Market

Asperapi Jatim: Keunggulan SDM Ikut Menentukan Keberlanjutan Perusahaan

Asperapi Jatim: Keunggulan SDM Ikut Menentukan Keberlanjutan Perusahaan
Pameran Makanan dan Produk Kemasaan di Kemayoran/Foto: Iwan Damiri

SURABAYA, SUARAINVESTOR.COM– Persoalan kepemimpinan menempati posisi penting dalam keberlangsungan industri atau usaha karena menjadi penentu berkembang atau tidaknya sebuah usaha tersebut. Oleh karena itu, beberapa perusahaan memiliki ukuran atau standar  leadership yang baik itu seperti apa dan bagaimana kiat-kiatnya agar bisa menerapkan dengan baik..
“Kami punya data, ternyata 20 persen usaha baru akan gugur di tahun pertama. Sedangkan jumlah usaha yang guling tikar di tahun ke-10 ada sekitar 50 persen perusahaan. Dan hanya 30 persen saja yang berhasil bertahan dan berkembang. Masalah itu tidak akan terjadi jika memiliki strong leadership,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Jawa Timur,  Yusuf Karim Ungsi di Surabaya, Sabtu, (17/2/2024).

Untuk itu, Asperapi berkomitmen meningkatkan Sumber Daya Manusia(SDM) anggotanya melalui berbagai kegiatan, salah satunya melalui kegiatan Asperapi Jatim Leadership Program dengan tema “The Power of Leadership for Management Level” yang digelar di Jatim Expo. “Ini adalah pembekalan  leadership untuk anggota kami. Pembekalan akan membahas tentang pentingnya fungsi pimpinan dalam sebuah perusahaan, termasuk di industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition atau MICE,” ujarnya.

Apalagi menurut pengakuan Yusuf, hanya 50 persen perusahaan anggota Asperapi yang telah menetapkan manajerial yang baik, sisanya masih konvensional. “Ini bukan akhir, tetapi ini adalah pintu masuk untuk membantu mereka memperbaiki kinerja. Kalau anggota merasa perlu ditambah waktu pelaksanaannya, maka bisa dilaksanakan setiap bulan. Apalagi Kadin Jatim siap memberikan dukungan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto menegaskan bahwa  leadership  memang menjadi hal utama yang menentukan kinerja dan keberlangsungan perusahaan.

Konsep leadership pas untuk diterapkan saat ini adalah konsep transformasional leadership, yaitu konsep kepemimpinan yang mengajak seluruh SDM, untuk bersama-sama menciptakan perubahan dalam sebuah organisasi.
“Ada dua konsep  leadership, pertama transaksional leadership yang lebih menonjolkan pada aturan dan kedua transformasional leadership, yaitu menciptakan perubahan dalam organisasi secara bersama-bersama. Transformasional leadership menurut saya paling pas untuk dilaksanakan saat ini,” terang Adik lagi.

Lebih lanjut Adik kemudian memberikan contoh bagaimana mantan menteri Perhubungan Ignasius Jonan saat menjadi Dirut KAI mengajak seluruh pegawai KAI memperbaiki layanannya, termasuk kebersihan toilet dan ketertiban penumpang di kereta api. “Ini adalah model kepemimpinan transformasional, sehingga saat ini layanan kereta api menjadi sangat bagus,” katanya.

Agar konsep transformasional leadership berjalan dengan baik, maka perlu dilakukan peningkatan kualitas SDM dengan melihat perubahan zaman. “Apa yang tengah berkembang di bisnis MICE di seluruh dunia, dan juga harus terukur. Karana seringkali pebisnis MICE sudah puas ketika pameran yang diadakan ramai, padahal ini juga harus diukur lagi, bagaimana kepuasan
customer karena MICE adalah layanan dan layanan harus disempurnakan,” katanya.

Sementara Founder & CEO Surabaya Creative Design, Nurdin Mahariyanto bahwa konsep transformasional  leadership adalah yang paling pas diterapkan karena setiap generasi bertransformasi. “Dari era revolusioner, industri mulai tumbuh, kemudian berkubang ke generasi  baby boomers, kemudian ke generasi X, setelah itu ke generasi Y, ke milenial sampai ke generasi Z. Masing-masing akan bertransformasi dan berubah. Sehingga gaya kepemimpinan yang pas untuk diterapkan juga berbeda, disesuaikan dengan zamannya,” ujar Nurdin.

Tetapi ada tantangan yang harus dihadapi dalam menerapkan konsep tersebut, bahwa saat ini pekerja dari generasi Z tidak pandai beradaptasi. Mereka sangat melek teknologi hingga menjadi manusia gawai, cenderung tertutup dan introvert. Mereka lupa bahwa di sekeliling mereka juga ada manusia lain. Sehingga mereka sulit untuk bekerjasama, padahal dalam organisasi perusahaan, kerja sama adalah hal yang harus dilakukan. “Mereka bekerja juga dengan manusia yang lain, bukan hanya dengan teknologi,” ucapnya.

Ia bercerita pernah menemukan ada seorang karyawan yang berkomunikasi dengan temannya tidak dengan berbicara secara langsung tetapi melalui handphone, padahal teman tersebut ada di depannya. “Padahal bahasa teks dengan bahasa oral seringkali berbeda, sehingga sering terjadi miskomunikasi. Nah seorang leader harus bisa menjawab tantangan ini,” pungkasnya.***

Penulis : Desy (Kontributor Surabaya)
Editor   : Budiana

Print Friendly, PDF & Email

BERITA POPULER

To Top