingati 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) ini mengusung tema “Bandung at 70: What  Assessments and What Perspectives to Build the World Anew”. Konferensi dibuka oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto dan diikuti oleh puluhan akademisi dari berbagai negara yang membawakan makalah tentang berbagai perspektif dari KAA.

Dalam sambutan pembukaannya, Wamendagri menyampaikan, Dasa Sila Bandung (Bandung Spirit) sebagai hasil KAA April 1955, dibangun sebagai kompas moral bagi semua bangsa dunia dalam menjalankan hubungan antar negara. Ini merupakan sebuah deklarasi bahwa perdamaian, keadilan dan kerja sama harus lebih diutamakan daripada konflik, penghisapan dan ketakutan. “Di tengah lansekap dunia yang berubah Bandung Spirit mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa bukan terletak pada dominasi, tetapi lebih pada dialog; bukan pada kompetisi, tetapi lebih dalam kerja sama,” kata Bima Arya.

Dalam konferensi akademik tersebut, BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) diwakili oleh Dewan Pakar Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Duta Besar Dr. Darmansjah Djumala, membawakan makalah berjudul ”Envisioning Metadiplomacy in a Divided World: Soekarno’s To Build the World Anew Revisited”. Dalam paparannya, Dubes Djumala mengingatkan bahwa tema utama konferensi ini sungguh relevan dengan pidato Bung Karno di PBB, Nerw York, 30 September 1969, yang berjudul ”To Build the World Anew”.

Dubes Djumala juga mengatakan penyelenggaraan konferensi ini tepat waktu karena PBB telah menganugerahkan penghargaan untuk pidato Bung Karno itu dengan status Memory of the World (Warisan Arsip Dunia).Ditekankan oleh Dr Djumala, yang pernah bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan PBB di Wina, dengan status tersebut, pidato Bung Karno itu terbuka bagi masyarakat internasional untuk mempelajari dan mengkajinya baik dalam tataran filosofis maupun praksisnya.

Dalam paparannya, Dr. Djumala mengungkapkan bahwa sejatinya pidato Bung Karno di PBB 1960 itu adalah tarikan benang merah sejarah dari KAA dengan Dasa Sila Bandungnya.Nilai yang terkandung dalam Dasa Sila Bandung, seperti kemerdekaan, kedaulatan, kemanusiaan, keadilan dan persatuan digaungkan kembali dan dirangkum Bung Karno dalam pidatonya yang memperkenalkan prinsip-prinsip kehidupan bangsa Indonesia yang dirumuskan dalam Pancasila.

Dalam paparannya, Dubes Djumala secara gamblang menggambarkan bahwa dewasa ini diplomasi dan hubungan luar negeri lebih banyak dilakukan dalam kalkulasi pragmatisme untung-rugi (cash and carry diplomacy), dalam logika penguasaan dan penindasan, serta dalam pertimbangan real-politik dan power exercise.Padahal, menurutnya, ada dimensi lain dalam diplomasi dan hubungan luar negeri; yaitu diplomasi berbasis nilai (value-based diplomacy). Watak diplomasi seperti ini lebih mengedepankan aspek nilai, yaitu diplomasi dengan landasan moralitas, norma dan etika (moral and ethics platform).“Diplomasi yang mengedepankan moral dan etika itu disebut dengan “metadiplomacy”, yaitu diplomasi yang diinspirasi oleh nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia, seperti terkandung dalam Pancasila. Metadiplomasi yang dijiwai oleh nilai Pancasila itulah sebenarnya saripati pidato Bung Karno di PBB pada 1960 yang lalu, ” ungkap Dubes Djumala, Kamis (30/10/2025).

Penulis  :  Hery Lazuardi

Editor    :  Hery Lazuardi

BERITA POPULER

To Top