Industri & Perdagangan

Berpotensi Rugikan Negara, DPR Desak Aparat Tuntaskan Dugaan Pengoplosan LPG di Bali

Berpotensi Rugikan Negara, DPR Desak Aparat Tuntaskan Dugaan Pengoplosan LPG di Bali
Anggota Komisi VI DPR I Nyoman Parta/Foto: Dok Suarainvestor

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Anggota Komisi VI DPR I Nyoman Parta mendesak aparat kepolisian dan PT Pertamina membongkar kasus kebakaran yang terjadi di gudang eceran gas elpiji milik CV Bintang Bagus Perkasa, Desa Ubung Kaja, Denpasar. Pasalnya, gudang tersebut diduga dijadikan sebagai tempat praktik pengoplosan gas. “Saya sangat percaya dengan Pertamina, karena itu lembaga resmi yang berwenang memberikan perizinan usaha,” katanya kepada wartawan, Selasa (11/6/2024).

Lebih jauh Parta-sapaan akrabnya menegaskan bahwa dugaan praktek pengoplosan ini jelas merugikan negara. Hal ini karena mengganggu distribusi gas LPJ  kepada masyarakat, sehingga tidak tepat sasaran. “Hal lainnya, juga membuat persaingan usaha menjadi tidak sehat di lapangan,” paparnya. Ada UMKM yang beli gas LPG secara legal dan sisi lain ada yang beli oplosan, jelas ini merusak iklim usaha,” paparnya.

Legislator peraih suara terbanyak urutan 7 nasional itu memberikan contoh, misalnya ada resto UMKM yang membeli gas LPG secara legal dan sisi lain ada yang membeli oplosan, nah jelas ini merusak iklim usaha. “Bagaimana usaha resto UMKM yang resmi ini mau bersaing, sementara ada resto lain yang menggunakan gas ilegal,” terangnya seraya mempertanyakan.

Politisi dari Pulau Dewata ini menjelaskan bahwa alur distribusi gas LPJ itu dimulai dari SPBE sebagai lokasi pengisian gas, lalu gas tersebut disalurkan ke agen-agen. “Dari agen-agen ini kemudian disebarkan ke pangkalan-pangkalan,” tuturnya.

Politisi PDI Perjuangan itu mendesak kepolisian membuka kasus ini secara transparan dan jangan ada yang ditutup-tutupi, karena prasyaratnya hampir terpenuhi semua. “Terang-benderang kok ini kasusnya,” jelasnya lagi.

Pertama, ciri khas sebagai agen resmi Pertamina tidak ada di Gudang Eceran Gas Elpiji milik CV Bintang Bagus Perkasa. Kedua, mobil truk dan sejenisnya yang mengangkut LPG ke lokasi tersebut tidak ada tulisan sebagai penanda operasional resmi sebagai agen Pertamina. Ketiga, operasional kerjanya malam hari dan diduga mempekerjakan sekitar 18 orang. “Apalagi? Sudah terang-benderang urusannya bahwa itu tempat pengoplosan. Tinggal polisi tangkap otak dari pengoplosan itu,” pungkasnya.***

Penulis  : Chandra
Editor    : Chandra

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top