Pertanian

Rehabilitasi Berbasis Juncao Grass, DNIKS: Solusi Paska Bencana Bangkitkan Ekonomi dan Sosial Jangka Panjang

Rehabilitasi Berbasis Juncao Grass, DNIKS: Solusi Paska Bencana Bangkitkan Ekonomi dan Sosial Jangka Panjang
Wakil Ketua DNIKS Rudi Andries/Foto: DNIKS

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COMDewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) menegaskan bahwa upaya rehabilitasi lahan pasca bencana banjir di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membutuhkan pendekatan yang tidak hanya cepat, namun juga tindakan berkelanjutan. Salah satu solusi yang kini dinilai relevan adalah pengembangan Juncao Grass Complex, sebuah model pemulihan lahan yang mengintegrasikan reboisasi cepat dengan penguatan ekonomi masyarakat. “Pendekatan ini memanfaatkan rumput Juncao, tanaman berproduktivitas tinggi yang mampu tumbuh di lahan rusak dan bekas banjir, sekaligus menghasilkan biomassa untuk berbagai kebutuhan strategis mulai dari Biochar, energi berbasis biomassa, hingga pakan ternak dan pendukung ketahanan pangan,” kata Wakil Ketua Umum DNIKS, Rudi Andries kepada wartawan di Jakarta, Senin (12/1/2026).

Menurut Rudi, sejumlah penggiat kebijakan sosial dan lingkungan bahwa model dan strategi ini mampu menjawab persoalan klasik rehabilitasi pasca bencana yang selama ini cenderung bersifat tambal sulam. “Pemulihan pascabencana tidak boleh berhenti pada perbaikan fisik jangka pendek. Yang dibutuhkan adalah solusi yang memulihkan lingkungan sekaligus mengembali kan sumber penghidupan masyarakat,” ujarnya lagi.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Dalam skema Juncao Grass Complex, lanjut Rudi, bahwa masyarakat lokal bisa dilibatkan sejak awal sebagai pengelola utama melalui koperasi (Merah Putih) atau BUMDes. Dalam waktu relatif singkat—sekitar enam hingga dua belas bulan—lahan yang sebelumnya rusak dapat kembali produktif dan mulai menghasilkan pendapatan. “Biomassa rumput Juncao dapat diolah menjadi pakan ternak untuk sapi, kambing, dan unggas, sehingga menekan biaya produksi peternak rakyat,” jelasnya.

Di saat yang sama, sambung Rudi, pemanfaatannya sebagai bahan baku biochar dan energi berbasis biomassa membuka peluang ekonomi baru di tingkat desa. “Ini bukan sekadar program lingkungan. Ini adalah mesin ekonomi lokal yang bekerja di atas lahan yang sebelumnya dianggap tidak lagi bernilai,” tuturnya.

Pemulihan Lingkungan Berkelanjutan

Dari sisi ekologis, rumput Juncao berfungsi sebagai penutup lahan cepat yang mampu mengurangi erosi, memperbaiki struktur tanah, dan menurunkan risiko bencana lanjutan seperti banjir dan longsor. Biochar yang dihasilkan juga berperan memperbaiki kualitas tanah pertanian dan menyimpan karbon dalam jangka panjang.

Pendekatan ini dinilai selaras dengan agenda nasional transisi energi, ketahanan pangan, serta komitmen pengurangan emisi, tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat terdampak bencana.

Potensi Bisa Jadi Legacy Kebijakan Presiden

Penanaman rumput Juncao secara disiplin dan terukur, jika diadopsi secara luas dan konsisten, model rehabilitasi berbasis Juncao ini dapat menjadi salah satu legacy kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam penanganan bencana dan pembangunan berkelanjutan. “Jika disambut Presiden Prabowo melalui pendekatan kebijakan yang tegas dan berorientasi hasil adalah perubahan paradigma: dari sekadar respons bencana menjadi pembangunan ketahanan pasca bencana,” kata Rudi.

Menurutnya, kebijakan semacam ini menunjukkan bahwa negara hadir bukan hanya untuk memulihkan, tetapi juga memastikan masyarakat bangkit dengan fondasi ekonomi dan lingkungan yang lebih kuat. “Kalau dijalankan dengan disiplin dan skala yang tepat, ini bisa menjadi model mitigasi bencana yang dampaknya bukan hanya jangka panjang, tapi nyaris permanen—karena masyarakatnya menjadi mandiri dan lingkungannya pulih,” ujarnya.

Replikasi Nasional
Model Juncao Grass Complex dinilai dapat direplikasi di berbagai daerah rawan bencana di Indonesia, dengan menyesuaikan karakter lokal masing-masing wilayah. Pendekatan ini juga membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha melalui program CSR/TJSL, serta komunitas lokal.

Dengan kombinasi pemulihan ekologis dan penguatan ekonomi rakyat, solusi ini diharapkan menjadi contoh bagaimana kebijakan publik yang dirancang secara matang mampu menjawab tantangan bencana secara cepat, tepat, dan berkelanjutan.
“Negara tidak boleh membiarkan lahan pascabencana menjadi sumber kemiskinan baru dan ancaman bencana berulang. Saya perintahkan percepatan rehabilitasi lahan banjir melalui Juncao Grass Complex sebagai solusi cepat, produktif, dan berbasis rakyat. Program ini harus menghasilkan pemulihan ekologis, energi bersih, pangan, dan pendapatan nyata dalam waktu tidak lebih dari dua tahun. Setiap rupiah yang dikeluarkan negara dan CSR harus berubah menjadi aset produktif komunitas. Tidak ada proyek simbolik. Tidak ada lahan menganggur. Fokus pada hasil, disiplin eksekusi, dan keberlanjutan nasional,” instruksi Presiden Prabowo seperti yang diimpikan Rudi.***

Penulis : Eko Cahyono
Editor   : Eko Cahyono

BERITA POPULER

To Top