Nasional

Bullying di Sekolah Masuk Tahap Darurat, Waspadai Penggunaan Gawai

Bullying di Sekolah Masuk Tahap Darurat, Waspadai Penggunaan Gawai
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian dalam diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema "Stop Bullying: DPR Ramu Formulasi Konkret Atasi Persoalan Mental Dunia Pendidikan", di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (20/11/2025)/Foto: John

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM—Perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan kini telah memasuki tahap darurat moral, psikologis, dan pendidikan di tengah maraknya penggunaan gawai di kalangan remaja. DPR menegaskan bahwa berbagai kasus menunjukkan dampak bullying tidak hanya melukai fisik, tetapi juga meninggalkan luka mental yang dapat menetap seumur hidup.”Kondisi ini, bukan saja membahayakan korban, tetapi juga dapat memicu dampak lanjutan kepada lingkungan sekitar apabila tidak ditangani secara tepat,” kata Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian dalam diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema “Stop Bullying: DPR Ramu Formulasi Konkret Atasi Persoalan Mental Dunia Pendidikan”, di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (20/11/2025).

Menurut Hetifah, perlindungan peserta didik dan seluruh pemangku kepentingan di satuan pendidikan harus menjadi prioritas nasional. Untuk itu, Komisi X DPR RI mendorong formulasi konkret melalui penguatan regulasi, termasuk menyisipkan bab khusus terkait pencegahan dan penanganan bullying dalam revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
“Selain regulasi, peningkatan kapasitas sekolah, penyediaan sistem pelaporan cepat, ramah anak, dan dapat dipercaya merupakan langkah penting,” ujar politikus Partai Golkar itu, seraya juga menekankan pentingnya sinergi dengan Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan, mengingat persoalan kesehatan mental menjadi keluhan masyarakat yang semakin sering muncul.

Sedangkan psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Zulvia Oktanida Syarif mengatakan berkembanganya perundungan di sekolah tidak terlepas dari perkembangan gawai. Menurutnya, meskipun gawai turut membantu proses pembelajaran, namun di sisi lain alat bantu era digital tersebut turut mempercepat disfungsi atau gangguan pada memori, perhatian dan konsentrasi peserta didik.“Kalau penggunaan gawai tidak dikontrol dengan baik maka hal itu berdampak pada lemahnya fungsi eksekutif atau daya pikir pada anak remaja sehingga mereka rapuh secara psikologi,” ujarnya.

Menurutnya, bisa jadi anak berprestasi, cerdas dan dapat ranking baik, namun mereka lemah secara psikologis dan rapuh dan bermasalah dengan kesehatan mental di sekolah. Artinya sekolah perlu menyadari bagaimana anak-anak ini memiliki kemampuan untuk meregulasi emosi kemampuan untuk mengambil Keputusan, katanya.

Pada sisi lain Zulvia mengatakan perlunya perluasan akses layanan kesehatan jiwa remaja terutama di sekolah untuk mengatasi masalah perundungan. Menurutnya, banyak remaja yang ingin mengakses layanan tapi terhambat atau tidak tahu bagaimana caranya atau bahkan tidak diizinkan oleh orang tua. “Untuk mewujudkan Indonesia Emas tidak hanya butuh generasi yang cerdas tapi juga generasi yang cerdas secara emosional,” pungkasnya.

Penulis : John Andhi Oktaveri
Editor  : John Andhi Oktaveri

BERITA POPULER

To Top