Market

Rayakan Idul Adha 1447 H, Rudi Hartono: Mampu Menggerakan Ekonomi Kerakyatan

Rayakan Idul Adha 1447 H, Rudi Hartono: Mampu Menggerakan Ekonomi Kerakyatan
Anggota Komisi VI DPR Rudi Hartono Bangun/Foto: eko

JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM-Ibadah ritual Idul Adha merupakan salah satu bentuk konkret bagaimana nilai keagamaan dapat mendorong pemerataan ekonomi. Tidak hanya itu, bahkan mampu menggerakan pemberdayaan masyarakat, dan sirkulasi ekonomi berbasis rakyat. “Di sini terjadi distribusi kekayaan secara langsung. Pasalnya, penyembelihan hewan sapi, kambing, atau domba langsung dibagikan untuk masyarakat,” kata Anggota Komisi VI DPR Rudi Hartono Bangun kepada wartawan di Jakarta, Selasa (26/5/2026)

Dalam perspektif ekonomi kerakyatan, kata Rudi, dimana orang yang berkecukupan alias mampu membeli hewan qurban dari peternak rakyat. Kemudian, panitia lokal mengelola distribusi dan menyalurkan daging itu untuk masyarakat kecil. “Kegiatan ini menimbulkan daya beli, pemerataan konsumsi, dan redistribusi kekayaan. Jadi sejalan dengan prinsip ekonomi kerakyatan yang menekankan “ekonomi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.”,” terangnya.

Disisi lain, Legislator dari Dapil Sumut III ini menjelaskan bahwa Idul Adah memiliki nilai solidaritas sosial. Hal ini karena ekonomi kerakyatan tidak hanya bicara soal uang, tetapi juga menyangkut keadilan sosial, solidaritas dan kesejahteraan bersama. “Idul Adha mengajarkan soal berbagi kepada fakir miskin, mengurangi kesenjangan sosial, memperkuat ikatan sosial masyarakat,” jelasnya.

Politisi Nasdem ini menambahkan bahwa biasanya menjelang Idul Adha, permintaan hewan ternak meningkat drastis. Sehingga menimbulkan dampaknya transaksi penjualan hewan ternak meningkat. “Semua rakyat mendapat keuntungan, mulai dari peternak kambing/sapi, lalu pedagang rumput dan pakan ikut hidup, jasa transportasi ternak meningkat, pasar hewan ramai,
tukang jagal, UMKM olahan daging ikut berkembang,” paparnya.

Lebih jauh Rudi menjelaskan bahwa ekonomi kerakyatan sangat bergantung pada perputaran uang di masyarakat bawah. Sehingga momentum Idul Adha akan menjadi alat musim panen ekonomi rakyat. Disini ekonomi bergerak dari bawah, bukan hanya dari perusahaan besar. Dengan kata lain, Idul Adha mampu menciptakan ekonomi berbasis gotong royong, bukan ekonomi yang terpusat pada elite modal.

Yang tidak kalah penting, sambung Rudi, kegiatan Idul Adha mampu menggerakkan ekonomi sirkular. Hampir seluruh bagian hewan qurban memiliki nilai ekonomi mulai dari daging, kulit, tulang, tanduk hingga kotoran ternak. Semua ini bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai tambah, misalnya kerajinan, pupuk organik, gelatin, kaldu, tepung tulang, bahan industri kreatif. “Artinya Idul Adha juga berkaitan dengan ekonomi kreatif dan ekonomi sirkular. Pun begitu, limbah tidak dibuang begitu saja, tetapi diolah menjadi nilai tambah,” pungkasnya.***

Penulis  :    Eko Cahyono

Editor    :   Eko Cahyono

 

 

 

BERITA POPULER

To Top