Investasi

Rupiah Jadi Raksasa Ketiga Asia

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah juga bangkit di perdagangan pasar spot.

Pada Selasa (24/3/2020), kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 16.486. Rupiah menguat 0,73% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Penguatan ini mengakhiri rentetan pelemahan rupiah di kurs acuan BI yang sudah terjadi selama delapan hari beruntun. Dalam delapan hari tersebut, depresiasi rupiah mencapai nyaris 16%!

Sementara di perdagangan pasar spot, rupiah juga berhasil menapaki jalur hijau. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 dihargai Rp 16.474 di mana rupiah menguat 0,45%.

Kala pembukaan pasar, rupiah sudah menguat 0,3%. Seiring perjalanan, apresiasi rupiah semakin tebal dan dolar AS berhasil didorong ke bawah Rp 16.450.

Tidak hanya rupiah, berbagai mata uang utama Asia pun menguat di pasar spot. Hanya baht Thailand, dolar Taiwan, dan rupee India yang masih nyangkut di zona merah.

Penguatan 0,45% membawa rupiah menjadi mata uang terbaik ketiga di Asia. Mata uang Tanah Air hanya kalah dari won Korea Selatan dan yen Jepang.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 10:01 WIB:

Risk appetite investor yang beberapa waktu terakhir hilang kini muncul lagi. Volatilitas di pasar mereda dalam tiga hari terakhir, yang dicerminkan dari indeks VIX.

Pada 23 Maret, indeks VIX (yang juga disebut Fear Index alias indeks ketakuran) turun 6,74%. Selama tiga hari ke belakang, indeks ini anjlok 19,44%.

“VIX yang terus menurun menunjukkan psikologis pasar mulai berbalik, setidaknya dalam waktu dekat. Ini menandakan minat terhadap aset-aset berisiko akan naik, sepanjang VIX berada di bawah 82,69 seperti pada 16 Maret,” sebut riset Reuters.

Sepertinya investor menaruh harapan besar kepada stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah di berbagai negara. Stimulus ini diharapkan mampu menjaga konsumsi masyarakat di tengah perlambatan ekonomi akibat serangan virus corona.

Misalnya di AS, pemerintahan Presiden Donald Trump sedang memperjuangkan proposal paket stimulus senilai US$ 2 triliun.

Berikut adalah rincian proposal stimulus yang diajukan pemerintah Negeri Adidaya:

1. Bantuan tunai US$ 1.200 per kepala bagi mereka yang membutuhkan. Untuk keluarga yang memiliki anak, jumlahnya bisa meningkat menjadi US$ 3.000. Anggarannya adalah US$ 500 miliar.
2. Bantuan kepada usaha kecil-menengah. Anggarannya adalah US$ 350 miliar.
3. Bantuan likuiditas kepada maskapai penerbangan. Anggarannya adalah US$ 500 miliar.
4. Bantuan kepada rumah sakit dan sektor kesehatan. Anggarannya adalah US$ 75 miliar.
5. Perluasan program tunjangan pengangguran. Anggarannya adalah US$ 250 miliar.
6. Pengembangan obat serta pengadaan masker, sarung tangan, dan ventilator. Anggarannya adalah US$ 4 miliar.

“Pasar butuh kejelasan, bukan soal virus tetapi bagaimana kita merespons virus tersebut. Begitu pasar melihat kejelasan ini, maka rebound sudah pasti akan terjadi,” tegas Stephen Massocca, Senior Vice President di Wedbush Securites yang berbasis di San Francisco, seperti dikutip dari Reuters.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top