Opini

Mengenang Poros Tengah, Buya Syafii dan Gus Dur

Andi Jamaro Dulung/Kumparan.com

*) Dr Andi Jamaro Dulung

Pertengahan 1998, kumpul aktifis Pemuda Islam yang tergabung dalam Forum Generasi Muda Islam (GEMUIS) di Kantor Kementerian Agama Jl. Thamrin. Diskusi menyimpulkan. “Islam tidak bisa berkuasa karena Gus Dur lebih senang bergabung dengan minoritas ketimbang menyatu dengan Islam.”

“Gus Dur di sana dengan pangkat Jenderal, susah Gus Dur bergabung di sini jika hanya disematkan pangkat kopral,” sergah saya. “Hadirkan Gus Dur di sini dan kita jadikan beliau Jenderal,” kata Syafrudin Anhar dari Pemuda Muhammadiyah.

“Caranya gimana?” tanya Muchlis dari Matlaul Anwar. “Pertemukan Gus Dur dengan Buya Syafii,” kata Syahrirsyah dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). “Ok, siapa yang mengatur pertemuannya?” kata saya. Serempak forum menyebut, “sudah Bang Andi Jamaro saja.

“Tiba tiba Buya Syafii datang, karena ingin mengikuti pertemuan atas undangan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Saya langsung melaksanakan tugas. Saya mencegat beliau di depan pintu masuk. “Assalamualkum Buya,” ucap saya dengan suara lantang.

“Waalaikumussalam, kamu Ansor kan?” sambut Buya Syafii dengan wajah yang sangat ramah. “Iya Buya” Jawabku. “Ada hal penting ini Buya,” ucapku lagi. “Apa itu apa itu?” tanya Buya.

Setengah berbisik saya menyampaikan bahwa Gus Dur ingin sekali ketemu dengan Buya. Agak terperangah beliau mendengarnya, kemudian mengatakan negeri ini sangat genting, kalau Gus Dur ingin ketemu saya. “Atur yaa.. Atur yaa,” perintah Buya. “Insyaallah Buya,” jawabku dengan tegas.

Saat Buya masuk ruang pertemuan, saya langsung menelpon Gus Dur melalui Asprinya, yakni Aris Junaidi.
Begitu nyambung dengan Gus Dur, saya langsung sampaikan. “Gus, baru saja saya ketemu Pak Syafii Maarif, beliau pingin sekali ketemu Gusdur”.

Lalu Gus Dur menjawab “Bagus itu Ndi, atur sepulang saya dari Bali” kata Gusdur. “Insyaallah Gus”. Dengan penuh rasa optimisme, hatiku berguman “Insyaallah pertemuan dua tokoh representasi dua ormas terbesar akan terjadi.”

Buya Syafii dan Gus Dur tidak tahu kalau keinginan mempertemukan keduanya hanyalah rekayasa anak muda. Dari situ, saya kembali ke kawan-kawan GEMUIS dan melaporkan hasil yang dicapai dalam waktu kurang dari 10 menit. Kemudian dibentuklah tim kecil, yakni Andi Jamaro, Ansor (NU), Syafrudin Anhar (Pemuda Muhammadiyah) dan Ali Muchtar Ngabalin, PII (Masyumi).

Setelah tiba waktu yang disepakati, tiga orang menjemput Buya Syafii di Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Karena waktu itu, Buya sebagai Anggota DPA. Singkatnya terjadilah pertemuan antara Buya Syafii dengan Gus Dur di PBNU. Pulang dari PBNU langsung menuju Gedung Da’wah Muhammadiyah di Menteng.

Saya yang menyetir mobil dan Buya berada di samping. Lalu, Anhar dan Ali berada di belakang. “Apa hasilnya dengan Gusdur tadi Buya?” tanya saya. “Biasa saja, hampir semuanya kelakar, kecuali satu yang agak serius” kata Buya.

“Apa yang serius Buya?” Tanya Ali Muchtar. “Dia mau jadi presiden,” kata Buya sambil tersenyum khas. Sebelum kami merespon, Buya melanjutkan “Kalau saya setuju, jadi dia,” tegasnya dengan nada suara sambil menunjuk ke atas.

Sesampai di gedung da’wah. Buya bagaikan jenderal membagi tugas dan memerintahkan tiga orang itu mengambil peran masing-masing. Pertama, Ali Muchtar untuk menghubungi Yusril dan Fuad Bawazir.  Kedua, Anhar untuk mengontak Amin Rais agar menyampaikan bahwa Buya mengundang pertemuan di Menteng. Ketiga, Andi Jamaro untuk segera mempersiapkan Gus Dur untuk menerima undangan kami. Terjadilah pertemuan malam itu di Menteng. Kemudian, dilanjutkan ba’da subuh di rumah Gus Dur di Ciganjur.

Itulah cikal bakal Poros Tengah yang menghasilkan; Gus Dur jadi Presiden, kemudian Amin Rais menjadi Ketua MPR, Akbar Tandjung menjadi Ketua DPR. SementaraBuya Syafii tetap di luar arena. Selamat ulang Tahun Buya.***

 

*) Mantan Ketua GP Ansor/Ketua PBNU

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top