JAKARTA, SUARAINVESTOR.COM – Menanggapi tewasnya puluhan orang dan ratusan terluka akibat bentrokan antara umat Hindu dan umat Muslim di timur Ibu Kota New Delhi, India, pada Selasa (25/2/2020) lalu, anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin, semua harus menahan diri.
Kerusuhan itu berawal dari aksi demonstrasi menentang UU Kewarganegaraan yang mengizinkan India memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan.
Namun, UU itu hanya berlaku bagi imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Muslim. “Kita percayakan sepenuhnya pada Pemerintah India untuk mengambil alih situasi. Saya yakin pemerintah India dapat mengambil langkah-langkah strategis agar konflik tak meluas,” demikian TB Hasanuddin dalam keterangannya, Jumat (28/2/2020).
Meski demikian, politisi PDI-P itu berharap, keadilan juga harus ditegakkan karena ini masalah hak yang paling mendasar dan universal, yaitu beragama. “Saya yakin Pemerintah India dapat mengatasi konflik ini dan segera mengambil langkah tepat untuk meredam bentrokan agar tak meluas,” ujarnya.
Karena itu, dia mengimbau agar warga negara Indonesia yang berada di India tetap tenang, agar semua pihak yang berkepentingan di India untuk menahan diri. “WNI yang di India saya imbau agar tetap tenang dan tak beraktivitas di luar sampai kondisi mereda,” ungkapnya.
Selain UU Kewarganegaraan, pertikaian antara umat Muslim dan Hindu di India juga kerap dipicu masalah konsumsi sapi. Umat Muslim menganggap sapi adalah hewan yang halal untuk dikonsumsi. Sedangkan umat Hindu menganut ajaran vegetarian karena tidak memakan bahan makanan dari sumber yang bernyawa. Seperti binatang ternak itu.
Sebelumnya Perdana Menteri India, Narendra Modi meminta warga tenang. Di tengah bentrokan tersebut menewaskan 27 orang dan lebih dari 200 orang terluka. “Saya mengimbau saudara dan saudari saya di Delhi untuk menjaga perdamaian dan persaudaraan setiap saat. Sangat penting. ketenangan dan normalitas dipulihkan saat ini,” kata Modi dalam cuitannya, Rabu (26/2).








